Kementerian Kesehatan memperingatkan potensi peningkatan kasus kanker hingga 70 persen pada 2050 apabila upaya pencegahan dan deteksi dini tidak diperkuat.
Situasi ini menunjukkan bahwa edukasi, kesadaran risiko, serta akses terhadap inovasi pengobatan menjadi semakin penting dalam menghadapi tantangan kanker, termasuk kanker pankreas.
Baca juga: Rambu-rambu Dokter untuk Pasien Kanker Paru yang Puasa, Syarat, Waktu Minum Obat & Tanda Harus Batal
Kemajuan Medis dalam Penanganan Kanker Pankreas
Salah satu tantangan terbesar dalam terapi kanker pankreas adalah munculnya resistensi terhadap pengobatan. Obat-obatan yang tersedia saat ini kerap kehilangan efektivitasnya dalam hitungan bulan karena sel tumor mampu beradaptasi dan kembali berkembang.
Kondisi inilah yang selama ini membatasi keberhasilan terapi dan turut berkontribusi pada rendahnya angka kelangsungan hidup pasien, yang masih berada di bawah 10 persen dalam lima tahun setelah diagnosis.
Tim dari Pusat Penelitian Kanker Nasional Spanyol (CNIO) mencoba memutus siklus tersebut melalui pendekatan berbeda yaitu dengan terapi kombinasi tiga obat yang menargetkan jalur molekuler kanker secara simultan. Strategi ini dirancang untuk mencegah tumor mengembangkan resistensi, yang selama ini menjadi hambatan utama terapi berbasis target.
Sejak 2021, terapi yang menargetkan gen KRAS (gen yang bermutasi pada sekitar 90 persen kasus kanker pankreas) mulai disetujui penggunaannya. Namun efektivitasnya masih terbatas karena tumor kembali kebal dalam waktu relatif singkat.
Dalam studi terbaru yang dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS), tim yang dipimpin Mariano Barbacid mengembangkan strategi dengan memblokir jalur KRAS pada tiga titik sekaligus, bukan hanya satu. Pendekatan ini diibaratkan seperti memperkuat struktur dari beberapa sisi agar tidak mudah runtuh.
Pada model hewan dengan kanker pankreas tipe paling umum, yaitu pancreatic ductal adenocarcinoma (PDAC), kombinasi tiga obat yang terdiri dari inhibitor KRAS eksperimental (daraxonrasib), obat yang telah disetujui untuk jenis kanker paru tertentu (afatinib), serta agen penghancur protein (SD36) menunjukkan hasil signifikan.
Tumor mengalami regresi kuat dan bertahan lama tanpa muncul kembali, serta tidak menimbulkan toksisitas berarti pada hewan percobaan.
Para peneliti menyebut temuan ini sebagai langkah awal yang membuka jalan bagi desain terapi kombinasi baru yang berpotensi meningkatkan angka harapan hidup pasien.
Namun, mereka juga menegaskan bahwa terapi ini masih berada pada tahap penelitian praklinis. Optimalisasi lebih lanjut masih diperlukan sebelum dapat memasuki tahap uji klinis pada manusia.
Sosok Dokter di Balik Inovasi Penelitian
Di balik terobosan terapi kombinasi tersebut, terdapat nama Mariano Barbacid, ilmuwan senior asal Spanyol yang telah lama dikenal dalam riset biologi molekuler kanker.
Ia meraih gelar doktor dari Universidad Complutense Madrid pada 1974, kemudian melanjutkan pelatihan pascadoktoral di National Cancer Institute, Amerika Serikat.
Karier ilmiahnya menanjak pada 1982 ketika ia berhasil mengisolasi onkogen manusia pertama serta mengidentifikasi mutasi genetik yang berkaitan langsung dengan perkembangan kanker.
Penemuan tersebut menjadi tonggak penting dalam memahami dasar molekuler kanker pada manusia. Ia juga berkontribusi dalam mengungkap hubungan antara paparan karsinogen dan mutasi genetik tertentu, yang memperkuat landasan ilmiah studi epidemiologi kanker modern.
Baca tanpa iklan