News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Ramadan 2026

KH Cholil Nafis: Yang Membedakan Manusia dengan AI Adalah Integritas

Penulis: Chaerul Umam
Editor: Adi Suhendi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ringkasan Berita:

  • Kiai Cholil Nafis mengatakan setiap generasi memiliki tantangan dan karakter yang berbeda-beda
  • Kiai Cholil menyoroti tantangan baru berupa ketergantungan pada teknologi, termasuk kecerdasan buatan
  • Ilmu harus memiliki sanad atau mata rantai transmisi yang jelas dan dapat dipercaya

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Muhammad Cholil Nafis, menegaskan setiap generasi memiliki tantangan dan karakter yang berbeda-beda.

Sebab itu, pendekatan dalam mendidik dan membimbing pun tidak bisa disamakan dari satu angkatan ke angkatan lainnya.

Hal itu diungkapkannya saat wawancara khusus dengan Tribun Network, dalam program 'Cerita Kiai', di Jakarta, Senin (16/2/2026).

“Setiap hidup itu ada tantangannya, ada zamannya, dan ada generasinya. Murid yang saya terima tiap tahun selalu berbeda, baik cara merespons, kecerdasan, perilaku, maupun cara belajarnya,” kata Kiai Cholil.

Kiai Cholil menilai, setiap zaman melahirkan tokohnya sendiri.

Karena itu, masa muda menjadi fase penting yang tidak boleh disia-siakan.

Baca juga: KH Cholil Nafis: Politik Bukan Jalan Saya, Banting Setir Jadi Akademisi

Dia mengingatkan generasi muda agar memanfaatkan waktu untuk mengisi diri dengan ilmu dan pengalaman yang bermanfaat.

Kiai Cholil mengaku dirinya pun masih merasa banyak kekurangan dalam proses belajar yang telah dijalaninya. 

Dia membayangkan, betapa lebih besarnya potensi yang bisa diraih apabila waktu muda benar-benar dioptimalkan untuk menuntut ilmu.

Baca juga: KH Cholil Nafis Ungkap Awal Mula Dipanggil Kiai di Layar Televisi

Di era digital saat ini, Kiai Cholil juga menyoroti tantangan baru berupa ketergantungan pada teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI/ Artificial Intelligence). 

Dia menyebut AI sebagai “akal imitasi” atau akal tiruan yang mampu memberikan jawaban cepat, tetapi tetap membutuhkan verifikasi.

“Bahaya ketika orang lebih senang berkomunikasi dengan mesin daripada dengan manusia. Apalagi jika jawaban mesin itu langsung dianggap sebagai kebenaran tanpa diverifikasi kepada ahlinya. Itu bisa menjadi kebenaran semu,” katanya.

Sebab itu, ia menekankan pentingnya belajar dengan bimbingan guru. 

Dalam tradisi Islam, kata dia, ilmu harus memiliki sanad atau mata rantai transmisi yang jelas dan dapat dipercaya.

Ilmu tidak cukup hanya berupa informasi yang berserakan.

“Dalam Islam, ilmu harus ada sanadnya. Harus ada mata rantai yang bisa dipercaya. Tidak bisa hanya sekadar informasi,” ujarnya.

Lebih lanjut, KH Cholil menekankan bahwa yang membedakan manusia dengan kecerdasan buatan adalah integritas. 

Menurutnya, setinggi apa pun ilmu seseorang, tanpa integritas maka tidak akan memiliki nilai.

“Yang membedakan kita dengan AI adalah integritas. Orang berilmu punya nilai tambah dibanding mesin ketika dia punya integritas. Memang ada risikonya, tetapi di situlah harga diri keilmuan,” ujarnya.

Ia pun berpesan agar generasi muda tidak menggantungkan komitmen keilmuan pada bayaran atau pesanan tertentu. Konsistensi dan integritas dalam memegang ilmu, lanjutnya, sama sulitnya dengan proses mencari ilmu itu sendiri.

“Belajar, belajar, dan belajar. Setelah itu, komitmen dengan ilmu. Jangan tergantung bayarannya,” tandasnya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini