Fokus perbincangan sengaja digeser ke arah gaya komunikasi.
"Namun substansi kritik itu menjadi hilang karena dituding tak beretika. Jadi yang dinilai bukan substansinya tapi justru pada gaya mengkritiknya," tambah Jamiluddin.
Jamiluddin menilai gaya mengkritik bersifat sangat personal dan pasti berbeda-beda antara satu orang dengan yang lainnya.
Ia pun mengimbau semua pihak untuk tidak mereduksi inti permasalahan hanya karena urusan gaya penyampaian.
"Jadi, apa yang terjadi di UGM itu jangan di frame melampaui substansinya. Dengan begitu, semua pihak dapat melihat peristiwa tersebut lebih jernih dan utuh," ujarnya.
Bentuk Kekecewaan Mahasiswa
Anggota Serikat Mahasiswa (SEMA) Universitas Gadjah Mada (UGM), Mesa melontarkan protes dalam diskusi bertajuk Pancasila Pemersatu Bangsa Indonesia di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Senin (15/6/2026) malam.
Protes dilontarkan sebagai bentuk kekecewaan mahasiswa terhadap pemerintah yang dinilai gagal menjalankan nilai-nilai Pancasila dan tidak responsif terhadap berbagai kritik yang disampaikan masyarakat.
Pada saat diskusi hadir Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko sebagai pembicara.
Selain Budiman, ada juga Menteri ATR/BPN Nusron Wahid dan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono.
Saat diskusi berjalan, sejumlah mahasiswa UGM naik ke panggung lalu membentangkan spanduk berisi penolakan terhadap para pembicara.
Situasi pun semakin memanas hingga akhirnya sempat terjadi aksi saling lempar botol plastik.
Situasi yang semakin tidak terkendali membuat Budiman akhirnya dievakuasi melalui pintu samping gedung.
Kemudian, Nusron dan Sudaryono dievakuasi pihak keamanan supaya meninggalkan panggung, meski Nusron tidak setuju istilah “evakuasi”.
Baca tanpa iklan