Isu dugaan pemukulan yang menyeret nama Pangkopassus Letjen TNI Djon Afriandi terhadap seseorang yang kemudian dikaitkan sebagai Sekretaris Kabinet Letkol Teddy Indra Wijaya, ramai di media sosial.
Narasi yang beredar menyebut insiden itu terjadi di lingkungan Istana.
Menanggapi kabar tersebut, pihak Komando Pasukan Khusus (Kopassus) secara tegas membantah seluruh tudingan yang beredar.
Melalui keterangan resmi, Kopassus menegaskan bahwa informasi yang beredar tidak memiliki dasar fakta dan dikategorikan sebagai hoaks.
"Hoaks," demikian yang tertulis di akun Penerangan Kopassus dan dikutip pada Selasa (21/4/2026).
Kopassus menyebut narasi tersebut muncul dari sumber yang tidak jelas dan tidak dapat diverifikasi.
Bahkan, informasi yang berkembang dinilai cenderung bersifat spekulatif serta tidak didukung bukti konkret mengenai peristiwa yang dituduhkan.
Kopassus turut mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi, terlebih jika bersumber dari media sosial.
Penyebaran kabar yang tidak akurat dinilai berpotensi menimbulkan kesalahpahaman serta merusak kepercayaan publik terhadap institusi negara.
Isu ini sendiri mencuat dari unggahan di platform digital, oleh akun @retailman69, yang memposting Letjen Djon melakukan tindak kekerasan terhadap seseorang yang disebut sebagai Bunted karena dibiarkan menunggu di luar ruangan Presiden Prabowo Subianto di Istana selama 20 menit.
Sedangkan, Prabowo sudah menunggunya di dalam ruangan.
Namun, narasi tersebut berkembang tanpa konfirmasi resmi dari pihak terkait dan akhirnya menyebar luas.
Berikut profil Letjen TNI Djon Afriandi selengkapnya:
Djon Afriandi ditunjuk sebagai Panglima Kopassus TNI AD dan naik pangkat menjadi Letnan Jenderal (Letjen) berdasarkan Perpres 84/2025 yang diteken 5 Agustus lalu, Kopassus dipimpin perwira tinggi bintang tiga (Letjen).
Djon Afriandi merupakan seorang perwira tinggi TNI-AD yang sejak 10 Agustus 2025 menjabat sebagai Panglima Kopassus.
Baca tanpa iklan