News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Legislator Demokrat: Ekonomi Tumbuh Tapi Apakah Sudah Betul-betul Dirasakan Rakyat Kecil?

Penulis: Chaerul Umam
Editor: Wahyu Aji
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

PERTUMBUHAN EKONOMI - Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi Partai Demokrat Marwan Cik Asan, merespons pidato Presiden Prabowo Subianto terkait kondisi ekonomi nasional dengan menyoroti pentingnya memastikan pertumbuhan ekonomi benar-benar dirasakan masyarakat kecil.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota Komisi XI DPR RI fraksi Partai Demokrat, Marwan Cik Asan merespons pidato Presiden Prabowo Subianto terkait kondisi ekonomi nasional dengan menyoroti pentingnya memastikan pertumbuhan ekonomi benar-benar dirasakan masyarakat kecil.

Menurut Marwan, capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir memang layak diapresiasi.

Selama sekitar tujuh tahun terakhir, ekonomi nasional tumbuh rata-rata sekitar 5 persen per tahun dengan peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) sekitar 35 persen secara kumulatif.

Bahkan pada 2025, pertumbuhan ekonomi mencapai 5,11 persen, salah satu yang terbaik dalam tiga tahun terakhir.

“Angka pertumbuhan ekonomi kita memang baik dan layak diapresiasi. Tetapi pertanyaan pentingnya adalah, apakah pertumbuhan itu sudah benar-benar dirasakan rakyat kecil? Faktanya, masih banyak petani, nelayan, pekerja informal, dan masyarakat bawah yang hidupnya belum mengalami perubahan signifikan,” kata Marwan, kepada Tribunnews, Kamis (21/5/2026).

Ia mengatakan, meski angka kemiskinan turun menjadi 8,47 persen atau sekitar 23,85 juta orang pada Maret 2025, laju penurunannya dinilai masih lambat. 

Sementara itu, rasio Gini yang berada di angka 0,375 menunjukkan distribusi kesejahteraan yang belum merata.

“Pertumbuhan ekonomi selama ini lebih banyak terkonsentrasi di kota-kota besar, sektor investasi skala besar, dan industri tertentu seperti hilirisasi mineral. Sementara rakyat kecil masih menghadapi persoalan mendasar seperti harga pangan, akses rumah layak, kesehatan, dan pekerjaan yang layak,” ucapnya.

Marwan menilai Indonesia membutuhkan model pertumbuhan ekonomi baru yang lebih inklusif dan berbasis transformasi struktural. 

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi tidak cukup hanya mengejar angka statistik, tetapi juga harus mampu menciptakan pekerjaan produktif dan memperkuat ekonomi rakyat.

Ia menjelaskan, transformasi pertama yang perlu dilakukan adalah mendorong pertumbuhan ekonomi yang berorientasi pada penciptaan lapangan kerja formal atau job-intensive growth.

“Investasi tetap penting, tetapi orientasinya harus diarahkan pada sektor-sektor yang menyerap banyak tenaga kerja formal seperti manufaktur berbasis sumber daya lokal, agroindustri, industri pangan, ekonomi kreatif, dan UMKM modern. Keberhasilan investasi jangan hanya diukur dari nilai investasinya, tetapi juga dari seberapa besar dampaknya terhadap lapangan pekerjaan dan pendapatan masyarakat,” ucapnya.

Selain itu, ia juga mendorong agar hilirisasi ekonomi diperluas hingga menyentuh sektor-sektor rakyat seperti pertanian, perikanan, perkebunan, dan UMKM.

“Selama ini hilirisasi identik dengan mineral dan industri besar. Ke depan, hilirisasi juga harus hadir di sektor pertanian, perikanan, perkebunan, dan UMKM agar masyarakat tidak hanya menjual bahan mentah, tetapi ikut menikmati nilai tambah dari proses pengolahan dan pemasaran,” ujarnya.

Marwan turut menekankan pentingnya pembangunan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan, pelatihan keterampilan, penguasaan teknologi, dan literasi digital.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini