Oleh: Prof. Muchtaridi
Pengajar Kimia GO, Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran dan Penggemar Kopi.
TRIBUNNEWS.COM - Kopi adalah minuman harian jutaan orang Indonesia. Dari warung kecil di sudut desa hingga kafe modern di pusat kota, kopi hadir sebagai teman berpikir, bekerja, bahkan berdiskusi.
Namun, belakangan kopi juga ikut terseret dalam perdebatan lingkungan. Pernyataan Mantan Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan, Hasan Hasbi, yang menyebut kebiasaan ngopi dan makan gorengan sebagai pemicu deforestasi, memantik diskusi publik.
Pernyataan ini perlu diluruskan, bukan untuk menafikan pentingnya isu lingkungan, tetapi agar diskusi berbasis data dan ilmu pengetahuan.
Faktanya, kopi tidak identik dengan perusakan hutan. Justru, dalam banyak kasus, kopi berperan sebagai bagian dari solusi konservasi.
Sistem shade-grown coffee, di mana kopi ditanam di bawah kanopi pepohonan yang telah lama diterapkan oleh petani di berbagai daerah, termasuk Dataran Tinggi Gayo, Aceh.
Sistem ini menjaga tutupan lahan, meningkatkan keanekaragaman hayati, serta memperkuat struktur tanah.
Artinya, tuduhan bahwa longsor di Gayo disebabkan oleh tanaman kopi tidak tepat; longsor lebih berkaitan dengan faktor geologi, curah hujan ekstrem, dan perubahan tata guna lahan yang tidak terkontrol, bukan kopi sebagai komoditas.
Di luar perdebatan lingkungan, kopi menyimpan potensi besar bagi kesehatan asal dikonsumsi secara bijak. Di sisi lain, kopi juga sering disalahkan sebagai pemicu gangguan kesehatan. Padahal, kesalahan utamanya bukan pada kopinya, melainkan cara meminumnya.
Kopi dan Sains Kesehatan: Bukan Sekadar Kafein
Selama ini kopi sering disederhanakan sebagai minuman berkafein. Padahal, kopi adalah sumber senyawa bioaktif yang sangat kompleks.
Dalam riset yang saya publikasikan di beberapa jurnal ternama, kopi terbukti mengandung polifenol, asam klorogenat, flavonoid, dan berbagai antioksidan kuat.
Senyawa-senyawa ini berperan penting dalam menangkal stres oksidatif yang merupakan kondisi yang menjadi akar berbagai penyakit degeneratif.
Sehingga dapat dikatakan kopi memiliki aktivitas antioksidan yang kuat, bahkan jika kopi arabika atau robusta diminum 2-3 cangkir (setara dengan 30-45 gram) per hari tanpa gula akan menjadi antiimun alami bagi tubuh.
Stres oksidatif berkaitan erat dengan penuaan dini, penyakit jantung, diabetes tipe 2, hingga gangguan neurodegeneratif seperti Alzheimer dan Parkinson.
Konsumsi kopi dalam jumlah moderat terbukti dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskular, meningkatkan sensitivitas insulin, melindungi sel saraf, dan berkontribusi pada kesehatan hati.
Baca tanpa iklan