News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur

Cegah Tabrakan Kereta Terulang, Pengamat Sarankan KAI Gunakan Teknologi Automatic Train Protection

Penulis: Fransiskus Adhiyuda Prasetia
Editor: Wahyu Aji
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

EVAKUASI KORBAN - Konidisi kereta yang bertabrakan antara KRL Commuterline dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). TRIBUNNEWS/HERUDIN

Ringkasan Berita:

  • Joni Martinus merekomendasikan penerapan Automatic Train Protection (ATP) pada kereta untuk mengurangi risiko human error dengan kemampuan mengontrol dan menghentikan kereta secara otomatis.
  • Ia menegaskan prinsip bahwa bisnis perkeretaapian adalah bisnis keselamatan, sehingga tidak ada kompromi dalam penerapan standar keamanan operasional.
  • Selain teknologi, pembinaan dan pengawasan SDM operasional harus diperketat agar seluruh prosedur dan regulasi keselamatan dijalankan secara konsisten.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Belajar dari kecelakaan hebat di Stasiun Bekasi Timur, pengamat transportasi perkeretaapian Joni Martinus memberikan rekomendasi kuat terkait pemutakhiran teknologi keselamatan kereta api di Indonesia.

Joni menyarankan agar seluruh rangkaian kereta api mulai dilengkapi dengan teknologi Automatic Train Protection (ATP).

Teknologi ini diklaim mampu meminimalisir dampak kelalaian manusia (human error).

Hal itu disampaikan Joni Martinus dalam program On Focus Tribunnews, Selasa (28/4/2026).

"ATP adalah fitur keselamatan yang bisa mengambil alih kontrol kereta api dalam kondisi darurat. Jika masinis lalai atau melanggar sinyal, sistem ini secara otomatis akan menurunkan kecepatan hingga menghentikan kereta," kata Joni.

Joni menekankan bahwa dalam dunia perkeretaapian, tidak ada toleransi bagi aspek keselamatan.

Ia menyebut prinsip ‘Bisnis Perkeretaapian adalah Bisnis Keselamatan’ harus dipegang teguh oleh seluruh jajaran operasional.

Selain peningkatan teknologi, ia juga menuntut adanya evaluasi ketat terhadap sumber daya manusia (SDM), terutama di jajaran frontliner.

"Pembinaan SDM di jajaran operasional harus diperketat agar mereka memastikan regulasi dijalankan dengan sebenar-benarnya. Komitmen bersama untuk menegakkan SOP dan pengawasan regulasi adalah kunci utama," tegasnya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini