TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - BYD terus mengembangkan teknologi kendaraan listrik melalui evolusi platform yang menopang produk-produknya.
Setelah E-Platform berkembang dari generasi 1.0 hingga 3.0 yang dilengkapi Blade Battery, pabrikan asal Tiongkok itu kembali memperkenalkan E3 Platform sebagai pengembangan lanjutan yang kini digunakan pada model premium Denza Z9 GT.
Head of Product BYD Motor Indonesia Bobby Bharata menjelaskan, E3 Platform membawa pembaruan signifikan dibanding E-Platform sebelumnya.
Baca juga: BYD Bawa ATTO 3 Advanced Plus ke IIMS 2026 untuk Lengkapi Pilihan SUV Listrik di Indonesia
"Kalau yang di E-Platform itu cuma dua maksimal, ada depan sama belakang. Untuk E3 Platform Ini bisa sampai tiga independent motor," jelas Bobby dalam acara BYD Tech Auto Talks di Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026, JIExpo Kemayoran, Jakarta Utara, Selasa (10/2/2025).
Pada E3 Platform, satu motor ditempatkan di bagian depan, sementara dua motor lainnya berada di roda belakang sisi kiri dan kanan.
Konfigurasi tersebut memungkinkan pengaturan tenaga dan torsi yang lebih presisi. Motor depan memiliki daya 230 kW, sedangkan dua motor belakang masing-masing 240 kW, sehingga total performa mencapai 710 kW dengan torsi hingga 1.150 Nm.
Selain konfigurasi motor, E3 Platform juga mengadopsi teknologi Cell to Body (CTB), pengembangan dari Blade Battery yang menyatukan baterai langsung ke dalam struktur platform kendaraan.
Bobby mengungkapkan, integrasi tersebut membuat platform menjadi lebih kaku dan kokoh saat kendaraan bermanuver.
Baca juga: Pasar EV Terus Bertumbuh, BYD Mendominasi Penjualan Mobil Listrik di Indonesia
"Dengan adanya Cell to Body, baterainya dimasukin ke dalam platform-nya sehingga menambah lebih rigid platform-nya," tuturnya.
Menurut Bobby, teknologi CTB meningkatkan torsional rigidity hingga 32 persen. Dampaknya, perlindungan saat terjadi benturan juga meningkat, dengan pengurangan intrusi tabrakan frontal sebesar 15 persen dan tabrakan samping hingga 32 persen.
E3 Platform turut dilengkapi fitur Independent Rear Wheel Steering yang memungkinkan roda belakang ikut berbelok secara independen.
Teknologi ini membuat radius putar menjadi lebih kecil, sehingga memudahkan kendaraan saat bermanuver, termasuk ketika berputar balik atau parkir di ruang sempit.
"Karena ada Rear Wheel Steering ini, turning radius-nya jadi lebih kecil karena dibantu ban belakangnya bisa ikut belok," ujar Bobby.
Seluruh sistem tersebut dikendalikan oleh Vehicle Motion Control (VMC) yang berfungsi menyinergikan sensor, motor, serta sistem kemudi secara real time.
Baca tanpa iklan