Ringkasan Berita:
- Cara meningkatkan kualitas ibadah adalah dengan berdzikir.
- Dzikir yang dimaksud mencakup istihdhor atau menghadirkan hati saat mengingat Allah.
- Dengan adanya istihdhor, manusia akan merasa selalu diawasi Allah dan berpeluang besar merasakan manisnya ibadah.
TRIBUNNEWS.COM - Bulan Ramadan tak jarang menjadi momentum bagi kaum muslimin memperbanyak amal ibadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Namun, ada hal lain yang perlu diperhatikan selain kuantitas ibadah yang dilaksanakan.
Kualitas ibadah juga menjadi hal penting yang sekiranya berjalan beriringan dengan jumlah yang banyak tersebut.
Langkah mudah bagi seorang muslim meningkatkan kualitas dan sekaligus kuantitas ibadahnya adalah dengan dzikir atau mengingat Allah.
Dzikir tak memerlukan banyak sumber daya dan dana, hanya bermodal lisan sudah bisa menjadi awal yang baik untuk mengingat Rabbul 'Alamin.
Pentingnya kedudukan dzikir sebagai landasan ibadah diterangkan oleh Ustadz Rizky Narendra, Lc, pengajar mata pelajaran tafsir Al Qur'an dari Pondok Pesantren Imam Bukhari, Selokaton, Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.
Pengajar yang lulus dari Universitas Islam Madinah tahun 2013 ini mengambil dalil dari hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam.
Baca juga: Agar Ketaatan Tak Luntur setelah Bulan Ramadan Rampung, Isi Puasa dengan Banyak Dzikir
'Dari ‘Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu bahwa ada seorang lelaki berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat Islam ini telah banyak bagiku, maka beritahulah kepadaku sesuatu yang bisa aku pegang selalu.” Beliau menjawab, “Hendaklah lisanmu selalu basah karena berdzikir kepada Allah,” (hadits riwayat Tirmidzi, ia mengatakan bahwa hadits ini hasan).
Ustadz Rizky menjelaskan latar belakang hadits tersebut adalah adanya sahabat yang baru masuk Islam dan merasa kewalahan dengan banyaknya amal-amal dalam agama.
Rasul Shallallahu 'alaihi wa Sallam lantas memberikan pegangan agar sang sahabat itu tak meninggalkan dzikir.
Ustadz Rizky menjelaskan, para ulama merumuskan setidaknya ada dua faedah dari rutinitas berdzikir.
1. Menguatkan Hati
Dzikir akan menguatkan hati kaum muslimin yang rutin menjalankannya.
Faktor itu menjadi penting lantaran kekuatan hati adalah dasar untuk mengamalkan segala ketentuan dalam agama ini.
Hati-lah yang mendorong kaum muslimin untuk mau berbuat baik atau menaati perintah penciptanya.
Sebagaimana hal itu disebutkan dalam hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam.
'Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Rabb-nya dan orang yang tidak berdzikir adalah seperti orang hidup dan orang mati,' (hadits riwayat Bukhari no. 6407 dan Muslim no. 779).
Berdasarkan hadits tersebut, manusia yang menjalani kehidupannya tanpa berdzikir tak ada bedanya dengan mayat berjalan.
Ia masih bisa makan, bernafas, dan bekerja tetapi hatinya kering dari mengingat Allah.
Dengan rutin berdzikir, hati manusia tak akan kering dan mati, sebaliknya, malah akan menjadi kuat.
Barangkali ada yang menganggap berdzikir itu ibadah yang melelahkan.
Anggapan itu bisa disanggah dengan sebuah hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam.
'Hendaklah lisanmu senantiasa basa dengan dzikir kepada Allah' hadits riwayat Tirmidzi no. 3375.
Hal yang diperintahkan Allah dan Rasul, pada dasarnya, tak ada yang memberatkan manusia.
Semua perintah yang datang berasal dari wahyu sang Pencipta Langit dan Bumi yang mengetahui seluk beluk makhluk ciptaannya.
Dengan adanya anjuran banyak berdzikir itu, manusia sejatinya tak akan terbebani.
Cukup dengan menggerakkan lisan, manusia sudah bisa melakukan ibadah tersebut.
Salah satu teladan paling luar biasa dari kekuatan hati ini adalah dari sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi Wa Sallam bernama Abdullah bin Umi Maktum.
Abdullah bin Umi Maktum adalah seorang yang buta, lemah secara fisik, tetapi masih ikut berjihad lantaran tekad hati yang kuat.
Hal yang perlu menjadi catatan adalah dzikir dilakukan dengan lisan, bukan di dalam hati.
Hadits Rasulullah di atas merinci bahwa dzikir dilakukan dengan lisan, bukan hati.
2. Membesarkan Efek Ibadah
Dzikir bisa menambah atau membesarkan efek dari sebuah ibadah yang dijalani.
Sebagaimana contoh ada dua orang melakukan ibadah, di mana salah satunya hanya sebatas ritual atau gerakannya saja.
Sedangkan yang lain melengkapinya dengan dzikir terbaik yang sahih dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam.
Nilai ibadah dari kedua orang tersebut akan berbeda berkat dzikir yang terselip.
Namun untuk memberikan kekuatan dan efek, dzikir tak bisa dilakukan dengan serampangan.
Ustadz Rizky Narendra menyebut dzikir juga harus disertai dengan istihdhor atau menghadirkan hati dalam dzikir.
Istihdhor juga bisa disebut ihsan, sebagaimana yang lebih mahsyur di kalangan masyarakat.
Ihsan adalah beribadah sebagaimana seseorang itu melihat Allah. Jika tidak bisa, maka Allah sesungguhnya melihat ibadah seseorang tersebut.
Dengan ihsan yang menyertai dzikir, seseorang itu akan lebih merasakan dan mendalami ibadahnya tersebut.
Hal itu karena ia merasa diawasi Allah di setiap aktivitasnya.
Pada akhirnya, kehadiran hati tersebut akan menimbulkan manisnya ibadah.
"Jika seseorang sudah merasakan manisnya ibadah, pasti akan ketagihan," ucap Ustadz Rizky Narendra saat ditemui Tribunnews di lantai dua Masjid Pondok Pesantren Imam Bukhari.
Kaum muslimin tak akan lagi kesulitan untuk khusyuk dalam ibadah dengan adanya ihsan di dalam dirinya.
Dengan itu, kualitas ibadahnya, termasuk puasa di bulan Ramadan, akan meningkat kualitasnya. (*)
(Tribunnews.com/Guruh)
Baca tanpa iklan