News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Reshuffle Kabinet Prabowo Gibran

Kritik Reshuffle Kabinet Prabowo-Gibran, Emrus Nilai Qodari dan Hasan Nasbi Belum Tepat

Penulis: Facundo Chrysnha Pradipha
Editor: Wahyu Gilang Putranto
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

TRIBUNNEWS.COM – Presiden Prabowo Subianto resmi mengumumkan dan melantik sejumlah pejabat dalam reshuffle kabinet, dengan sorotan utama pada sektor komunikasi pemerintahan, pada Senin (27/4/2026).

Dalam susunan terbaru, Muhammad Qodari ditunjuk sebagai Kepala Badan Komunikasi Pemerintah, sementara Hasan Nasbi dipercaya sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi.

Selain itu, Presiden juga menunjuk Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman sebagai Kepala Staf Kepresidenan (KSP).

Penunjukan dua figur di bidang komunikasi itu langsung menuai sorotan dari komunikolog Emrus Sihombing.

Ia menilai komposisi tersebut belum tepat untuk menjawab tantangan komunikasi publik pemerintah ke depan.

Emrus menyoroti latar belakang pendidikan dan keilmuan Qodari serta Hasan Nasbi yang dinilai tidak spesifik di bidang komunikasi.

“Kalau kita bicara pengelolaan komunikasi publik pemerintah, seharusnya diisi oleh orang yang memang memiliki latar belakang ilmu komunikasi,” ujar Emrus kepada Tribunnews.

Menurutnya, penempatan Qodari sebagai Kepala Badan Komunikasi Pemerintah kurang relevan dengan basis keilmuan yang dimilikinya.

Baginya, Qodari lebih tepat ditempatkan di sektor lain yang selaras dengan latar belakang psikologi dan politiknya.

Hal serupa juga disampaikan terkait Hasan Nasbi. Emrus menilai posisi strategis di bidang komunikasi membutuhkan kompetensi akademik dan pengalaman yang lebih spesifik.

Selain aspek kompetensi, Emrus juga mengkritik gaya komunikasi kedua tokoh tersebut yang dinilai berpotensi menjadi kendala.

Baca juga: BREAKING NEWS: Presiden Rombak Kabinet, Jenderal Dudung Dilantik Jadi KSP, Jumhur Menteri LH

Ia menyebut Qodari cenderung mengedepankan pendekatan defensif dalam menyampaikan pesan publik.

“Banyak pandangan beliau yang sifatnya membela, bukan membuka ruang dialog,” katanya.

Sementara itu, Hasan Nasbi dinilai memiliki kecenderungan komunikasi yang lebih ofensif atau menyerang dalam merespons isu publik.

Padahal, menurut Emrus, pengelolaan komunikasi pemerintah idealnya mengedepankan dialog dan dialektika, terutama dalam menghadapi kritik masyarakat.

Halaman
123
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini