Oleh: Prof. Muchtaridi
Pengajar Kimia GO, Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran
TRIBUNNEWS.COM - Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang meminta bantuan Perguruan Tinggi melalui Menteri Dikti, Sains, dan Teknologi meneliti tentang air agar air menjadi sumber produktivitas, bukan menjadi sumber bencana merupakan pernyataan yang harus direspons serius.
Bukan hanya dieksploitasi untuk keuntungan, tapi juga untuk kemaslahatan masyarakat.
Bahkan, berita Gubernur Jawa Barat yang berkunjung ke PT. Tirta Investama yang merupakan produsen air mineral menjadi ramai karena air mineral yang dipakai diduga bukan berasal dari air pegunungan sehingga DPR memanggil semua produsen air mineral di Indonesia.
Pernyataan Presiden seakan-akan ingin mengatakan, "Kita harus memanusiakan air: Air itu kawan, bukan lawan."
Air merupakan sumber kehidupan, pelarut universal, dan pembentuk peradaban.
Namun, di Indonesia, hubungan kita dengan air kini diwarnai ambivalensi: di satu sisi kita mendapatkan manfaat, di sisi lain kita dilanda musibah, mulai dari kekeringan ekstrem yang melumpuhkan pertanian, hingga banjir bandang dan longsor yang merenggut nyawa dan harta.
Pernyataan presiden di atas bukan sekadar retorika lingkungan, melainkan filosofi etika yang mendasar. Selama ini, air seringkali dipandang sebagai sumber daya pasif yang bebas dieksploitasi.
Filosofi "memanusiakan air" menuntut kita mengubah pandangan tersebut; memperlakukan air sebagai entitas yang memiliki hak, yang harus dihormati, dan dikelola dengan bijaksana. Agar kita ikut membantu memanusiakan air, kita harus terlebih dahulu mengenalnya.
Baca juga: Aktivitas Sesar Lembang: Ancaman Diam yang Terbukti Aktif
Sifat Fisika-Kimia yang Unik
Air (H2O) memiliki sifat fisika-kimia yang unik, menjadikannya 'jantung' bumi.
Adanya ikatan hidrogen yang kuat antara atom Hidrogen dan Oksigen di antara molekul air atau molekul lain, membuat air adalah pelarut universal, yang berarti ia mampu membawa dan mentransfer nutrisi (sekaligus polutan) ke seluruh ekosistem.
Kandungan air yang tinggi pada manusia (50-75 persen) menunjukkan bahwa tubuh manusia sendiri adalah bagian intrinsik dari siklus air.
Kekurangan sedikit air (dehidrasi 1-2 persen) sudah dapat menurunkan fungsi kognitif dan fisik. Oleh karena itu, manusia memerlukan hingga 2 liter air masuk ke tubuhnya setiap harinya.
Adanya ikatan hidrogen yang kuat juga membuat air memiliki sifat yang paling vital dalam konteks bencana yaitu daya kapilaritas.
Ikatan hidrogen yang kuat pada air menyebabkan sifat kohesi (tarik menarik dengan molekul lain) dan adhesi (tertariknya air pada permukaan polar lainnya) semakin kuat.
Baca tanpa iklan