Ringkasan Berita:
- Kecenderungan sebagian orang yang men-skip sahur demi diet. Padahal, sahur adalah pondasi awal kita untuk aktivitas selama satu hari
- Melewatkan sahur berisiko memicu binge eating saat berbuka. Binge eating adalah gangguan makan di mana seseorang secara rutin mengonsumsi makanan dalam jumlah sangat besar dan waktu singkat
- Kesalahan lain yang sering terjadi adalah memilih makanan tinggi gula saat berbuka
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Banyak orang memanfaatkan Ramadan untuk menurunkan berat badan.
Salah satu cara yang kerap dilakukan adalah melewatkan sahur dengan harapan asupan kalori berkurang. Padahal, kebiasaan ini justru bisa berdampak sebaliknya.
Dokter Spesialis Gizi Klinik dari RS Jantung dan Pembuluh Darah (RSJPD) Harapan Kita, dr. Oqti Rodia, Sp.GK, mengingatkan bahwa sahur adalah fondasi energi selama seharian berpuasa.
Ia menyoroti kecenderungan sebagian orang yang men-skip sahur demi diet.
Baca juga: Euforia War Takjil Saat Berbuka Puasa Ternyata Picu Risiko Jantung, Ini Penjelasan Dokter
“Padahal sahur adalah pondasi awal kita untuk aktivitas selama satu hari,” tegasnya.
Menurutnya, melewatkan sahur berisiko memicu binge eating saat berbuka.
Binge eating adalah gangguan makan di mana seseorang secara rutin mengonsumsi makanan dalam jumlah sangat besar dan waktu singkat.
Disertai perasaan tidak mampu mengendalikan diri untuk berhenti
Tubuh yang menahan lapar terlalu lama justru sulit mengontrol asupan ketika waktu berbuka tiba.
“Jadi tidak bisa menahan nafsu makannya yang mana yang tadinya niatnya men-skip makan atau mengurangi makan yang ada malah pada saat berbuka puasa tidak bisa mengontrol dari kalori yang masuk ke dalam tubuhnya,” jelas dr. Oqti pada talkshow kesehatan virtual yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan, Senin(23/2/2025).
Lonjakan Gula yang Sering Diabaikan
Kesalahan lain yang sering terjadi adalah memilih makanan tinggi gula saat berbuka.
Minuman manis, kolak, dan kue-kue tradisional memang menggoda, tetapi bisa menyebabkan lonjakan glukosa mendadak.
Tubuh yang seharian berada dalam kondisi low metabolic state mendadak menerima gula dalam jumlah besar.
Hal ini dapat memperburuk profil gula darah dan memicu resistensi insulin.
Jika terjadi berulang, kondisi tersebut berkontribusi pada gangguan metabolik yang berkaitan erat dengan risiko penyakit jantung.
Rumus 2-4-2 yang Sering Terlupa
Selain pola makan, hidrasi menjadi aspek penting yang sering diabaikan. Standar kebutuhan cairan orang sehat adalah sekitar 2 liter per hari.
Dr. Oqti mengingatkan pentingnya pola minum 2-4-2 selama Ramadan, yaitu dua gelas saat berbuka dan setelah salat magrib, empat gelas di malam hari sebelum tidur, serta dua gelas saat sahur.
Kekurangan cairan saat puasa bisa memperburuk kondisi tubuh dan memengaruhi metabolisme secara keseluruhan.
Puasa sejatinya memberi peluang memperbaiki profil kardio-metabolik.
Namun tanpa pola makan terstruktur, cukup cairan, dan sahur yang seimbang, niat diet saat Ramadan justru bisa berujung pada kenaikan berat badan dan gangguan metabolik.
Ramadan bukan sekadar menahan lapar, tetapi juga momentum belajar mengatur pola makan dengan lebih sadar dan seimbang.
(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)
Baca tanpa iklan