Ringkasan Berita:
- Pada 2025, Indonesia mencatat 319.224 kecelakaan kerja, menyebabkan 9.834 kematian dan 4.133 kecacatan pekerja nasional.
- Kemnaker bersama BPJS Ketenagakerjaan memperkuat budaya K3 demi menciptakan lingkungan kerja aman, sehat, produktif berkelanjutan.
- Program preventif, promotif, serta perhatian kesehatan mental diharapkan menekan risiko dan meningkatkan produktivitas pekerja nasional.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Berdasarkan data tahun 2025, tercatat sebanyak 319.224 klaim kecelakaan kerja di Indonesia. Dari jumlah tersebut, 9.834 kasus berujung kematian dan 4.133 kasus menyebabkan cacat fungsi maupun cacat total.
Guna meningkatkan keselamatan pekerja, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) bersama Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan terus memperkuat budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Tujuannya untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman, sehat, dan produktif.
Salah satunya melalui kegiatan bertajuk "Preventif dan Promotif K3 untuk Meningkatkan Produktivitas Pekerja" yang digelar di Plaza BPJamsostek.
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menegaskan upaya pencegahan perlu terus diperkuat agar perlindungan pekerja dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.
Menurutnya pendekatan yang dilakukan selama ini cenderung reaktif, yaitu hanya berfokus pada pemenuhan kompensasi, tidak akan berkelanjutan secara aktuarial.
"Investasi di hulu melalui program promotif dan preventif akan menghasilkan penghematan yang jauh lebih besar di hilir," kata Yassierli dalam keterangannya, Jumat (29/5/2026).
Menaker juga menyoroti data Penyakit Akibat Kerja (PAK) yang tercatat sebanyak 158 kasus.
Angka tersebut dinilai belum sepenuhnya mencerminkan kondisi di lapangan karena masih terdapat tantangan dalam pelaporan kasus.
Selain itu, data WHO dan ILO menunjukkan bahwa sebagian besar kematian pekerja berkaitan dengan penyakit akibat kerja yang dipengaruhi lingkungan kerja.
"Pendekatan proaktif melalui program promotif dan preventif menjadi penting untuk memperkuat upaya pencegahan, sekaligus mendorong implementasi Sistem Manajemen K3 (SMK3) yang saat ini baru diterapkan oleh sekitar 18 ribu dari 450 ribu perusahaan," ungkapnya.
Ekosistem kerja yang sehat
Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan Saiful Hidayat memastikan, BPJS Ketenagakerjaan tidak hanya berfokus pada perlindungan sosial ketenagakerjaan, tetapi juga mendorong terciptanya ekosistem kerja yang sehat dan resilien.
Saiful menilai penerapan K3 dan perhatian terhadap kesehatan mental merupakan bagian penting dalam membangun kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia.
"Kami ingin mendorong seluruh insan BPJS Ketenagakerjaan menjadi agen edukasi yang mampu menumbuhkan budaya kerja sehat, aman, dan produktif, baik di internal organisasi maupun kepada para pekerja Indonesia secara luas," kata Saiful.
Saiful menambahkan, pada 2026 pihaknya akan memperluas kegiatan promotif dan preventif melalui kolaborasi dengan Kementerian Ketenagakerjaan dan Jasa Raharja.
Sejumlah program yang akan dilaksanakan bersama Kementerian Ketenagakerjaan antara lain pasar budaya K3, pelatihan Panitia Pembina K3 di perusahaan, hingga workshop dasar K3.
Selain itu, BPJS Ketenagakerjaan juga akan bekerja sama dengan Jasa Raharja untuk menggelar pelatihan safety riding yang direncanakan menggandeng Astra Honda Motor sebagai mitra.
Saiful menegaskan seluruh rangkaian kegiatan tersebut merupakan bentuk komitmen BPJS Ketenagakerjaan dalam mendukung terciptanya lingkungan kerja yang aman, sehat, dan berkelanjutan guna mewujudkan pekerja Indonesia yang lebih sejahtera dan produktif.
Adapun, berdasarkan data jumlah peserta yang mengalami kecelakaan kerja pada 2025, sebanyak 65 persen atau sekitar 125 ribu pekerja mengalami kecelakaan kerja di lingkungan kerja.
Untuk itu, melalui kegiatan ini BPJS Ketenagakerjaan berharap seluruh peserta mampu memahami pendekatan preventif, promotif, dan kuratif dalam implementasi K3.
"Sekaligus memperkuat kesadaran mengenai pentingnya kesehatan mental dan kesejahteraan pekerja sebagai fondasi produktivitas nasional," pungkasnya.
Terpisah, Kepala Kantor Wilayah BPJS Ketenagakerjaan DKI Jakarta Deny Yusyulian menambahkan, tingkat kecelakaan kerja yang masih cukup tinggi menjadi pengingat bahwa budaya K3 harus terus diperkuat di setiap lingkungan kerja.
Menurut Deny, BPJS Ketenagakerjaan Kantor Wilayah DKI Jakarta mendukung penuh berbagai langkah promotif dan preventif yang dilakukan perusahaan guna menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, dan produktif.
"Selain aspek keselamatan kerja, perhatian terhadap kesehatan mental pekerja juga menjadi hal yang sangat penting dalam menjaga produktivitas dan keberlanjutan dunia kerja," ujar Deny.
Ia berharap perusahaan semakin aktif membangun lingkungan kerja yang mendukung psychological safety, sehingga pekerja dapat bekerja dengan aman, nyaman, dan lebih produktif.
Untuk diketahui, program ini diikuti jajaran pimpinan BPJS Ketenagakerjaan, direktur utama anak perusahaan, hingga seluruh kepala kantor cabang di Indonesia secara hybrid.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pemahaman mengenai implementasi K3, pengelolaan risiko psikososial, serta penguatan budaya kerja yang mendukung psychological safety.
Angka kecelakaan kerja tinggi
Terpisah, Kepala Kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan Jakarta Ceger, Armada Kaban, mengatakan penguatan budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) perlu menjadi perhatian bersama seluruh perusahaan di tengah tingginya angka kecelakaan kerja yang masih terjadi di Indonesia.
Menurutnya, implementasi program preventif dan promotif menjadi langkah penting untuk menekan risiko kecelakaan kerja sekaligus menjaga produktivitas pekerja secara berkelanjutan.
Ia menilai perusahaan tidak cukup hanya berfokus pada penanganan setelah kecelakaan terjadi, tetapi juga harus membangun sistem pencegahan yang kuat sejak awal.
“Budaya K3 harus menjadi bagian dari budaya kerja sehari-hari di setiap perusahaan. Upaya pencegahan yang dilakukan secara konsisten akan memberikan dampak besar terhadap keselamatan pekerja sekaligus keberlangsungan usaha,” ujar Kaban.
“Kami berharap perusahaan semakin aktif menciptakan lingkungan kerja yang aman, sehat, dan nyaman. Tidak hanya dari sisi keselamatan fisik, tetapi juga psychological safety agar pekerja dapat bekerja lebih optimal dan produktif,” katanya.
Ia juga menegaskan, BPJS Ketenagakerjaan Jakarta Ceger siap mendukung berbagai program edukasi dan sosialisasi terkait implementasi K3 kepada perusahaan maupun pekerja sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem kerja yang lebih resilien dan berkelanjutan.
Baca tanpa iklan