MESKIPUN secara fisik puasa membuat kita lemah, namun tidak spiritualitas dan religiusitas. Puasa sejatinya, mesti mampu lebih mengaktifkan spiritualitas dan religiusitas seseorang. Apa itu spiritualitas dan religiusitas, apakah sekedar beragama (eksoteris), tentu saja bukan.
Akan tetapi keduanya adalah konsep inti dari beragama (esoteric). Esensi dan sekaligus substansi dari keberagamaan. Keduanya adalah wilayah pencapaian, wilayah kesadaran tentang kehadiran Tuhan dalam keberagamaan.
Spiritualitas dan religiusitas adalah energi yang dapat mengerakkan keimanan seseorang, rasa kesejatian beragama, dan kesadaran intelektualitas beragama. Manifestainya bisa berupa ketekunan menjalankan ibadah, kenikmatan menjalankan ibadah, tanggung jawab atas ibadah serta pertumbuhan kesadaran intelektual tentang sesuatu yang suci (sacred and divine).
Kalau kita sederhanakan konsep filosofis di atas, ketika sinyal spiritualitas dan religiusitas kita “on”, maka di balik tubuh yang lemah karena berpuasa, akan mengalir energi yang besar yang mampu mentransendesi kelemahan fisik tersebut.
Jalaludin Rumi sering mengibaratkan tubuh yang berpuasa ibarat kecapi dan seruling atau api yang membakar. “Puasa adalah api, yang membakar nafsu dan keinginan dunia”. Orang yang perutnya kosong karena puasa seperti kosongnya perut kecapi atau seruling, yang karena kosong itulah kecapi dan seruling bisa berbunyi. Dari keduanya keluarlah nada-nada indah kerinduan kepada asalnya (serumpun bambu).
Ilustrasi Rumi ini adalah bahasa lain, ketika spiritualitas dan religiusitas bermekaran di saat seseorang berpuasa dengan baik dan benar. Karena dari seorang yang berpuasa tersebut akan keluar lantunan ayat al quran, untaian dzikir yang terus mengalun, lisan yang bertutur lembut, mata yang berbinar dengan keteduhan kasih sayang, serta perbuatan yang berhias keramahan, kelembutan dan kepedulian.
Mudah saja mendeteksinya, jika dengan puasa yang telah kita lakukan tidak dapat menghidupakan sinyal spiritualitas dan religiusitas, maka kita harus mawas diri. Manakala puasa tidak membuat kita lebih tekun beribadah, tidak membuat lebih bersemangat melakukan perbuatan baik, tidak membuat kita mampu mengontrol ucapan dan tindakan.
Dengan puasa malah membuat kita sibuk memburu dunia, lebih berambisi dengan jabatan dan kedudukan dunia, bahkan dengan menghalalkan segala cara. Maka bisa jadi ini pertanda sinyal spiritualitas dan religiusitas kita “off”. Nabi menyindir dengan bahasa, “puasa hanya mendapatkan lapar dan dahaga”.
Para ulama mengibaratkan puasa adalah madrasah, kawah candra dimuka, tempat mengasah ketajaman spiritualitas dan religiusitas. Makanya, mujahaddah (exercise)nya “berat”, karena yang ditargetkan terjadi perubahan adalah tantangan terbesar bagi manusia.
Nabi mengandaikan sebagai peperangan terbesar dan terberat, “jihad akbar”. Jihad melawan hawa nafsu, dorongan dan serangan terberat dari “musuh” yang ada dalam diri kita sendiri. Secara fisik tidak terlihat, namun daya serangnya lebih dahsyat dari serangan musuh dari luar diri.
Wajar kemudian, imbalannya tidak main-main. Allah menegaskan “semua amal perbuatan manusia untuk nya, kecuali puasa, puasa untuk-Ku, dan Akau akan membalasnya”.
Ketika sinyal spiritual dan religiusitas manusia “on fire”, maka di saat itulah kemanusiaan manusia itu menonjol. Kemanusiaan yang dimaksud adalah nilai-nilai kemanusiaan, menjadi manusia (becoming). Eksistensinya sebagai manusia muncul dan mengemuka. Ketika kemanusiaan ini muncul, maka mandat kekhalifahan baru dapat diemban oleh manusia.
Pertanyaannya, apakah dengan waktu satu bulan cukup untuk menumbuhkan potensi tersebut menjadi manifest? Jawabannya tergantung kepada effort manusia dan kerindhaan Allah SWT. Secara matematis barangkali tidak mudah (untuk tidak mengatakan mustahil) untuk satu misi besar, namun semua kembali kepada hitungan matematika Allah (apa yang tidak mungkin bagi-Nya). Secara rendah hati kita bisa menyatakan, mungkin tidak mudah untuk dicapai. Idealnya sepanjang tahun adalah Ramadhan, sehingga kita tetap ada dalam atmosfir yang “terjaga”, tapi Allah lebih mengetahui di balik semua rahasia syari’at-Nya.
Semesta kesadaran ini kita dapatkan dari kontemplasi terhadap ibadah puasa Ramadhan. Ini sebuah pertanda bahwa, selain menghidupkan sinyal spiritualitas dan religiusitas, puasa juga menghidupkan sinyal intelektualitas.
Sedikit naif penulis, karena jika kita membaca diskursus ini dalam kacamata perennialisme, intelektualitas adalah fakultas yang tumbuh dalam taman yang sama dengan spiritualitas dan religiusitas. Karena tidak ada pengetahuan yang kita miliki, kecuali yang dilimpahkan oleh Allah SWT. Ini sekedar mempermudah saja, dengan distingsi secara diskursif. Namun kontruks epistemologisnya ketiganya tumbuh dalam “ayunan yang sama”.
Mengapa intelektualitas juga tumbuh saat kita berpuasa, karena di bulan ramadhan kita dianjurkan untuk banyak melakukan muhasabah (introspeksi), mengevaluasi diri, agar pikiran dan hati kita terbimbing kepada jalan kebenaran (jalan cahaya). Kata tadarrus quran, boleh jadi dimaknai sempit sebatas tilawah quran, namun dalam makna yang luas dapat dimaknai juga sebagai belajar, mendalami, menekuni kandungan al quran.
Kalau kosa katanya kita rubah sedikit dengan tadarrus sosial, maka maknaya bisa berarti mempelajari, mendalami dan menganalisis segala yang terjadi dalam kehidupan umat manusia. Realitas sosial dan politik menjadi bahan bacaan, yang harus ditadaruskan.
Apakah konsep ini arbitrer (dipaksakan), tentu saja tidak. Terbatas ruang untuk mendedahkan semua konsep dalam tulisan yang terbatas ini, tapi ringkasnya dapat dinyatakan bahwa, dimensi spiritualitas dan religiositas dari puasa, tidak hanya berdimensi personal, akan tetapi lebih bersfektif sosial. Karena, perintah menahan lisan untuk tidak berkata kasar ini tentu berdimensi kepada orang lain.
Berlaku sabar, tentu juga terkait dengan hubungan dengan orang lain. Menekan dan mengendalikan ambisi dan syahwat, juga berdimensi terhadap orang lain. Jadi, salah betul jika, puasa dianggap ibadah monolitik, hanya untuk anda pribadi. Semua syari’at puasa dimensinya dari pribadi untuk sosial (komunal).
Akan berkurang kualitas puasa kita manakala, kita berpuasa, tapi membiarkan manusia lain kelaparan. Kita berpuasa, tetapi tidak perduli dengan apa yang terjadi di sekeliling kita. Membiarkan kebatilan dan kerusakan terjadi tanpa sedikitpun kepedulian. Jadi, puasa itu bukan egoistic, puasa itu mengajarkan kita menjadi manusia yang berdimensi sosial.
Kebagusan akhlaq dan budi pekerti kita secara personal bukan untuk kebanggaan diri, tapi untuk membaguskan akhlaq dan budi pekerti kolektif kita. Puasa yang hanya sibuk membaguskan diri sendiri, tapi tidak membaguskan relasi sosial dan lingkunganya adalah bentuk kedungguan dalam beragama.
Agama itu untuk memperbaiki kualitas manusia-manusia yang terhimpun dalam apa yang disebut dengan masyarakat. Memperbaiki kualitas masyarakat, adalah bagian dari upaya memperbaiki negara.
Dapat disimpulkan dengan mujahaddah puasa yang baik dan berpengetahuan, baik syari’at dan hakikat, akan menghidupkan sinyal spiritualitas, religiusitas dan intelektualitas seseorang.
Dengannya, akan menghidupkan manusia multi dimensi, tidak berhenti pada station baik secara personal, akan tetapi meneruskan perjalannya menuju station baik secara sosial. Puasa yang demikian tidak hanya akan mendapatkan pahala, akan tetapi juga sekaligus sebagai obat anti kedungguan. wa Allah a’alam bi shawab
Baca tanpa iklan