News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Ramadan 2026

Jadwal Imsakiyah Kota Samarinda, Minggu 8 Maret 2026

Penulis: Muhamad Deni Setiawan
Editor: Suci BangunDS
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

JADWAL IMSAKIYAH - Umat muslim menjalankan ibadah shalat Ashar di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Senin (23/2/2026). Bulan Ramadhan menjadi bulan yang penuh berkah bagi umat muslim yang menjalankan ibadah.

TRIBUNNEWS.COM - Berikut jadwal imsakiyah untuk wilayah Kota Samarinda, Kalimantan Timur, pada Minggu, 8 Maret 2026.

Jadwal imsakiyah ini memuat informasi waktu imsak, Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, hingga Isya sebagai panduan umat Islam dalam menjalankan ibadah puasa Ramadan.

Waktu imsak menjadi penanda berakhirnya sahur, sementara azan Magrib menandai waktu berbuka puasa.

Adapun jadwal imsak di Samarinda pada Minggu ialah pukul 04.54 Wita, kemudian Subuh pada 05.04 Wita.

Sementara itu, Magrib yang menandakan waktu berbuka puasa berkumandang pada 18.29 Wita. Berikut jadwal selengkapnya.

Jadwal Imsakiyah
Minggu, 08 Maret 2026 (18 Ramadan 1447 H)
KOTA SAMARINDA
Imsak 04:54
Subuh 05:04
Zhuhr 12:26
‘Ashr 15:33
Maghrib 18:29
‘Isya’ 19:37

Doa Niat Berpuasa

Bacaan niat puasa Ramadan:

Nawaitu shauma ghodin ‘an ada’i fardhi syahri ramadhana hadzihis sanati lillahi ta‘ala.

Artinya: "Aku berniat berpuasa esok hari untuk menunaikan kewajiban di bulan Ramadhan tahun ini karena Allah Ta’ala."

Baca juga: Bicara Safari Ramadan Polri, Boni Hargens: Bentuk Nyata Polisi Bertransformasi

Puasa Itu Baik, Tapi Kurang Tidur Bisa Jadi Masalah

Ramadan identik dengan suasana yang berbeda. 

Malam terasa lebih hidup, aktivitas bertambah, dari tarawih, sahur, sampai nonton atau kumpul keluarga.

Tapi di balik itu, ada satu kebiasaan yang sering luput disadari, waktu tidur jadi lebih singkat.

Padahal menurut Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Subspesialis Kardiologi Intervensi RS Pondok Indah – Pondok Indah, dr. Nanda Iryuza Sp. J.P, Subsp. K.I. (K), puasa justru sangat baik untuk jantung, selama kebutuhan tidur tetap terpenuhi.

“Oke, selama puasa. Jadi puasa sendiri itu sebenarnya adalah seorang yang sangat baik buat jantung. Satu-satunya hal yang, saya bukan bilang bahwa, ini nggak bagus sih, orang puasa itu saya entah kenapa jadi waktu tidurnya lebih singkat," ungkapnya pada media briefing di Jakarta, Kamis (5/3/2026).

Sejumlah anak mengikuti kegiatan pesantren kilat Ramadan di RPTRA Malinjo, Jakarta, Minggu (1/3/2026). Kegiatan pesantren kilat yang dilaksanakan setiap bulan Ramadan tersebut diikuti puluhan peserta dari siswa jenjang TK-SD yang dibimbing oleh kelompok TP PKK Pejaten Barat untuk membekali ilmu agama anak usia dini, seperti belajar membaca Al-Quran dan Iqra, menghafal surat-surat pendek, menghafal doa-doa harian hingga edukasi tentang sejarah islam melalui dongeng dan film. (TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN)

Menurut dr Nanda, puasa memberi kesempatan tubuh untuk melakukan reset alami. 

Saat tidak ada asupan makanan sepanjang hari, sistem tubuh termasuk jantung mendapat waktu istirahat dari ritme makan yang terus-menerus.

Ia menggambarkan bagaimana pada hari biasa orang cenderung makan tanpa jeda: pagi sarapan, siang makan, sore ngemil, malam makan lagi. 

Bahkan di sela-selanya masih ada kopi atau camilan tambahan.

Tubuh sebenarnya punya sinyal kapan harus beristirahat, terutama pada malam hari. Dalam kondisi normal, detak jantung akan menurun saat waktu tidur tiba.

Namun jika waktu istirahat terus ditunda, jantung seperti dipaksa bekerja lebih lama.

“Tetap jantung saya harus turun. Iya, tetap jantung. Kalau udah malam itu harus turun," imbuhnya. 

Artinya, malam hari adalah momen alami bagi jantung untuk menurunkan ritme kerjanya.

Baca juga: Jadwal Imsakiyah Kota Jayapura Minggu, 8 Maret 2026 Besok: Subuh Pukul 04:29 WIT

Dr Nanda menegaskan, tidak ada alasan menjadikan puasa sebagai pembenaran untuk tidur lebih larut dari biasanya.

“Kita nggak tuh puasa harus tidur lebih lama. Enggak. Tidur kita harus cukup sehari," lanjutnya. 

Ia mencontohkan, jika seseorang tidur pukul 21.00 dan bangun sekitar pukul 03.30 untuk sahur, itu sudah sekitar enam jam. Durasi tersebut dinilai cukup bagi orang dewasa.

Yang sering terjadi justru kebiasaan menunda tidur karena suasana Ramadan terasa lebih “hidup”. 

Ada tayangan yang ingin ditonton, obrolan yang diperpanjang, atau aktivitas lain yang membuat waktu istirahat terpangkas.

Padahal, ketika tubuh terus dipaksa aktif tanpa jeda, jantung tidak mendapat fase pemulihan yang optimal.

Jantung Bukan Mesin Tanpa Batas

Dalam penjelasannya, dr Nanda mengibaratkan jantung seperti orang yang terus berlari. Kalau dipacu tanpa henti, tubuh pasti akan kelelahan.

Begitu juga dengan jantung. Ia memang tidak boleh berhenti, tetapi ritmenya harus turun saat malam hari. Jika tidak, kelelahan akan menumpuk.

Karena itu, tidur menjadi faktor yang sangat krusial selama Ramadan.

Puasa bisa menjadi momen terbaik untuk mereset tubuh. Namun reset itu tidak akan maksimal jika di saat yang sama kita justru mengurangi waktu istirahat.

Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga tentang lebih mindful terhadap tubuh sendiri. 

Mendengar sinyal lelah, menghargai kebutuhan tidur, dan menjaga ritme alami jantung.

Sebab menjaga kesehatan jantung saat puasa bukan soal apa yang dimakan saat sahur dan berbuka saja, tetapi juga soal seberapa cukup kita memberi waktu tubuh untuk benar-benar beristirahat.

(Tribunnews.com/Deni)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini