Ringkasan Berita:
- Tradisi Halal bi Halal yang berkembang di Indonesia pun memiliki makna mendalam dalam konteks ini.
- Refleksi ini menjadi pengingat bahwa ketenangan batin tidak terletak pada seberapa banyak harta, jabatan, atau pencapaian yang dimiliki.
- Tradisi Halal bi Halal yang berkembang di Indonesia pun memiliki makna mendalam dalam konteks ini.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Memasuki hari ketujuh Ramadan, suasana puasa mulai terasa berbeda. Jika di awal bulan suci semangat masih menyala dengan antusiasme, kini sebagian orang mulai merenung: apakah puasa yang dijalani benar-benar menghadirkan ketenangan batin? Di tengah rutinitas pekerjaan, tekanan hidup modern, dan tuntutan sosial yang kian kompleks, pertanyaan tentang makna ketenangan menjadi semakin relevan. Ramadan bukan sekadar ibadah fisik menahan lapar dan dahaga, melainkan momentum membersihkan ruang terdalam dalam diri hati dan kesadaran spiritual.
Baca juga: Ramadan saat Musibah, Menag Ingatkan Hikmah Ujian sebagai Kenaikan Kelas
Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, dalam refleksinya bertajuk “Ramadan Hari Ketujuh: Menggapai Ketenangan Batin” mengingatkan bahwa ketenangan bukanlah sesuatu yang cukup dipahami secara teori. Ia adalah buah dari proses panjang dalam perjalanan spiritual seseorang.
“Kita bisa dengan mudah menasihatkan ketenangan batin kepada orang lain, tetapi kita sendiri kadang sulit mengamalkannya. Kesulitan tidak terletak pada bagaimana memahami hakikat ketenangan itu, tetapi bagaimana bersahabat dengan kenyataan apa pun yang dialami setiap hari,” ujar Nasaruddin dalam keterangannya, Rabu (25/2/2026).
Menurutnya, ketenangan batin lebih tepat dipahami sebagai akibat, bukan sekadar tujuan yang bisa diraih secara instan. Ada yang menganggap ketenteraman sebagai anugerah Tuhan, namun tetap diperlukan ikhtiar untuk menjaga dan merawatnya. Tantangan justru sering muncul ketika hidup terasa “baik-baik saja”. Dalam kondisi serba cukup, bahkan berlebih, seseorang bisa terlena dan merasa tak lagi membutuhkan kedekatan spiritual yang mendalam.
Sebaliknya, musibah, kesulitan, atau rasa penyesalan justru kerap menjadi pintu masuk menuju kedekatan dengan Tuhan. Situasi sulit sering menggugah kesadaran bahwa manusia memiliki keterbatasan, sehingga terdorong untuk lebih bersandar kepada Allah SWT.
Baca juga: Penjelasan Spiritual Menag Tentang Puasa, Ruang Detoks Mental hingga Lenyapkan Stres
Untuk memahami posisi diri dalam kehidupan, Nasaruddin menjelaskan konsep tiga tingkatan kebutuhan dalam Islam. Pertama, dharury atau kebutuhan pokok seperti makan, minum, dan kebutuhan biologis suami-istri. Kedua, hajjiyat atau kebutuhan penting seperti tempat tinggal, kendaraan, dan alat komunikasi. Ketiga, tahsiniyyat, yakni kebutuhan pelengkap atau kemewahan seperti perabot bermerek, aksesori kendaraan, hingga gawai canggih.
Menurutnya, mereka yang telah berada pada tingkat kedua dan ketiga perlu meningkatkan kewaspadaan spiritual. Dalam kondisi berkecukupan, daya tarik dunia bisa begitu kuat hingga perjalanan rohani justru melambat. Ramadan hadir sebagai ruang evaluasi: apakah manusia mengendalikan kebutuhannya, atau justru dikendalikan oleh keinginan yang terus bertambah?
Lebih jauh, Nasaruddin menyoroti dua beban berat yang menjadi penghalang ketenangan batin. Beban pertama adalah rasa berdosa kepada Allah SWT akibat pelanggaran terhadap ajaran-Nya, seperti berbohong, korupsi, atau membuka aib orang lain. Beban kedua adalah rasa bersalah kepada sesama manusia, seperti mengingkari janji, berkhianat, memfitnah, atau menzalimi.
Selama dua beban ini masih tersimpan dalam hati, ketenangan sejati sulit dirasakan. Ramadan, kata dia, adalah momentum untuk “membakar” beban tersebut. Secara etimologis, Ramadan berarti panas yang membakar. Membakar dosa-dosa melalui amal kebajikan, ibadah yang khusyuk, serta pertobatan yang sungguh-sungguh.
Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an, Surah Hud ayat 114: “Innal hasanati yudzhibnas sayyi’at” (Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik menghapuskan kesalahan-kesalahan).
Dengan mengoptimalkan ibadah Ramadan, seorang Muslim diharapkan kembali dalam keadaan bersih, sebagaimana bayi yang baru lahir tanpa dosa. Idul Fitri bukan sekadar perayaan kemenangan, melainkan simbol kembalinya manusia kepada fitrah yang suci.
Baca juga: Menteri Agama Nasaruddin Umar Datangi KPK, Lapor Penggunaan Jet Pribadi OSO
Tradisi Halal bi Halal yang berkembang di Indonesia pun memiliki makna mendalam dalam konteks ini. Jika Ramadan membersihkan dosa kepada Allah secara vertikal, maka Halal bi Halal menjadi sarana membersihkan kesalahan antarsesama secara horizontal. Saling memaafkan bukan sekadar ritual sosial, tetapi upaya konkret melepaskan beban batin yang selama ini mengendap.
Memasuki hari ketujuh Ramadan, refleksi ini menjadi pengingat bahwa ketenangan batin tidak terletak pada seberapa banyak harta, jabatan, atau pencapaian yang dimiliki. Ia tumbuh dari hati yang bersih, bebas dari rasa berdosa dan rasa bersalah. Pada akhirnya, ketenangan bukan dicari di luar diri, melainkan dibangun dari keberanian untuk membersihkan dan menata ulang isi hati.
Baca tanpa iklan