News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Ramadan 2026

Hindari 4 Jenis Makanan Saat Puasa Agar Tak Cepat Lapar, Mengantuk, dan Haus

Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Willem Jonata
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

TAKJIL - Warga membeli takjil di Pasar Takjil Jalan Surabaya, Kota Malang, Jawa Timur, Kamis (19/2/2026). Pasar Takjil Jalan Surabaya ramai dikunjungi masyarakat saat bulan Ramadhan untuk mencari beraneka ragam hidangan berbuka puasa seperti gorengan, minuman dingin, hingga makanan lauk pauk. SURYA/PURWANTO

Ringkasan Berita:

  • Tak sedikit orang mengeluhkan cepat lapar saat puasa. Padahal belum mendekati jadwal buka puasa 
  • Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi juga kesempatan melatih pola makan lebih sadar
  •  Dengan mengurangi gula, natrium berlebih, serta makanan pemicu iritasi lambung, tubuh bisa tetap bertenaga, ibadah lebih nyaman, dan risiko gangguan kesehatan 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Bulan puasa sering jadi momentum memperbaiki pola makan. Namun tak sedikit orang justru mengeluhkan cepat lapar, mengantuk setelah berbuka, hingga tekanan darah kurang terkontrol.

Lalu sebenarnya, makanan apa saja yang sebaiknya dikurangi selama Ramadan agar tubuh tetap sehat dan ibadah tetap lancar?

Dokter Spesialis Gizi Klinik dari RS Jantung dan Pembuluh Darah (RSJPD) Harapan Kita, dr. Oqti Rodia, Sp.GK, menegaskan bahwa tidak ada makanan yang mutlak harus dihindari. 

Namun ada beberapa jenis yang sebaiknya dibatasi.

Baca juga: Jadwal Buka Puasa Kota Samarinda Senin, 23 Februari 2026

“Sebenarnya memang ini tuh makanan memang tidak harus mutlak dihindari tapi mungkin dikurangi seperti itu,” jelas dr. Oqti pada talkshow kesehatan virtual yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan, Senin (23/2/2026). 

1. Takjil Terlalu Manis dan Karbohidrat Refinasi

Takjil manis memang menggoda. Minuman bersoda, susu kental manis, kue-kue manis, hingga nasi putih dalam jumlah besar kerap jadi pilihan utama saat berbuka.

Namun menurut dr. Oqti, konsumsi gula dan karbohidrat dengan indeks glikemik tinggi secara mendadak bisa memicu lonjakan gula darah drastis.

“Kalau kita dalam awalnya itu dalam kondisi puasa terus tiba-tiba kita berikan dengan makanan yang tinggi gula, itu akan menyebabkan gula darah itu melonjak drastis itu pada akhirnya malah akan membuat kita menjadi cepat lapar lagi dan malah jadi mengantuk,"imbuhnya. 

Kondisi ini membuat tubuh terasa lemas dan mengantuk, padahal setelah berbuka masih ada rangkaian ibadah seperti salat magrib, isya, hingga tarawih.

Lonjakan glukosa mendadak juga membuat tubuh cepat kembali lapar, sehingga keinginan makan berlebihan setelahnya menjadi lebih besar.

2. Makanan Tinggi Natrium, Bikin Cepat Haus

Makanan asin bukan berarti tidak boleh sama sekali. Namun kadar natrium yang terlalu tinggi, terutama saat sahur, bisa memicu dehidrasi.

Contohnya mie instan, ikan asin, keripik asin, hingga makanan kaleng.

Jika dikonsumsi berlebihan, natrium tinggi bisa membuat tubuh cepat haus saat berpuasa. Selain itu, asupan garam berlebih juga berisiko membuat tekanan darah tidak terkontrol.

Padahal banyak orang memanfaatkan Ramadan untuk menjaga tekanan darah tetap stabil.

3. Gorengan, Boleh Tapi Jangan Jadi Pembuka

Gorengan hampir selalu hadir di meja berbuka. Pertanyaannya, bolehkah dikonsumsi?

Dr. Oqti menjelaskan bahwa pilihan utama saat berbuka sebaiknya dimulai dari yang cair, seperti air putih, lalu makanan yang belum banyak diolah, misalnya kurma.

Jika ingin makan gorengan, sebaiknya tidak dijadikan menu pertama. Artinya, gorengan bisa dikonsumsi setelah makan utama, bukan sebagai pembuka saat perut benar-benar kosong.

Pendekatan bertahap ini membantu tubuh beradaptasi setelah seharian dalam kondisi tanpa asupan.

4. Pedas dan Asam, Waspadai Lambung

Makanan pedas dan asam juga perlu diperhatikan, terutama bagi yang memiliki masalah lambung.

Saat puasa, lambung dalam kondisi kosong cukup lama. Konsumsi pedas berlebihan bisa memicu iritasi lambung, nyeri ulu hati, hingga rasa perih yang mengganggu kenyamanan ibadah.

Karena saat berpuasa tidak bisa langsung minum obat sesuka hati, risiko gangguan lambung ini perlu dipertimbangkan sejak awal.

Intinya: Bukan Dilarang, Tapi Dikontrol

Pesan utama dari dr. Oqti bukan soal larangan total, melainkan pengendalian porsi dan waktu konsumsi.

Takjil manis, makanan asin, gorengan, hingga pedas tetap bisa dinikmati, asalkan tidak berlebihan dan tidak menjadi pilihan pertama saat perut kosong.

Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi juga kesempatan melatih pola makan lebih sadar. 

Dengan mengurangi gula, natrium berlebih, serta makanan pemicu iritasi lambung, tubuh bisa tetap bertenaga, ibadah lebih nyaman, dan risiko gangguan kesehatan pun dapat diminimalkan selama Ramadan.

(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)

 

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini