TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Proses seleksi Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 kini memasuki babak krusial dengan kriteria penilaian yang sangat ketat.
Kementerian Transmigrasi memastikan proposal yang diajukan oleh perguruan tinggi mitra tidak boleh hanya berfokus pada riset di atas kertas, melainkan harus menyentuh langkah implementasi dan pemberdayaan nyata bagi masyarakat.
Reviewer TEP 2026 dari Universitas Diponegoro, Wiwandari Handayani, menjelaskan penilaian dilakukan untuk memastikan setiap program memiliki dampak jangka panjang.
"Masukannya sudah disampaikan oleh Pak Menteri bahwa agar kegiatan di tahun 2026 ini tidak hanya fokus kepada riset tetapi juga sudah ada langkah-langkah implementasi atau pemberdayaan," ujar Wiwandari usai Rapat Pleno di Jakarta Selatan, Selasa (26/5/2026).
Salah satu kriteria utama dalam penilaian tahun ini adalah aspek keberlanjutan. Program yang dirancang harus menyambung keberhasilan yang telah dicapai oleh tim di tahun sebelumnya.
Baca juga: Apresiasi Laporan Tim Ekspedisi Patriot UI, Mentrans Siap Tindaklanjuti untuk Bisa Menarik Investasi
Wiwandari menegaskan tugas reviewer adalah untuk memastikan agar proposal yang diajukan di tahun 2026 ini berkelanjutan dengan rekomendasi yang dilakukan pada tahun 2025.
Selain berkelanjutan, proposal tersebut juga wajib terintegrasi antar kampus.
Kementerian Transmigrasi tidak menginginkan adanya program yang berjalan sendiri-sendiri tanpa koordinasi yang jelas.
"Terintegrasi, jadi tidak masing-masing proposal itu jalan sendiri-sendiri. Memperhatikan aspek keberlanjutan untuk tidak hanya berpikir untuk kegiatan 4 bulan di sana tetapi juga kelanjutan ke depannya jangka menengahnya, pendek, menengah, panjangnya seperti apa," tegasnya.
Sejalan dengan kriteria tersebut, Menteri Transmigrasi RI, Iftitah Sulaiman Suryanagara, menekankan pentingnya kualitas SDM yang akan diterjunkan ke lapangan.
Baca juga: Kementrans Kembangkan Potensi 154 Kawasan Transmigrasi dari Riset Tim Ekspedisi Patriot 2025
Menteri Iftitah menginginkan setiap personel yang terpilih melalui proposal tersebut merupakan talenta terbaik yang mampu menjadi penyelesai masalah (problem solver) di kawasan transmigrasi.
"Kami ingin the best of the best. Kami ingin yang terbaik dari yang terbaik sehingga yang datang ke kawasan transmigrasi itu betul-betul bukan KW-KW, tapi betul-betul adalah SDM yang unggul," ujar Iftitah Sulaiman.
Melalui standar penilaian yang tinggi ini, pemerintah berharap program TEP 2026 dapat menjadi motor transformasi transmigrasi di masa depan yang memberikan manfaat nyata dalam jangka pendek, menengah, hingga panjang bagi masyarakat setempat.
Baca tanpa iklan