TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pendidikan Menengah Kepemimpinan Nahdlatul Ulama (PMKNU) kembali menjadi sorotan setelah sejumlah tokoh NU seperti Gus Miftah, Gus Yusuf Chudlori, dan KH Imam Jazuli mengikuti langsung kegiatan kaderisasi di Cirebon yang berlangsung pada 13–17 Mei 2026.
Program ini merupakan salah satu jenjang penting dalam sistem kaderisasi Nahdlatul Ulama (NU) yang bertujuan mencetak pemimpin berwawasan ke-NU-an serta berideologi Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).
PMKNU juga menjadi jembatan antara kaderisasi dasar (PD-PKPNU) dan jenjang lanjutan dalam struktur kaderisasi NU.
PMKNU dirancang sebagai ruang pembentukan karakter kepemimpinan, bukan sekadar pelatihan formal organisasi. Melalui program ini, NU menekankan penguatan ideologi, kapasitas kepemimpinan, serta pemahaman kebangsaan bagi para kader.
Pendakwah Gus Miftah menegaskan bahwa PMKNU memiliki peran strategis dalam membentuk kader NU yang tidak hanya memahami organisasi, tetapi juga siap menjadi penggerak masyarakat.
“PMKNU merupakan program kaderisasi atau pelatihan kepemimpinan di lingkungan Nahdlatul Ulama untuk mencetak kader NU yang punya wawasan ke-NU-an, kuat secara ideologi Aswaja, mampu memimpin organisasi, memahami kebangsaan, dan siap menjadi penggerak masyarakat,” ujar Gus Miftah dalam keterangan yang dikutip, Kamis (14/5/2026).
Ia menambahkan, di tengah dinamika sosial yang semakin kompleks, NU membutuhkan kader yang adaptif tanpa meninggalkan nilai dasar Ahlussunnah wal Jamaah.
Menurutnya, PMKNU menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan nilai-nilai ke-NU-an agar tetap relevan di berbagai zaman.
Dalam berbagai forum, PMKNU juga kerap disebut sebagai ruang lahirnya kader-kader potensial dari berbagai latar belakang.
“PMKNU sering menjadi tempat lahirnya aktivis NU, politisi, dai, penggerak sosial, hingga calon pemimpin daerah maupun nasional dari kultur pesantren dan NU,” ungkap Gus Miftah.
Hal ini menunjukkan bahwa PMKNU tidak hanya berdampak pada internal organisasi, tetapi juga memiliki kontribusi terhadap pembentukan kepemimpinan di tingkat masyarakat luas.
Momen Kaderisasi di Cirebon
Dalam kegiatan di Cirebon tersebut, Gus Miftah, Gus Yusuf Chudlori, dan KH Imam Jazuli tampak kompak mengenakan kemeja putih dengan peci hitam khas santri. Kegiatan berlangsung di bawah bimbingan instruktur senior PBNU, KH Masyhuri Malik.
Kehadiran para tokoh NU dalam satu forum kaderisasi ini dinilai memperkuat makna PMKNU sebagai ruang pembinaan kepemimpinan yang serius, bukan sekadar agenda formal organisasi.
PMKNU juga dipandang sebagai simbol penting dalam proses regenerasi kepemimpinan di tubuh Nahdlatul Ulama. Program ini membekali peserta dengan materi kepemimpinan, penguatan ideologi Aswaja, wawasan kebangsaan, hingga kemampuan manajerial organisasi.
Baca tanpa iklan