News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Potret Nyata Pendidikan Vokasi di SMK: Siswa Kurang Pengalaman Lapangan, Minim Skill yang Didapatkan

Penulis: Faryyanida Putwiliani
Editor: Febri Prasetyo
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

POTRET PENDIDIKAN SMK - Foto saat Siswa Kelas 12 Jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) SMK HS Agung Bekasi saat melakukan kunjungan industri ke Rumah Belajar PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) pada Jumat (22/5/2026). | SMK didirikan untuk menghasilkan SDM yang siap kerja dan diharapkan menjadi solusi atas masalah pengangguran. Namun faktanya, siswa lulusan SMK kini justru jadi penyumbang utama angka pengangguran di Indonesia. Jika dibedah lebih dalam, masalah tingginya angka pengangguran dari tingkat pendidikan SMK ini salah satunya disebabkan oleh ketidaksesuaian skill yang dimiliki siswa SMK dengan kebutuhan industri. Tak hanya soal skill, kurikulum yang diajarkan di SMK juga hanya berfokus pada ilmu-ilmu dasar dan tidak bisa mengimbangi kemajuan teknologi yang digunakan industri sekarang.

 

TRIBUNNEWS.COM - Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) didirikan untuk menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang siap kerja dan diharapkan menjadi solusi atas masalah pengangguran. Namun faktanya, siswa lulusan SMK kini justru jadi penyumbang utama angka pengangguran di Indonesia.

Padahal SMK termasuk dalam pendidikan vokasi tingkat menengah, yang berfokus untuk mempersiapkan siswanya agar memiliki keterampilan praktis, keahlian teknis, dan siap langsung bekerja di industri.

Data Badan Pusat Statistik Indonesia (BPS) menunjukkan, SMK masih menjadi penyumbang utama angka pengangguran di Indonesia.

Hal ini dapat terlihat dari data Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menurut karakteristik periode Februari 2024-Februari 2026.

Pada Februari 2026, BPS mencatat angka pengangguran di tingkat pendidikan SMK mencapai angka 7,74 persen. Tertinggi dibanding pengangguran tingkat SMA yang berada di angka 6,23 persen.

Angka pengangguran lulusan SMK itu juga masih jauh lebih tinggi dibanding pengangguran tingkat Diploma di angka 4,80 persen dan tingkat Sarjana di angka 6,13 persen.

Lantas apa sebenarnya yang menjadi penyebab tingginya angka pengangguran dari lulusan SMK ini?

Minim Skill yang Bisa Didapat Siswa SMK dari Bangku Sekolah

Jika dibedah lebih dalam, masalah tingginya angka pengangguran dari tingkat pendidikan SMK ini salah satunya disebabkan oleh ketidaksesuaian skill yang dimiliki siswa SMK dengan kebutuhan industri.

Tak hanya soal skill, kurikulum yang diajarkan di SMK juga hanya berfokus pada ilmu-ilmu dasar dan tidak bisa mengimbangi kemajuan teknologi yang digunakan industri sekarang.

Potret jalannya pendidikan vokasi di SMK ini bisa dilihat dari para siswa SMK HS Agung Bekasi yang melakukan kunjungan industri ke Rumah Belajar PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) pada Jumat (22/5/2026).

Di Rumah Belajar TBIG, Siswa Kelas 12 Jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) itu banyak diajarkan tentang produk tower system atau sistem menara pemancar sinyal. 

Lalu diajarkan juga tentang Fiber to the Home (FTTH), yaitu sistem jaringan internet berkecepatan tinggi menggunakan kabel serat optik atau fiber optik yang ditarik langsung sampai ke dalam rumah tinggal.

Serta diberi pengetahuan soal Internet of Things (IoT), yang berfokus pada penempatan sensor pintar yang bisa 'berbicara' satu sama lain melalui internet untuk mengumpulkan data dan melakukan aksi otomatis.

Baca juga: Menyoroti Fenomena Mismatch Skill di Pendidikan SMK, Sekolah dan Industri Harus Aktif Berkolaborasi

Para siswa mengaku, dari kunjungan industri ke TBIG ini mereka jadi tahu wujud nyata alat-alat penunjang telekomunikasi yang selama ini hanya bisa mereka pelajari dari buku saja.

Halaman
123
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini