TRIBUNNEWS.COM - Suara celoteh anak-anak terdengar dari sebuah bangunan di tengah hujan deras yang mengguyur langit Bandarharjo sore itu.
Di dalam ruangan yang didominasi warna putih dan hijau itu, anak-anak usia 12 hingga 24 bulan berlari-lari kecil, melompat, dan bermain tanpa menghiraukan betapa derasnya hujan.
Beberapa di antara mereka asyik bermain di sebuah kolam bola, sedangkan yang lain saling mengejar sambil tertawa lepas. Bola-bola plastik berguling ke segala arah, terkena tendangan kaki mungil yang bergerak tak kenal lelah.
Tak lama kemudian, suara ceria itu perlahan mereda ketika Dian Kartika melangkah ke tengah ruangan sambil membawa sebuah buku cerita bergambar. Dengan lembut ia bertepuk tangan, memberi isyarat bahwa kegiatan selanjutnya akan dimulai.
"Ibu-ibu, anak-anakku semua, hari ini, kita akan bermain bersama. Kita akan mengajak anak-anak menceritakan gambar yang ada dalam buku. Nah, silakan, ambil buku yang disukai anak kemudian kita bacakan dan lihat bagaimana respons anak," kata Dian, Rabu (12/11/2025).
Segera, para orang tua pun mengerubungi rak buku yang dipajang di salah satu sudut ruangan, memilih dan mencari tempat terbaik untuk membacakan buku bersama sang buah hati. Tri Wahyuni, misalnya, memilih sebuah board book bergambar hewan peternakan untuk putranya, Alenta Putra.
Sembari bersandar di pangkuan ibunya, Alenta yang kini berusia 18 bulan, mendengarkan saksama cerita yang dibacakan Tri. Melihat kedekatan itu, Dian mendekat dan ikut berinteraksi.
"Mas Alenta, sedang baca buku tentang hewan-hewan, ya? Coba… mana gambar bebek?" tanya Dian lembut. Alenta langsung menunjuk gambar bebek.
"Kalau yang ini, namanya hewan apa, Mas?" lanjut Dian sambil menunjukkan gambar sapi.
"Sapi," jawab Alenta mantap. Satu per satu, ia mampu menyebutkan beberapa nama hewan dalam buku tersebut.
Meski ada beberapa nama hewan yang belum diketahuinya, Alenta tetap antusias. Setiap kali Dian menyebutkan nama hewan baru, ia berusaha menirukan bunyinya seperti moo, kwek, hingga embe hingga mendapatkan tawa kecil dari ibu dan orang tua lainnya.
Baca juga: Rumah Anak SIGAP Bandarharjo: Saat Anak Belajar Tumbuh dan Orang Tua Belajar Mengasuh
"Wah, responsnya bagus, ya. Ini menandakan Mas Alenta sedang berada di fase perkembangan bahasa yang bagus. Di usia 12 sampai 24 bulan, anak memang mulai mengenali banyak kosakata dan menirukan suara-suara baru," kata Dian sambil tersenyum puas.
Selesai dengan Alenta, Dian beralih pada bocah lainnya. Satu per satu hingga semua selesai diajaknya bermain sambil belajar.
Ya, beginilah suasana kegiatan di Rumah Anak SIGAP Bandarharjo, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang, Jawa Tengah. Rumah Anak SIGAP adalah pusat layanan pengasuhan dan pembelajaran dini untuk anak usia 0-3 tahun di Kalurahan Bandarharjo.
Rumah Anak SIGAP merupakan inisiatif lembaga filantropi, Tanoto Foundation melalui program Siapkan Generasi Anak Berprestasi (SIGAP). Program ini bertujuan untuk meningkatkan tumbuh kembang anak secara optimal dan mencegah stunting dengan memberikan edukasi serta pelatihan kepada orang tua tentang pola asuh yang benar, gizi, dan stimulasi yang sesuai usia.
Sudah dua tahun atau sejak diresmikan pada Agustus 2023, Rumah Anak SIGAP menjadi saksi bertumbuh dan berkembangnya anak-anak usia dini di Bandarharjo, sebuah kelurahan yang berada di tepi Laut Jawa.
Menempati rumah dinas Lurah Bandarharjo, Rumah Anak SIGAP menghadirkan ruang aman bagi tumbuh kembang anak. Sebuah ruang yang tak hanya dipenuhi permainan, tetapi juga pengasuhan, pendampingan, dan harapan baru bagi para orang tua.
Seperti pada Rabu sore, anak-anak Bandarharjo serta kelurahan lainnya diajak bermain bersama dengan membacakan cerita sambil menunjuk gambar.
"Tujuannya agar kosakata anak bertambah, juga merangsang pendengaran dan penglihatan. Lalu kita lihat bagaimana responsnya, apakah bisa mendengarkan atau mengucapkan," tutur Dian kepada Tribunnews.com.
Saat ini, ada 48 anak usia 0-3 tahun serta para orang tua yang menjadi penerima manfaat dari keberadaan Rumah Anak SIGAP Bandarharjo. Mereka terbagi ke dalam empat kelompok usia, yaitu: usia 0-6 bulan; usia 6-12 bulan; usia 12-24 bulan; dan usia 24-36 bulan.
Sepekan sekali, mereka berkegiatan di Rumah Anak SIGAP Bandarharjo sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Setiap kegiatan akan didampingi koordinator dan fasilitator.
"Tim pengurus Rumah Anak SIGAP terdiri dari satu koordinator dan empat fasilitator yang sebelumnya telah menjalani seleksi dan pelatihan dari Tanoto Foundation," ujar Itis Arliani.
Fokus pada Golden Age
Itis menjelaskan, kegiatan di Rumah Anak SIGAP Bandarharjo menitikberatkan pada pemberian stimulasi dan peningkatan pengasuhan.
Fokus ini dipilih bukan tanpa alasan. Usia 0–3 tahun merupakan periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) atau masa yang sering disebut sebagai golden age karena menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan otak dan perkembangan anak.
"Kalau stimulasi dan pengasuhan tepat diberikan di 1000 HPK, perkembangan anak bisa optimal. Tapi kalau terlewat, nanti mengejarnya jauh lebih sulit," ungkap Itis.
Di fase ini, perkembangan otak terjadi sangat cepat, sehingga anak membutuhkan rangsangan berulang, interaksi hangat, dan pola pengasuhan yang konsisten. Sayangnya, pola pendampingan seperti itu tidak selalu memadai di banyak keluarga pesisir yang sebagian besar harus bekerja sejak pagi.
Nah, di Rumah Anak SIGAP Bandarharjo, anak-anak mendapatkan stimulasi lewat sejumlah rangkaian aktivitas yang dirancang sesuai tahap tumbuh kembang mereka. Mulai dari permainan sensorik, motorik, kognitif, hingga aktivitas bahasa seperti menyimak cerita dan menyebutkan benda-benda di sekitar.
Setiap sesi berlangsung dalam suasana santai, tapi terarah. Anak-anak diajak bermain sambil belajar, sedangkan para orang tua ikut mendampingi dan terlibat aktif agar mereka memahami cara memberikan stimulasi serupa di rumah.
"Kami fokusnya pada stimulasi sama pengasuhan. Banyak orang tua di sini yang belum tahu cara memberikan stimulasi yang tepat, jadi kami ajarkan lewat kegiatan bermain. Ketika orang tua ikut mendampingi, mereka jadi belajar langsung," kata dia.
Itis juga menyoroti cara pandang sebagian orang tua yang masih terpengaruh kondisi sosial-ekonomi di kawasan pesisir itu. Hampir setiap hari, Itis melihat bagaimana pemahaman tentang gizi dan pengasuhan sering kali terbentuk dari kebiasaan turun-temurun.
Kondisi itu tidak terlepas dari fakta, Bandarharjo merupakan salah satu wilayah termiskin dan kumuh di Kota Semarang. Mayoritas warganya berprofesi sebagai pekerja pabrik dan nelayan.
"Di sini kan masih banyak nelayan. Hasil cari ikan biasanya terus dijual dan dibelikan nugget, mi instan bukan protein segar karena mereka pikir daging itu mahal. Ya, memang mahal, tapi, kan, nggak harus beli banyak. Selain itu, masih ada telur, ada ikan tongkol, kepiting, kerang yang merupakan hasil melaut mereka. Itu semua sebenarnya bisa dimanfaatkan dan diberikan ke anak," tutur Itis
Karena itu, kegiatan di Rumah Anak SIGAP Bandarharjo bukan hanya fokus pada stimulasi anak, tetapi juga mengubah pola pikir dan meningkatkan pengetahuan orang tua tentang gizi, tumbuh kembang, dan respons pengasuhan.
Wanita asal Palembang itu mencontohkan pentingnya fase merangkak yang umumnya dilalui bayi pada usia 6–10 bulan. Ketika seorang bayi belum bisa merangkak, maka stimulasi perlu diberikan agar ia melewati tahap tersebut.
"Yang diyakini orang-orang zaman dulu, 'enggak merangkak juga enggak masalah, yang penting bisa jalan'. Nah, pandangan itu keliru karena perkembangan anak sebaiknya mengikuti tahapan yang benar. Hal-hal seperti itu yang kami kikis melalui Rumah Anak SIGAP," kata dia.
Kesadaran inilah yang terus dibangun melalui berbagai aktivitas di Rumah Anak SIGAP. Melalui sesi bermain bersama, diskusi kecil, hingga edukasi yang dilakukan dari rumah ke rumah, orang tua diajak memahami pentingnya memberikan pendampingan yang konsisten.
"Harapannya orang tua semakin paham, perkembangan anak itu bukan cuma soal makan kenyang, tapi juga butuh stimulasi, butuh respons yang hangat, dan butuh perhatian," jelasnya.
Itis mengatakan, keikutsertaan masyarakat dalam kegiatan Rumah Anak SIGAP masih bersifat sukarela. Siapa pun yang memiliki anak berusia di bawah tiga tahun dipersilakan ikut tanpa dikenai biaya. Lebih luas lagi, bukan hanya warga Bandarharjo saja, tetapi warga dari kelurahan lain pun diterima dengan tangan terbuka.
Hadapi Banyak Tantangan
Selama menjalankan kegiatan di Rumah Anak SIGAP Bandarharjo, Itis tak menampik adanya sejumlah tantangan dan kendala yang dihadapi bersama para fasilitator lainnya. Salah satunya adalah faktor alam.
Berada di kawasan pesisir yang langsung berbatasan dengan laut, banjir rob menjadi momok yang tak terhindarkan. Kondisi ini tidak hanya menghambat jadwal kegiatan, tetapi juga memengaruhi konsistensi kehadiran orang tua dan anak.
Meski begitu, para fasilitator tetap berupaya menjaga agar pendampingan tidak terputus. Caranya dengan mengunjungi rumah para penerima manfaat ketika kondisi tidak memungkinkan untuk berkumpul di Rumah Anak SIGAP.
"Kami menggunakan layanan jemput bola. Kami datang ke rumah-rumah dan berkegiatan seperti biasanya," ujar Itis.
Tantangan lain yang dihadapi adalah masih rendahnya kesadaran sebagian masyarakat terhadap pentingnya pengasuhan sejak dini. Itis menuturkan, masih banyak orang tua yang mempertanyakan manfaat membawa bayi atau balita ke Rumah Anak SIGAP.
"Dulu, kami sering mendengar respons, 'lha ngapain bayi sekolah? paling planga-plongo tok,' atau 'kegiatan di situ ngapain? nggak ada guna, paling cuma tepuk-tepuk dan nyanyi, di rumah pun bisa diajarin,'" kata Itis menirukan komentar warga.
Menurutnya, anggapan tersebut muncul karena orang tua belum memahami, stimulasi dini bukan soal mengajari anak bernyanyi atau menepuk tangan saja. Dengan stimulasi yang tepat dapat membantu otak membentuk fondasi perkembangan yang kuat.
Faktor ekonomi juga menjadi tantangan tersendiri. Banyak keluarga di Kelurahan Bandarharjo yang memprioritaskan pemenuhan kebutuhan harian, sehingga kegiatan pengasuhan sering kali dianggap bukan prioritas.
Selain eksternal, ada tantangan internal yang juga sempat dihadapi oleh Itis sendiri. Menurutnya, program Rumah Anak SIGAP adalah hal baru baginya meski sudah lama berkecimpung di dunia anak-anak dengan menjadi kader posyandu.
"Awalnya ya bingung, karena kami harus jadi guru dadakan. Namun, Alhamdulillah, kami benar-benar dipandu dan didampingi tim Tanoto Foundation. Mulai dari administrasi, pembelajaran, alat-alat permainan, materi stimulasi, dan modul pun sudah disediakan oleh Tanoto Foundation," urainya.
Dampak Positif dan Nyata
Untuk menjaring peserta, Itis dan para fasilitator aktif melakukan sosialisasi melalui berbagai jalur, mulai dari kegiatan RT dan RW, posyandu, PKK, dasa wisma (dawis), hingga media sosial. Upaya ini membuahkan hasil. Perlahan, jumlah anak dan orang tua yang mengikuti kegiatan Rumah Anak SIGAP Bandarharjo terus meningkat.
Menurut Itis, kenaikan itu juga didorong oleh promosi dari mulut ke mulut atau getok tular para orang tua penerima manfaat. Mereka bercerita kepada tetangga dan kerabat tentang perubahan positif yang terlihat pada anak-anak setelah rutin mengikuti stimulasi dan pendampingan di Rumah Anak SIGAP Bandarharjo.
"Anak-anak yang tadinya masih ngedot, sekarang sudah tidak lagi. Mereka juga lebih berani ketika bertemu orang baru, nggak takut dan malu, tahu caranya berbagi, bisa bermain bersama dan berinteraksi dengan teman," jelas Itis.
Maka dari hal tersebut, satu per satu, orang tua berdatangan ke Rumah Anak SIGAP Bandarharjo yang berada tepat di samping kantor Kelurahan Bandarharjo. Dengan menggandeng buah hati, mereka datang tidak hanya untuk bertemu dengan orang tua lainnya, tetapi juga mencari pemahaman baru tentang tumbuh kembang anak.
Dampak positif juga dirasakan oleh Ani Purwanti (50) yang secara sukarela ikut menjadi penerima manfaat. Ia mengatakan, banyak perubahan yang terlihat pada sang cucu, Almahira (2 tahun), sejak mengikuti kegiatan di Rumah Anak SIGAP Bandarharjo.
Warga Tikung Baru itu mulai membawa Almahira ke Rumah Anak SIGAP sejak usia tiga bulan, mengikuti ajakan seorang kader yang tinggal di dekat rumahnya. Sejak saat itu, ia hampir selalu hadir dalam setiap kegiatan.
"Dulu Almahira itu penakut, sukanya gelendotan terus sama saya," ujarnya.
Namun kini, sang cucu jauh lebih berani. Ia bisa bermain perosotan sendiri, tidak takut bertemu orang baru, dan sudah memahami banyak hal dasar seperti warna, angka, dan hafalan-hafalan sederhana.
Ani mengaku, sebagai nenek yang mengasuh cucu pertama, ia banyak belajar tentang pola pengasuhan lewat kegiatan di Rumah Anak SIGAP. Mulai dari cara memberikan stimulasi yang tepat, bagaimana merespons anak, hingga pentingnya interaksi yang hangat.
"Harapan saya, Almahira bisa menjadi anak yang pintar, berprestasi, tumbuh kembangnya sesuai dengan usianya. Dan semoga banyak orang tua atau pengasuh lain yang ikut belajar di sini. Soalnya manfaatnya memang terasa," ungkapnya.
Pentingnya Stimulasi Sejak Dini
Pentingnya stimulasi sejak usia dini juga ditegaskan oleh pakar pendidikan anak usia dini, Dr Khasan Ubaidillah. Menurutnya, stimulasi sejak usia dini merupakan fondasi penting bagi perkembangan otak anak.
Pada masa golden age, otak bekerja jauh lebih cepat dalam menyerap informasi dibandingkan orang dewasa. Pada fase inilah kualitas stimulasi akan sangat menentukan arah perkembangan kognitif, bahasa, sosial-emosional, moral, hingga fisik-motorik anak.
"Stimulasi bukan sekadar aktivitas belajar akademis. Ia harus meliputi seluruh aspek perkembangan," ujarnya.
Stimulasi, lanjut dia, juga berfungsi sebagai 'scaffolding' atau dukungan terstruktur dari orang dewasa agar anak dapat bertumbuh sesuai tugas perkembangan usianya.
Khasan mencontohkan pengalamannya sendiri ketika anaknya lahir prematur. "Saat usia teman-temannya sudah belajar berjalan, anak saya duduk pun masih sulit," ujarnya. Pemeriksaan lebih mendalam kemudian mengungkap adanya masalah perkembangan yang memerlukan terapi.
Karena itu, ia menilai edukasi terhadap orang tua mengenai standar capaian perkembangan juga menjadi hal krusial. Tanpa itu, stimulasi akan berjalan tanpa arah dan tidak menyentuh kebutuhan anak.
Dalam banyak kasus, masalah perkembangan anak tidak hanya berasal dari sekolah, tetapi juga lingkungan rumah. Karena itu, program yang melibatkan orang tua, seperti kuliah umum atau pelatihan pengasuhan, sangatlah penting. Namun, kegiatan tersebut harus bersifat partisipatoris, bukan sebatas ceramah satu arah.
Ia menjelaskan, terdapat tiga kebutuhan dasar perkembangan yang harus dipenuhi melalui stimulasi yang benar. Pertama adalah rasa aman. Anak yang sering dibentak, dibanding-bandingkan, atau ditekan akan cenderung tumbuh dengan rasa tidak aman dan menjauh dari orang tua.
Kedua, pengakuan. Apresiasi sederhana terhadap hasil karya anak akan menumbuhkan rasa percaya diri dan keberanian mencoba hal baru.
Terakhir adalah kontrol diri. Orang tua memberi ruang bagi anak mengatur aktivitasnya (tanpa melepaskan batas yang wajar) sehingga membuat anak merasa dipercaya.
"Jika ketiganya terpenuhi, anak akan tumbuh lebih mandiri, percaya diri, dan siap belajar," tegasnya.
Terkait program Rumah Anak SIGAP yang memberikan stimulasi pada anak usia 0–3 tahun serta melibatkan orang tua, Khasan menilai program semacam itu sangat berkontribusi pada kesiapan belajar anak asal memenuhi satu syarat penting: asesmen diagnostik di awal.
Menurutnya, asesmen diperlukan untuk mengetahui kebutuhan perkembangan masing-masing anak; memahami tipe belajar anak; menyusun program individual yang sesuai; serta memantau capaian stimulasi secara berkala.
"Kalau asesmennya tepat dan programnya responsif pada kebutuhan anak, hasilnya hampir pasti baik," ujarnya.
Dukungan dan Kolaborasi
Sementara itu, System Strengthening Unit Coordinator Tanoto Foundation Java Regional, Ahmad Syaiful Bahri mengatakan, kegiatan yang telah berjalan selama dua tahun di Rumah Anak SIGAP Bandarharjo sudah sesuai dengan apa yang dikehendaki Tanoto Foundation, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas.
"Dari sisi jumlah peserta, target kami adalah 40 anak beserta pengasuhnya. Itu semua terpenuhi dan konsisten," terangnya, Senin (24/11/2025). Selain itu, jumlah kelas dan fasilitator yakni empat orang, sesuai desain awal program.
Terkait dampak program Rumah Anak SIGAP, Syaiful menyebutkan, perubahan nyata telah terlihat pada pola asuh keluarga di Bandarharjo.
Dalam skala kecil misalnya, orang tua tidak lagi membentak-bentak anak. Ia juga melihat meningkatnya pemahaman orang tua mengenai pola asuh yang benar, termasuk cara memberikan stimulasi dan memahami kebutuhan anak.
"Terus peran ayah juga terlibat. Jadi berbagi peran parenting antara ayah dan ibu," jelasnya.
Ia pun berharap kolaborasi lintas pihak mulai dari pihak pemerintah kelurahan, kota, serta masyarakat dapat terus berlanjut agar program Rumah Anak SIGAP Bandarharjo semakin menguat. Terlebih saat ini, Rumah Anak SIGAP Bandarharjo telah berstatus sebagai Rumah Anak SIGAP mandiri.
"Harapan saya, program Rumah Anak SIGAP terus dilanjutkan oleh Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Kesehatan. Kemudian Rumah Anak SIGAP juga dapat menjadi layanan yang menyempurnakan pola pengasuhan dan stimulasi dini, dan terintegrasi dengan program penanganan penurungan stunting di Kota Semarang," ucapnya.
Selain itu, ia berharap layanan ini dapat menjadi sarana edukasi perubahan perilaku masyarakat yang relevan terkait berbagai isu kesehatan.
Perjalanan Rumah Anak SIGAP Bandarharjo selama dua tahun terakhir juga tak lepas dari peran serta Lurah Bandarharjo, Sayoko. Demi menjaga menjaga keberlangsungan Rumah Anak SIGAP Bandarharjo yang kini menjadi salah satu aset kelurahan, Sayoko mengerahkan segala daya dan upaya secara maksimal.
Satu di antaranya dengan menyediakan sarana prasarana yang memadai seperti air dan listrik. "Kami di kelurahan punya anggaran untuk melakukan maintenance. Jadi, jika ada kerusakan, bisa langsung ditangani. Misal, lampu mati atau eternit bolong," tutur Sayoko.
Sementara itu, untuk operasional koordinator dan fasilitator sebagai pelaksana Rumah Anak SIGAP, lanjut Sayoko, kini telah diserahkan kepada Dinas Kesehatan Kota Semarang.
"Ya, sejak dilepas oleh Tanoto Foundation, yang artinya kita tidak mendapatkan bantuan pendanaan lagi, kini Rumah Anak SIGAP Bandarharjo berada di bawah binaan Dinas Kesehatan Kota Semarang," katanya.
Meski demikian, dalam beberapa kesempatan, Sayoko tetap meminta agar para pelaksana kegiatan, yang berjumlah lima orang, agar mendapatkan berbagai pelatihan tambahan. Tujuannya, agar mereka dapat terus menambah dan memperbarui pengetahuan dalam mendampingi anak-anak di Bandarharjo.
Selama ini, koordinator dan fasilitator telah mendapatkan sejumlah pelatihan dari Tanoto Foundation. Namun, mengingat perkembangan pendidikan anak usia dini yang dinamis dan terus berubah, Sayoko menilai peningkatan kapasitas tetap sangat diperlukan.
"Kalau dari Dinas Kesehatan, bisa dari sisi masalah kesehatan. Misal bagaimana cara merawat anak usia sekian sampai sekian. Sementara untuk pelatihan pola asuh atau pendidikan anak usia dini bisa didapat dari Dinas Pendidikan bidang PNF," jelasnya.
Dengan segala dukungan ini, Sayoko pun berharap Rumah Anak SIGAP mampu menghasilkan dan membekali anak-anak Bandarharjo dengan fondasi yang kuat, baik dari sisi pengetahuan, kesehatan, maupun karakter.
Ia membayangkan, 20 tahun mendatang atau tepatnya pada tahun 2045, anak-anak yang kini bermain dan belajar di ruang sederhana itu tumbuh menjadi generasi yang luar biasa dan siap menempati berbagai posisi penting di berbagai bidang.
"Sekarang ini, Pak Lurahnya memang masih di atas tanah, tapi kan nggak tahu di tahun 2045 nanti. Semoga saja ada generasi penerus, terutama dari Kelurahan Bandarharjo, yang siap mengisi Indonesia Emas di tahun 2045,” ujarnya.
Bagi Sayoko, impian itu bukan sesuatu yang berlebihan. Ia percaya, jika sejak dini anak-anak diberikan ruang aman untuk tumbuh, diasah potensinya, dan didampingi dengan penuh kasih, maka bukan mustahil mereka kelak menjadi sosok-sosok yang membawa perubahan bagi lingkungan dan bangsanya. (*)
Baca tanpa iklan