"Di platform digital, saat ini sangat dituntut seorang penulis itu punya energi, punya stamina yang bagus supaya bisa menulis terus," kata Riawani Elyta.
Baca Juga: Terbitkan Buku Online Bisa Cuan, Ini Aturan Hak Cipta Penulis Digital
Hal ini karena karya yang terbit di ranah digital biasanya sudah punya jadwal tayang, jadi sebaiknya dilakukan secara rutin.
Untuk mengantisipasi hal itu, seorang penulis bisa menyimpan stok tulisan dari sebuah karya terlebih dulu sebelum menerbitkannya per bab.
Dengan begitu, paling tidak tulisan dapat terbit dan dibaca berkala tanpa ada jeda terlalu lama.
2. Mampu mempertahankan pembaca
Tuntuan berikutnya adalah mampu mempertahankan pembaca, yaitu dengan menulis secara rutin. Umumnya, penulis di platform digital perlu menerbitkan karya sekali atau dua kali setiap pekan.
Hal ini dilakukan agar pembaca yang mengakses karyanya selalu mendapatkan update cerita.
Pasalnya jika tidak menemukan kelanjutan dari cerita yang sedari awal sudah dibacanya, pembaca bisa saja mencari judul lain yang lebih update.
Atau bisa jadi, pembaca beralih memilih buku digital yang ceritanya sudah tamat dan tidak lagi on going, sehingga tidak perlu menunggu lama-lama.
"Platform digital ini sifatnya kita meng-update secara rutin. Entah itu seminggu sekali atau seminggu dua kali, agar tidak kehilangan pembaca," imbuh Ria.
Baca Juga: Mengapa Penulis Perlu Beralih ke Ranah Digital? Ini Kata Pakar
Oleh karena itu, Riawani Elyta sendiri tidak banyak menulis di banyak platform digital lantaran menyesuaikan stamina dan kemampuannya.
Ia mengaku hanya aktif di satu platform, dan cuma punya dua karya on going di sana.
Jadi, Kawan Puan bisa mengumpulkan stok tulisan dulu jika ingin menerbitkan secara digital.
Selain itu, pilihan lain adalah menerbitkan secara cetak walau butuh waktu dan proses lebih lama untuk melakukannya.
Setelah membaca tuntutan, semoga Kawan Puan makin siap untuk berkarier sebagai penulis ya! (*)
Baca tanpa iklan