News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Ramadan 2026

Tips Aman Puasa Tanpa Drama Asam Lambung

Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Willem Jonata
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

 

Ringkasan Berita:

  • Banyak yang takut puasa justru memicu kambuhnya gangguan lambung, kurang tidur, hingga kelelahan fisik
  • Gangguan asam lambung tidak selalu dipicu oleh makanan. Faktor stres memegang peran besar dalam meningkatkan produksi asam lambung
  • Ritme hidup selama sebulan puasa perlu diatur ulang agar keseimbangan tubuh tetap terjaga

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Asam lambung sering menjadi kekhawatiran utama saat memasuki Ramadan, terutama bagi orang dengan penyakit kronis. 

Banyak yang takut puasa justru memicu kambuhnya gangguan lambung, kurang tidur, hingga kelelahan fisik.

Namun di balik kekhawatiran itu, ada pendekatan yang lebih mindful dan humanis dalam menjalani puasa. 

Baca juga: Jangan Remehkan ‘Nyes’ di Dada: Anak Muda Waspada Komplikasi akibat Asam Lambung

Kuncinya, bukan hanya pada makan, tetapi juga pada ketenangan emosional, pengaturan istirahat, dan aktivitas fisik yang tepat.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam dari RSUD Bung Karno Kota Surakarta, dr. Achmadi Eko Sugiri, Sp.PD, FINASIM, menegaskan bahwa puasa pada dasarnya aman bagi kondisi asam lambung.

“Ya, sebenarnya untuk keadaan seperti itu aman,"ungkapnya dalam live streaming Healthy Talk dikutip, Selasa (17/2/2026). 

Puasa, Stres, dan Hubungan dengan Asam Lambung

Gangguan asam lambung tidak selalu dipicu oleh makanan. 

Faktor stres memegang peran besar dalam meningkatkan produksi asam lambung. 

Gaya hidup tergesa-gesa, kecemasan, dan tekanan emosional membuat lambung lebih rentan bermasalah.

“Asam lambung yang meningkat itu penyebabnya yang paling sering adalah kondisi dimana pacuan stres yang meningkat," lanjutnya 

Dalam konteks puasa, suasana ibadah justru mendorong ritme hidup yang lebih tenang. 

Ketika puasa dijalani dengan baik, kondisi emosional cenderung lebih stabil. 

Ketenangan ini berperan penting dalam menekan produksi asam lambung berlebih.

Pendekatan ini menempatkan puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi juga sebagai proses pengelolaan stres. 

Saat tubuh dan pikiran lebih tenang, risiko gangguan lambung pun bisa ditekan.

Kurang Tidur Saat Ramadan Perlu Disiasati

Perubahan jadwal selama Ramadan sering membuat waktu tidur berkurang. Aktivitas sahur, ibadah malam, dan rutinitas harian menggeser pola istirahat.

Menurut dr. Achmadi, penyesuaian tetap diperlukan agar tubuh tidak jatuh sakit akibat kelelahan. 

Istirahat cukup menjadi bagian penting dari ibadah yang berkelanjutan.

“Ya minimal kita dalam sehari semalam usahakan tidur tidak lewat dari minimal paling tidak lima jam istirahat itu,"lanjutnya. 

Waktu tidur yang berkurang pada malam hari bisa diganti di waktu lain. 

Intinya, ritme hidup selama sebulan puasa perlu diatur ulang agar keseimbangan tubuh tetap terjaga.

Pendekatan ini menjadi penting terutama menjelang sepuluh hari terakhir Ramadan, ketika intensitas ibadah meningkat. 

Tanpa manajemen istirahat yang baik, tubuh justru berisiko mengalami penurunan kondisi.

Penyakit Kronis Tetap Perlu Olahraga

Bagi penderita penyakit kronis, olahraga tetap menjadi bagian penting selama puasa. Aktivitas fisik tidak harus dihentikan, tetapi perlu disesuaikan intensitasnya.

Latihan ringan dinilai paling aman untuk menjaga kebugaran tanpa memicu hipoglikemia atau dehidrasi. Waktu pagi hari menjadi pilihan yang relatif aman untuk bergerak aktif.

Dalam penanganan penyakit kronis, olahraga dan perbaikan gaya hidup menempati posisi utama. Pengobatan bukan satu-satunya solusi.

Dokter menekankan bahwa intervensi kesehatan dimulai dari perubahan gaya hidup, pengaturan makan, aktivitas fisik, dan kestabilan emosional. 

Obat menjadi langkah lanjutan yang harus digunakan sesuai arahan medis.

Konsultasi dengan tenaga kesehatan tetap penting agar penyesuaian terapi tidak dilakukan secara sembarangan. 

Informasi kesehatan yang beredar luas perlu disaring dengan pemahaman medis yang tepat.

Ramadan sebagai Momentum Menata Ritme Hidup

Puasa menghadirkan kesempatan untuk menata ulang ritme hidup secara menyeluruh. 

Dari pengelolaan stres, pengaturan tidur, hingga kebiasaan bergerak, semuanya berkontribusi pada kesehatan jangka panjang.

Bagi penderita penyakit kronis dan gangguan asam lambung, pendekatan yang seimbang membuat puasa tetap bisa dijalani dengan aman. 

Ramadan menjadi ruang latihan untuk hidup lebih tenang, terukur, dan sadar akan kebutuhan tubuh.

Dengan manajemen stres yang baik, istirahat cukup, dan olahraga ringan yang konsisten, puasa tidak hanya menjaga kesehatan fisik, tetapi juga memperkuat keseimbangan emosional sepanjang bulan suci.

(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)

 

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini