"Kita tidak mengantisipasi mereka mau menyerang kita, tapi apa yang saya sampaikan ini, kita ingin menjaga kedaulatan negara kita. Dan kita membangun kemampuan kita ini untuk mengawal ini semua," ucapnya.
Sjafrie mengatakan pemerintah menargetkan pembangunan 150 batalyon setiap tahun untuk memenuhi kebutuhan pengamanan di seluruh kabupaten.
Dirinya optimistis pada 2026 seluruh wilayah kabupaten di Pulau Jawa sudah memiliki satu batalyon infanteri teritorial pembangunan.
Selain menjaga keamanan, batalyon teritorial juga disebut berperan memperkuat kehidupan sosial masyarakat.
Sjafrie menyebut prajurit yang bertugas berasal dari beragam latar belakang, termasuk pesantren dan komunitas lintas agama, sehingga mampu membangun kedekatan dengan warga.
"Prajurit kita yang satu batalyon itu 1.190 orang itu terdiri dari mereka yang dari pesantren, dan bagaimana rohaniawan non muslim itu masuk ke gereja bersama-sama masyarakat, bersama-sama dengan masyarakat adat. Di masjid bisa jadi khatib dan imam di masjid. Jadi masyarakat mesra, hangat dengan batalyon teritorial ini," katanya.
Lebih lanjut, Sjafrie juga menilai keberadaan batalyon memberikan dampak positif di bidang pendidikan dan ekonomi daerah.
Prajurit disebut turut membantu kegiatan belajar mengajar di sekolah hingga mendukung penguatan usaha kecil dan menengah (UKM).
"Kemudian dalam bidang ekonomi khususnya UKM, terima kasih bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian kepada kami, sehingga anggaran untuk kehidupan prajurit ini bisa dirasakan oleh rakyat," pungkasnya.
Baca tanpa iklan