TRIBUNNEWS.COM - Hari Teh Internasional yang diperingati setiap tanggal 21 Mei, layak dijadikan momentum untuk melihat kembali perjalanan panjang teh, mulai dari perkebunan hingga akhirnya hadir dalam keseharian masyarakat di Indonesia.
Teh telah lama menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia. Menyuguhkan teh kepada tamu menjadi simbol keramahan yang lekat dalam keseharian berbagai keluarga Indonesia. Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) BPS 2023 – 2024 juga menunjukkan bahwa teh merupakan minuman kedua yang paling banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia setelah air putih.
Namun tidak semua daun teh muda berakhir menjadi minuman teh berkualitas. Menurut Food and Agriculture Organization (FAO), faktor seperti ketinggian lahan, suhu udara, curah hujan, dan kelembapan memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan tanaman teh serta profil rasa yang dihasilkan.
Perkebunan di dataran tinggi dengan suhu lebih sejuk umumnya menghasilkan daun teh dengan pertumbuhan lebih lambat dan menghasilkan karakter dengan aroma yang lebih khas dan wangi.
Dalam industri teh, pertumbuhan yang lebih lambat justru dianggap ideal karena memberi tanaman lebih banyak waktu untuk membentuk senyawa alami seperti polifenol, asam amino, dan minyak esensial.
Senyawa inilah yang berperan dalam menciptakan aroma yang kaya, lapisan rasa yang lebih mendalam, serta karakter seduhan yang halus. Kabut di kawasan pegunungan juga membantu menyaring paparan sinar matahari langsung, sehingga tanaman dapat berkembang lebih optimal tanpa menghasilkan sensasi yang terlalu tajam saat diminum.
Pemahaman terhadap proses alami tersebut menjadi salah satu fondasi yang harus dijaga para produsen teh yang memiliki perkebunan sendiri seperti Sosro. Sebagai perusahaan teh siap saji dan teh siap minum dalam kemasan botol pertama di Indonesia dan dunia, Sosro menjaga standar bahan baku teh tetap konsisten, mulai dari perkebunan.
Pemilihan kebun teh di sejumlah wilayah dataran tinggi Jawa Barat, mulai dari Cukul di Pangalengan, Neglasari di Garut, Gunung Satria dan Sambawa di Tasikmalaya, hingga Gunung Manik, Gunung Rosa Djaya, dan Gunung Cempaka di Cianjur dilakukan karena wilayah tersebut memiliki suhu sejuk, serta kelembaban yang mendukung pertumbuhan daun teh muda yang berkualitas.
lihat foto
Menghasilkan teh dengan cita rasa yang konsisten juga membutuhkan ketelitian manusia dalam menentukan daun teh muda mana yang dipetik, kapan waktu terbaik untuk memetik, hingga bagaimana daun teh muda diperlakukan setelah dipetik sehingga memenuhi standar layak olah. Daun teh muda menjadi bagian yang paling dijaga karena memiliki kandungan dan karakter rasa terbaik.
Oleh karenanya proses pemetikan bahan baku teh dilakukan oleh tenaga terampil secara manual dan menggunakan mesin petik baterai yang ramah lingkungan dengan tetap menjaga kualitas daun teh yang layak olah serta menjaga kesehatan tanaman teh agar produktivitasnya tetap tinggi.
Setelah dipetik, daun teh muda juga tidak dapat dibiarkan terlalu lama sebelum diproses. Paparan suhu dan udara dapat mengubah profil aroma dan kesegaran daun teh muda, sehingga kecepatan penanganan menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas. Karena itu proses dari perkebunan hingga pengolahan perlu berjalan dalam sistem yang saling terhubung agar kualitas daun teh muda tetap terjaga sejak awal.
Kualitas teh sejati tidak pernah muncul dari proses yang terburu-buru. Setiap tetes teh yang dinikmati masyarakat merupakan hasil dari proses panjang yang dijaga sejak dari sumbernya, mulai dari pemeliharaan tanaman, pemetikan, pengolahan, hingga akhirnya sampai ke tangan konsumen.
Baca juga: PTPN III Didorong Optimalkan Teknologi untuk Genjot Kenaikan Produksi Daun Teh
Melalui pendekatan tersebut, Sosro juga ingin terus menghadirkan kebaikan teh dalam momen keseharian masyarakat, sejalan dengan semangat Tea is Good yang telah menjadi bagian dari perjalanan teh lintas generasi.
Hal ini yang kemudian menjadi fondasi berbagai produk Sosro, mulai dari Tehbotol Sosro, Fruit Tea Sosro, Teh Celup Sosro hingga Sosro Heritage. Di tengah industri minuman yang terus bergerak cepat, perjalanan panjang sehelai daun teh muda mengingatkan bahwa kualitas tidak pernah lahir dari proses instan.
Ada alam yang dijaga, ketelitian manusia, serta pengalaman puluhan tahun yang bekerja bersama di balik setiap rasa yang tetap dikenal masyarakat Indonesia hingga hari ini.
Baca juga: Tanggal 21 Mei 2025 Memperingati Hari Apa? Ada Hari Reformasi Nasional & Hari Teh Internasional
Baca tanpa iklan