News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Ramadhan 2015

Cik Meme Gratiskan Lumpia Selama Ramadhan

Editor: Anita K Wardhani
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

ILUSTRASI : Lumpia Semarang

TRIBUNNEWS.COM, SEMARANG – Generasi kelima pewaris Lumpia Semarang di Kota Semarang, Jawa Tengah, Meliani Sugiarto atau Cik Meme, mempunyai cara tersendiri menyambut tradisi di bulan Ramadhan 2015 ini.

Agar lumpia bisa lebih membumi di kalangan masyarakat, dia memberikan lumpia gratis kepada masyarakat melalui program Lumpia Delight.

Pemberian lumpia itu merupakan terobosan untuk melestarikan tradisi budaya leluhurnya. Selain itu, upaya tersebut juga untuk mendukung Lumpia Semarang yang ditetapkan sebagai warisan budaya nasional tak benda.

“Lumpia sekarang sedang diperjuangkan di UNESCO. Kami budayakan tradisi di bulan Ramadhan ini untuk mendukung itu,” ujar Cik Meme, Selasa (23/4/2015).

Cik Meme berujar, setelah penetapan sebagai warisan budaya tak benda, para penerus lumpia mengaku tidak bisa berbangga diri. Mereka bekerja keras agar lumpia bisa dibudidayakan secara lebih luas di masyarakat.

Selain itu, pemberian lumpia juga merupakan bagian dari tindaklanjut tradisi dugderan (festival mengawali ibadah puasa) dan warak ngendok (warak bertelur) di Kota Semarang. Hanya saja, tradisi pemberian lumpia ini harus dengan cara membeli satu buah lumpia terlebih dulu.

Lumpia yang diberikan, lanjut dia, juga telah dijamin halal oleh majelis ulama Indonesia Jawa Tengah. Sehingga, dia mengharapkan masyarakat untuk tidak takut nantinya menikmati hasil karya yang disajikan.

“Kami ingin budaya ini jadi tradisi baru dalam rangka membudidayakan Lumpia Semarang di tengah-tengah masyarakat nusantara maupun manca negara,” paparnya.

Tradisi pemberian itu, lanjut Cik Meme, sudah jadi tradisi turun-termurun yang sudah berjalan ketika Ramadhan tiba. Tradisi itu sudah ada sejak lumpia pertama kali diciptakan oleh Tjoa Thay Joe dan Mbok Wasi yang merupakan makanan perpaduan akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa.

Oleh karena itu, generasi penerus berusaha menyulap berbagai inovasi menu dan cita rasa agar Lunpia Semarang bisa menyesuaikan dengan tuntutan selera masyarakat, luas tanpa harus merubah jati dirinya yang berbahan dasar dari rebung bambu pilihan.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda

Berita Populer

Berita Terkini