News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Gerakan 'Benerin 1000 Sekolah' Diluncurkan dalam Hari Raya Pendidikan 2026

Penulis: Hasiolan Eko P Gultom
Editor: Choirul Arifin
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

HARI RAYA PENDIDIKAN - Peluncuran “Gerakan Benerin 1000 Sekolah” dalam rangkaian Hari Raya Pendidikan 2026 di Ganara Art FX Sudirman, Jakarta, Sabtu, 2 Mei 2026 kemarin. Inisiatif kolaboratif ini menjadi langkah nyata mendorong transformasi pendidikan melalui penguatan fasilitas belajar, literasi, serta budaya belajar yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Semangat membangun ulang fondasi pendidikan Indonesia mengemuka dalam gelaran Hari Raya Pendidikan 2026 yang berlangsung di Ganara Art FX Sudirman, Jakarta awal Mei kemarin. 

Mengusung tema “Gerakan Pendidikan Kembali ke Akar”, acara ini dihadiri lebih dari 350 peserta dari kalangan pelajar, mahasiswa, pendidik, akademisi, komunitas, hingga kreator muda.

Kegiatan ini menjadi forum kolaboratif lintas sektor yang digagas GEKRAFS, Sekolah Tanah Air, Bepro, Cemas.co, dan Distrik Berisik untuk mendorong transformasi pendidikan nasional.

Penyelenggara menilai perubahan pendidikan tidak bisa dibebankan hanya kepada institusi formal, tetapi membutuhkan keterlibatan komunitas kreatif, organisasi masyarakat, gerakan sosial, dan generasi muda.

Dalam forum tersebut, Bepro mengambil peran sebagai penghubung aspirasi anak muda dari berbagai daerah. Gerakan profesional muda ini diketahui telah hadir di 20 provinsi, mulai dari Aceh hingga Papua Barat.

Berbagai narasumber lintas sektor hadir dalam acara ini, di antaranya CEO Orbit Edutech M. Andy Zaky, CEO Smartick Indonesia Galih Sulistyaningra, kreator sekaligus guru sejarah Nada Aprianita, Founder Rumus Muda Reza Erfit, hingga perwakilan Kementerian Pendidikan dan Kementerian Kebudayaan.

Membaca Ulang Persoalan Pendidikan Nasional

Segmen pertama bertajuk “Peta Pendidikan Indonesia” menjadi ruang refleksi untuk memetakan tantangan utama pendidikan nasional.

Diskusi menyoroti ketimpangan akses pendidikan, kualitas pembelajaran, kesenjangan fasilitas sekolah, hingga relevansi sistem pendidikan di tengah perkembangan teknologi dan perubahan sosial.

Baca juga: Guru Non-ASN dan Utang Konstitusional Pendidikan di Negeri Ini

Partisipasi aktif peserta menunjukkan tingginya perhatian publik terhadap kondisi pendidikan Indonesia saat ini sekaligus harapan besar terhadap perubahan yang lebih konkret.

*Pentingnya Kerja Sama Antar Pemangku Kepentingan

Pada sesi kedua bertema “Kerja Sama untuk Generasi Selanjutnya”, forum menekankan pentingnya sinergi nyata antara pemerintah, komunitas, institusi pendidikan, dan masyarakat.

Sejumlah gagasan kolaboratif mengemuka, mulai dari penguatan ekosistem belajar berbasis komunitas hingga perluasan akses pendidikan yang lebih inklusif dan relevan dengan kebutuhan zaman.

Forum tersebut menegaskan bahwa masa depan pendidikan harus dibangun melalui semangat gotong royong lintas sektor.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini