TRIBUNNEWS.COM – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan kekacauan geopolitik dunia sudah terjadi sejak satu dasawarsa silam.
Adapun saat ini dunia sedang dilanda krisis minyak akibat perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran. Perang itu menyebabkan terganggunya akses keluar masuk Selat Hormuz yang menjadi jalur vital pengiriman minyak dunia.
“Memang kondisi geopolitik ini terjadi sudah sejak tahun 2016-2017 ketika terjadi perang dagang antara Cina dan Amerika, dan itu terjadi terus sampai sekarang terjadi ketegangan di Timur Tengah,” kata Bahlil dalam pidatonya pada forum “Sinergi Alumni IPB untuk Bangsa” di Hotel Borobudur, Jakarta, Sabtu, (2/5/2026).
Menurut Bahlil, di tengah kekacauan geopolitik itu, semua negara mencari jalan keselamatan masing-masing.
Dia kemudian membuat lelucon tentang blokade di Selat Hormuz yang mengerek harga minyak. Bahlil membandingkan Hormuz dengan Hermes, merek barang mewah yang berasal dari Prancis.
“Saya sering membuat anekdot. Antara Selat Hormuz dan Hermes ini beda-beda tipis. Dua-duanya mahal soalnya,” ujar Bahlil.
Bahlil: Ketahanan energi RI baik
Mengenai kondisi sektor energi Indonesia, Bahlil menyebut Indonesia menjadi salah satu negara dengan ketahanan energi terbaik.
“J.P. Morgan mengeluarkan data dia yang dikutip beberapa media bahwa dari 52 negara yang disurvei, Indonesia menempati urutan kedua setelah Afrika Selatan sebagai negara dengan ketahanan energi terbaik,” ucap dia.
Dia kemudian mengungkapkan riwayat lifting minyak Indonesia. Lifting minyak adalah volume minyak dan gas bumi yang telah diproduksi, diproses, dan siap untuk dijual atau diserahkan di titik penyerahan.
“Kalau kita lihat lifting minyak kita dari 1996-1997 sampai dengan 2025, [tahun] 1996-1997 itu lifting kita mencapai sekitar 1,5 sampai 1,6 juta barel per hari. Konsumsi kita itu hanya 500.000 barel per hari dan kita ekspor kurang lebih sekitar 1 juta barel per hari. Itu adalah puncak APBN kita dibiayai pada sektor migas pada tahun 1996-1997, [mencapai] 43 persen,” katanya.
Baca juga: Pastikan Stok BBM Dalam Negeri Aman, Bahlil Lahadalia Klaim Minyak dari Rusia Sebentar Lagi Tiba
Bahlil berkata ketika reformasi terjadi, Dana Moneter Internasional (IMF) memberikan saran kepada Indonesia mengenai pengelolaan migas. Selanjutnya, dilakukanlah revisi undang-undang migas. Hal tersebut membuat lifting minyak Indonesia terus turun.
“Dan terakhir di tahun 2025, dalam sejarah bangsa kita, 10 tahun terakhir tidak pernah lifting itu, lifting pertama kali kita melampaui target APBN selama 10 tahun terakhir,” katanya.
Menurut Bahlil, konsumsi minyak Indonesia mencapai 1,6 juta barel per hari. Adapun lifting minyak Indonesia hanya 605.000 barel per hari. Oleh karena itu, Indonesia perlu mengimpor sekitar 1 juta barel minyak per hari.
Stok BBM dalam negeri diklaim aman
Bahlil mengatakan di tengah kondisi geopolitik yang tak menentu, pemerintah akan terus menjamin ketersediaan semua BBM di dalam negeri. Dia juga memastikan stok BBM dalam negeri sudah aman.
Baca tanpa iklan