Perlu kita sadari, bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan dunia ini sebagai darul iktisab tempat untuk berusaha dan bekerja.
Sebaliknya, akhirat adalah darul jaza’ tempat untuk menerima balasan.
Maka darinya, janganlah kita salah memahami, kesungguhan kita dalam urusan dunia bukanlah lawan dari urusan akhirat.
Justru, kehidupan dunia yang mapan dan halal adalah sarana utama (wasilah) untuk menggapai kemuliaan akhirat.
Hadirin rahimakumullah,
Dunia adalah mazra’atul akhirah (ladang akhirat). Tanpa menanam di dunia, mustahil kita memanen di akhirat.
Terkait hal ini, para ulama membagi manusia menjadi tiga golongan dalam menyikapi pekerjaan:
1. Golongan yang binasa:
Yaitu mereka yang kesibukan mencari dunianya melupakan mereka dari urusan akhirat.
2. Golongan yang beruntung:
Yaitu mereka yang menjadikan dunia hanya sekadarnya dan mengutamakan akhirat.
3. Golongan yang moderat (al-Muqtashid):
Inilah tingkatan yang paling relevan bagi kita, yaitu mereka yang menjadikan kesibukan dunianya sebagai penopang bagi akhiratnya.
Seseorang tidak akan mencapai derajat moderat ini kecuali jika ia memegang teguh jalan yang lurus dan menghiasi pekerjaannya dengan adab-adab syariat.
Hadirin rahimakumullah,
Al-Qur’an menyebutkan aktivitas mencari nafkah sebagai sebuah karunia dan nikmat yang harus disyukuri. Allah berfirman:
وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا
“Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan.” (QS an-Naba: 11).
Baca tanpa iklan