News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Abdul Khak: Literasi Telah Menjadi Program Bersama, tapi Tidak Pernah Bersama-sama

Editor: Johnson Simanjuntak
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Kegiatan Bimtek Peningkatan Kompetensi Tenaga Kelompok Kepakaran dan Layanan Profesional (KKLP) Literasi yang berlangsung selama lima hari (22-26 Maret 2021) di Hotel Horison, Bekasi.

Dari sekitar 85 peserta, respons atas acara ini sangat baik, salah satunya, Alfiatunnur, M.Ed, dosen tetap  Fakultas Tarbiyah UIN Ar Raniry Aceh yang  juga pendiri TBM Arrasyid.

Menurutnya, literasi menjadi hal yang tidak terpisahkan dari kegiatannya. Sebagai relawan Literasi yang telah berkecimpung  pascatsunami dan gempa bumi Aceh 2004, dimana dengan segala keterbatasan fasilitas dan akses pada saat itu.

Pihaknya  terus bergerilya dari barak ke barak untuk menjajakan buku bagi anak anak korban gempa dan tsunami Aceh.

Bantuan International kemudian mengalir dan membawa saya dan teman teman mendirikan TBM Ar-Rasyid yang tetap eksis hingga saat ini. Berlahan namun pasti. TBM Ar-rasyid menjadi icon taman baca, terutama bagi bagi anak anak dari level grassroot, anak anak yatim, anak jalanan dan korban kekerasan sexual.

Seiring dengan perkembangan dan semakin bervariasinya kami menerima kunjungan anak anak di TBM, maka kami sebagai pengelola juga merasa bahwa pentingnya belajar dan berubah tidak hanya ditujukan kepada anak-anak kami, akan tetapi juga untuk kami sebagai pengelola.

Untuk itu, kesempatan Bimtek  seperti yang saat ini saya ikuti, menjadi salah satu ajang untuk belajar, bagaimana regulari literasi di Indonesia terus berkembang, juga kesempatan untuk membangun jejaring dengan sesama pegiat literasi, pelaku dari masyarakat dan pembuat.

Sementara itu, pendiri TBM Bukit Duri Bercerita, Safrudiningsih atau biasa dipanggil Kak Ning mengatakan, kegiatan yang digagas dan dilaksanakan Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Kemendikbud ini  sangat bermanfaat karena memberikan pemahaman tentang semangat berliterasi dan dapat bertukar pengalaman dari komunitas di seluruh indonesia serta para pegawai balai bahasa yang ada di seluruh Indonesia.

“ Dengan berkumpul bersama, kita menyatukan semangat, dan menyamakan persepsi  untuk bersama-sama dapat menggerakkan literasi. Karena  mereka semua punya pengalaman membuat karya buku dan penelitian,” ujar Safrudiningsih yang juga aktif di Komunitas Sedekah Mainan.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini