TRIBUNNEWS.COM - Jurnalis senior, Lukas Luwarso, menilai langkah takedown yang dilakukan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) terhadap video Ketua Majelis Syura Partai Ummat, Amien Rais tentang Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya, menggambarkan pemerintahan otoriter.
Alasan Komdigi melakukan hal itu sebelumnya karena mereka menilai video Amien Rais tersebut merupakan ujaran kebencian dan fitnah.
Dirjen Komunikasi Publik dan Media Kemkomdigi, Fifi Aleyda Yahya, menyatakan informasi yang tidak berbasis fakta tidak bisa dianggap sebagai bagian dari kebebasan berpendapat.
Oleh karena itu, Komdigi memutuskan untuk menurunkan atau takedown konten video Amien Rais berjudul 'Jauhkan Istana dari Skandal Moral' yang di dalamnya berisi tudingan hubungan tidak lazim antara Presiden Prabowo Subianto dengan Teddy Indra Wijaya.
Namun, langkah Komdigi itu dinilai Lukas sebagai cara otoriter dalam negara yang menganut sistem demokrasi ini.
"Saya rasa itu apa yang dilakukan Komdigi itu sudah masuk wilayah pemerintahan yang menggunakan cara-cara otoriter, cara-cara sensor," katanya, dikutip dari YouTube Abraham Samad SPEAK UP, Minggu (10/5/2026).
"Kalau kita belajar dari sejarah sensor di zaman Orde Baru dan sampai sekarang di negara-negara otoriter, itu hanya efektif kalau memang sistemnya betul-betul tertutup, sistemnya totaliter, ketika sudah disensor, tidak ada alternatif lain, informasi lain," tambahnya.
Hal tersebut, menurut Lukas sangat berbeda dengan zaman sekarang. Lukas mengatakan bahwa Amien Rais kini justru seperti dibungkam.
Namun, ironinya, hal ini justru meningkatkan rating Amien Rais di media sosial karena pernyataannya itu menjadi ramai.
"Jadi kalau Amien Rais mencalonkan jadi presiden, dia akan masuk itu karena sekarang dia menjadi trending topik kan dan itu terbukti isu tentang Teddy yang disuarakan oleh Amien Rais sekarang justru semakin membesar, semakin heboh," kata Lukas.
"Itu kesalahan pendekatan-pendekatan gaya otoriter yang mengalami anakronisme, jadi menggunakan cara-cara di era yang salah gitu. Kalau dulu di era Soeharto, belum ada internet, media bisa ditutup dan enggak bisa apa-apa, ya mungkin selesai isu itu ya. Tapi kalau ini enggak, akan makin membesar," jelasnya.
Baca juga: Pernyataan Amien Rais Disebut Sudah Melewati Batas dan Tak Berbasis Fakta
Adapun, Amien Rais sebelumnya menyampaikan bahwa Teddy Indra Wijaya yang menjabat sebagai Seskab itu kerap bertindak melampaui jabatannya.
Bahkan, Amien Rais mengunggah video pernyataan berisi tudingan terhadap Presiden Prabowo dan Teddy Indra Wijaya.
Tudingan Amien Rais kemudian ditanggapi oleh Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman yang menyebut pernyataan beliau sebagai fitnah dan provokasi.
Baca tanpa iklan