News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Ramadan 2026

Hukum Ngabuburit sambil Main Game dan Scroll TikTok Saat Ramadan, Sah Tapi Bisa Hilang Pahala

Penulis: M Alivio Mubarak Junior
Editor: Anita K Wardhani
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Laporan Wartawan Tribunnews.com, M Alivio Mubarak Junior

Ringkasan Berita:

  • Ngabuburit atau mengisi waktu menjelang berbuka puasa menjadi bagian tak terpisahkan dari Ramadan di Indonesia. 
  • Main game menjelang azan Maghrib, scroll media sosial kerap dilakukan.
  • Bagaimana hukumnya?

 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Tradisi ngabuburit menjadi bagian tak terpisahkan dari Ramadan di Indonesia. 

Menjelang azan Maghrib, sebagian orang memilih mengisi waktu dengan tilawah, berburu takjil, hingga sekadar bermain game atau scroll media sosial.

Baca juga: Saleh Husin, Budi Karya dan Aviliani Ngabuburit Jalan Sore Cari Takjil di Benhil

Lalu, bagaimana hukum ngabuburit yang diisi dengan aktivitas seperti main game, jalan tanpa tujuan jelas, atau menonton video pendek?

Dalam kultumnya, Ustaz Rikza Maulan menjelaskan bahwa ngabuburit pada dasarnya adalah aktivitas menunggu waktu berbuka puasa. Hukumnya boleh, selama tidak mengandung unsur dosa.

“Ngabuburit itu sekadar istilah untuk menunggu adzan Maghrib. Maka hukumnya kembali kepada aktivitas yang dilakukan,” jelasnya dikutip Jumat (20/2/2026).

Ustaz Rikza Maulan membagi ngabuburit dalam dua sisi besar:

1. Ngabuburit yang Bernilai Pahala

Menurutnya, waktu menjelang berbuka termasuk waktu mustajab untuk berdoa. Karena itu, aktivitas seperti berikut sangat dianjurkan:

- Tilawah Al-Qur’an
- Zikir dan istigfar
- Berdoa menjelang berbuka
- Menyiapkan dan membagikan takjil
- Mengikuti kajian singkat

Allah SWT berfirman:

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.”
(QS. Al-Baqarah: 186)

Ayat ini berada dalam rangkaian ayat tentang puasa Ramadan, yang menunjukkan keutamaan doa di bulan suci.

Selain itu, tujuan utama puasa ditegaskan dalam firman Allah:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Menurut Ustaz Rikza, takwa inilah yang seharusnya menjadi orientasi utama saat mengisi waktu ngabuburit.

2. Ngabuburit yang Sia-sia dan Berpotensi Dosa

Di sisi lain, ia mengingatkan agar umat Islam berhati-hati terhadap aktivitas yang kurang bermanfaat, seperti:

- Scroll video tanpa kontrol
- Menonton konten yang membuka aurat
- Tayangan gibah dan fitnah
- Nongkrong tanpa arah
- Bermain game berlebihan hingga lalai ibadah

“Memang tidak membatalkan puasa. Tapi khawatirnya menghilangkan esensi dan pahala puasa itu sendiri,” ujar Dewan Penasihat Rumah Zakat ini.

Ia menekankan bahwa puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, melainkan juga menjaga pandangan, lisan, dan hati. Sebagai penguat, Ustaz Rikza juga mengutip sabda Rasulullah SAW:

“Apabila salah seorang di antara kalian berpuasa, maka janganlah ia berkata kotor dan jangan berbuat jahil. Jika ada seseorang yang mencacinya atau mengajaknya bertengkar, maka hendaklah ia mengatakan: 

‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa pengendalian diri menjadi inti ibadah puasa. Tingkatan Puasa Menurut Ulama

Dalam kajiannya, Ustaz Rikza turut menjelaskan pembagian puasa menurut Imam Al-Ghazali, yakni:

  1. Puasa umum (awam) – Sekadar menahan diri dari yang membatalkan.
  2. Puasa khusus – Menjaga anggota tubuh dari dosa.

Puasa paling khusus – Puasa hati, penuh harap dan takut kepada Allah SWT.

Ngabuburit yang diisi hal sia-sia, kata dia, bisa membuat seseorang hanya berada di level pertama. Ustaz Rikza Maulan menegaskan, main game atau scroll media sosial saat ngabuburit tidak otomatis membatalkan puasa. 

Namun umat Islam perlu bijak dalam memilih aktivitas agar tidak kehilangan pahala Ramadan.

“Jangan sampai kita menahan lapar dan haus, tapi justru mendapatkan dosa karena tidak menjaga pandangan dan lisan,” pesannya.

Ramadan adalah bulan pengendalian diri dan peningkatan kualitas iman. 

Mengisi waktu menjelang berbuka dengan aktivitas yang mendekatkan diri kepada Allah tentu lebih utama dibanding sekadar membuang waktu tanpa makna.
--

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini