News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Mesra dengan PDIP, Pengamat Nilai Prabowo Bakal Dihadapkan pada Manuver Baru Jokowi

Penulis: Igman Ibrahim
Editor: Muhammad Zulfikar
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

GANDENG TANGAN - Presiden Prabowo Subianto gandeng tangan Presiden Kelima Megawati Soekarnoputri usai Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila di, Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Senin (1/6/2026). Peta politik nasional mulai menunjukkan polarisasi baru yang menempatkan Presiden Prabowo Subianto dalam posisi dilematis. 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Peta politik nasional mulai menunjukkan polarisasi baru yang menempatkan Presiden Prabowo Subianto dalam posisi dilematis. 

Pengamat komunikasi politik, Hendri Satrio, menilai sang presiden kini tengah diuji untuk menjaga keseimbangan kekuasaan di antara dua kekuatan besar.

Baca juga: Akademisi dan Pengamat Dipolisikan, Ubedillah Singgung Gejala Totalitarianisme Rezim Prabowo-Gibran 

Di antaranya, posisi PDIP yang kian merapat, dan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) yang mulai aktif bergerak mengamankan eksistensi politiknya demi menyongsong Pemilu 2029.

Sinyal kemesraan antara Prabowo dan PDIP belakangan ini kian benderang.

Baca juga: Jokowi Bakal Keliling Indonesia, PDIP Singgung Tanggung Jawab atas Kerusakan Sistem 

 

Menurutnya, Prabowo yang merangkul partai banteng moncong putih tersebut sebenarnya merupakan karakter politik aslinya yang selalu menghindari perpecahan dan merangkul semua elemen.

"Secara komunikasi politik, ini mengirimkan pesan bahwa Presiden tidak ingin ada kubu-kubuan, tidak ingin ada yang merasa ditinggal. Pak Prabowo memang konsisten dengan politik merangkul, dan itu terlihat jelas di momen Harlah Pancasila kemarin," ujar Hensa kepada wartawan, Selasa (2/6/2026).

Hubungan ini kian menghangat setelah Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, melontarkan kritik tajam dengan menyebut masalah bangsa saat ini sebagai warisan dari pemerintahan Jokowi. 

Hensa membaca manuver Hasto ini sebagai strategi dua arah yaitu menegaskan posisi PDIP di belakang Prabowo, sekaligus memutus ikatan masa lalu dengan Jokowi.

"Ini pun menandakan bahwa PDI Perjuangan kini semakin ke sini mendekat, dan sudah terangkul oleh pak Prabowo, meski dalam posisi masing-masing mereka tak harus bermusuhan kan dan ini sekaligus jadi ajang buat PDI Perjuangan kalau mereka memang sudah tak bersama Jokowi," kata Hensa.

Namun disaat PDIP mulai melempar jangkar ke istana, Jokowi dinilai tidak tinggal diam. Bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Jokowi dilaporkan tengah bersiap menggelar tur keliling Indonesia. 

Hensa menilai langkah tur gunung ini dinilai bukan sekadar safari pelepas rindu dengan rakyat.

Dia mengatakan tindakan ini investasi politik jangka panjang untuk melindungi posisi wakil presiden saat ini, Gibran Rakabuming Raka, menuju kontestasi 2029.

"Jokowi turun gunung itu perlu kita baca dengan cermat. Ini bukan sekadar nostalgia atau silaturahmi. Ini adalah pergerakan politik yang punya misi. Dan ketika Jokowi bergerak bersamaan dengan hangatnya hubungan PDI Perjuangan dan Prabowo, maka kita bisa membaca satu hal dengan sangat jelas, ini pemanasan menuju 2029 sudah dimulai, dan ia dimulai lebih awal dari yang banyak orang perkirakan," kata Hensa.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini