Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Kesuksesan Mitsubishi Xpander di Indonesia dan Vietnam bukan terjadi secara instan.
Di baliknya, ada peran Shunsuke Kusano, profesional Jepang dari Mitsubishi Corporation, yang menempuh perjalanan panjang dari kegagalan hingga keberhasilan dengan mengedepankan empati terhadap konsumen lokal.
Dalam laporan khusus Asahi Shimbun edisi 22 Desember 2025, Kusano mengungkap bahwa proyek awal Mitsubishi di Indonesia sempat menemui jalan buntu.
Model RVR (Outlander Sport) yang diharapkan menjadi andalan justru gagal di pasar.
Salah satu penyebabnya adalah desain kursi belakang yang terlalu tegak.
Bagi konsumen Jepang, posisi ini dianggap nyaman, tetapi tidak sesuai dengan kebiasaan masyarakat Indonesia yang kerap bepergian bersama keluarga besar.
“Kami hanya melihat dari sudut pandang penjual,” ujar Kusano.
Baca juga: New Xpander dan Xpander Cross, Strategi Mitsubishi Agar Tetap Kompetitif Melawan Avanza Cs
Turun ke Lapangan
Kegagalan tersebut menjadi titik balik.
Saat Mitsubishi memulai proyek mobil baru khusus Indonesia pada 2013—yang kemudian dikenal sebagai Xpander—Kusano mengubah pendekatan secara menyeluruh.
Ia dan timnya turun langsung ke lapangan, mengamati kebiasaan konsumen di pusat perbelanjaan, mengunjungi rumah pengguna, mewawancarai keluarga, hingga memperhatikan barang-barang yang biasa dibawa di dalam mobil.
Temuan Unik: Banyak Sepatu di Bagasi
Dari observasi itu muncul temuan menarik. Banyak keluarga Indonesia menyimpan beberapa pasang sepatu di mobil, mulai dari sepatu kantor, olahraga, hingga sepatu santai.
Temuan ini kemudian diterjemahkan ke dalam desain Xpander dengan ruang bagasi yang lebih luas dan praktis. Interior mobil pun disesuaikan dengan selera lokal, termasuk nuansa yang lebih mewah.
Tantangan besar berikutnya datang dari sisi mesin
Awalnya, Xpander direncanakan menggunakan mesin 1.2 liter.
Baca tanpa iklan