News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Mutiara Ramadan

Ramadan Jadi Momen Melatih Kesabaran dan Membersihkan Hati

Penulis: Yunita Rahmayanti
Editor: Sri Juliati
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ringkasan Berita:

  • Gus Syarif Hidayatullah menjelaskan Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga membersihkan hati dan meningkatkan ketakwaan.
  • Ia mengajak umat Islam menjaga semangat ibadah hingga akhir Ramadan serta meraih malam Lailatul Qadar.
  • Mengutip kitab Lathaif al-Ma'arif, ia menegaskan pahala amal dilipatgandakan, terutama puasa.
  • Puasa juga menjadi latihan kesabaran dan pengendalian diri. 

TRIBUNNEWS.COM - Ramadan adalah bulan yang selalu dinantikan oleh umat Islam di seluruh dunia, di mana setiap muslim berusaha meningkatkan ibadah dan memperbaiki diri. 

Dalam sebuah ceramah bertajuk Ramadan dan Penyucian Hati, Gus Syarif Hidayatullah dari Lembaga Bahtsul Masail PCNU Surabaya menjelaskan, Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga tentang membersihkan hati serta meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

“Insyaallah semangat kita ini tidak hanya di awal Ramadan saja, tetapi sampai akhir bulan,” ujarnya dalam tayangan YouTube Tribunnews program Mutiara Ramadan 2026.

Ia mengajak umat Islam untuk terus menjaga semangat beribadah dan berdoa agar Allah memberikan kesehatan serta kelancaran sehingga puasa dapat dijalankan dengan sebaik-baiknya.

Ramadan sebagai Waktu Penyucian Hati

Menurut Gus Syarif, Ramadan memiliki makna penting bagi kehidupan spiritual seorang muslim karena bulan ini menjadi momentum untuk menyucikan jiwa dan memperbaiki hati.

Ia mengingatkan bahwa perintah puasa dalam Al-Qur’an bertujuan agar manusia menjadi pribadi yang lebih bertakwa. 

“Poin utama dari kewajiban puasa adalah agar kita menjadi orang yang semakin dekat dan bertakwa kepada Allah,” jelasnya.

Dengan kata lain, puasa bukan hanya ibadah fisik, melainkan juga latihan spiritual untuk menata hati, memperbaiki niat, dan meningkatkan kualitas iman.

Baca juga: Keutamaan Bersedekah di Bulan Ramadan, Raih Pahala Berlipat hingga Menolak Bala

Pahala Berlipat Ganda di Bulan Ramadan

Dalam penjelasannya, Gus Syarif mengutip keterangan dari kitab Lathaif al-Ma'arif karya ulama besar Zainuddin Abul Faraj Abdurrahman Ibn Rajab al-Hanbali.

Kitab tersebut menjelaskan bahwa setiap amal manusia pada dasarnya kembali kepada dirinya sendiri. 

Namun khusus umat Nabi Muhammad, satu kebaikan akan dibalas sepuluh kali lipat.

Bahkan, dalam beberapa ayat Al-Qur’an dijelaskan bahwa pahala tersebut bisa dilipatgandakan hingga ratusan kali. 

Gus Syarif mencontohkan perumpamaan dalam Al-Qur’an tentang satu benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, dan setiap tangkai memiliki seratus biji.

“Itulah gambaran betapa besar rahmat Allah kepada hamba-Nya,” ujarnya.

Namun ada satu ibadah yang memiliki keistimewaan tersendiri, yaitu puasa. 

Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Allah berfirman bahwa puasa dilakukan semata-mata untuk-Nya, dan Dia sendiri yang akan memberikan balasannya.

Hal ini menunjukkan bahwa puasa memiliki nilai spiritual yang sangat tinggi di sisi Allah.

Puasa sebagai Latihan Kesabaran

Selain menyucikan hati, puasa juga merupakan latihan kesabaran. Gus Syarif menjelaskan bahwa Ramadan sering disebut sebagai bulan kesabaran.

Bahkan dalam hadis disebutkan bahwa puasa adalah setengah dari kesabaran.

Artinya, orang yang menjalankan puasa sebenarnya sedang melatih diri untuk mengendalikan hawa nafsu dan memperkuat kesabaran.

“Orang yang berpuasa harus siap secara lahir dan batin untuk menjalankan ibadah dengan penuh kesabaran,” jelasnya.

Tiga Bentuk Kesabaran dalam Puasa

Dalam kitab yang sama disebutkan bahwa kesabaran memiliki tiga bentuk utama.

Pertama adalah sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah. Misalnya, bersabar menjalankan puasa, salat, dan ibadah lainnya meskipun terkadang terasa berat.

Kedua adalah sabar dalam menjauhi perbuatan maksiat. Selama Ramadan, seorang muslim dituntut untuk menjaga diri dari hal-hal yang dilarang oleh Allah.

Ketiga adalah sabar dalam menghadapi takdir Allah yang tidak selalu sesuai dengan keinginan manusia.

Menariknya, ketiga bentuk kesabaran tersebut sebenarnya tercermin dalam ibadah puasa.

Orang yang berpuasa harus bersabar dalam menjalankan ibadah, menahan diri dari hal-hal yang dilarang, serta menahan rasa lapar dan haus.

Hakikat Cinta kepada Allah

Di akhir ceramahnya, Gus Syarif mengutip kisah seorang ulama bernama Dhu al-Nun al-Misri yang pernah ditanya tentang hakikat cinta kepada Allah.

Menurut ulama tersebut, seseorang akan benar-benar mencintai Allah ketika ia mampu meninggalkan sesuatu yang dibenci oleh Allah, meskipun hal itu sebenarnya ia sukai.

“Kalau sesuatu yang dibenci oleh Allah masih kita lakukan, maka cinta kita kepada-Nya belum sempurna,” kata Gus Syarif.

Contoh sederhana adalah makan dan minum.

Dalam keadaan normal, hal itu diperbolehkan, namun ketika berpuasa, seorang muslim rela meninggalkannya demi ketaatan kepada Allah karena itulah bukti cinta kepada Allah.

Gus Syarif mengajak umat Islam untuk memanfaatkan bulan Ramadan dengan sebaik-baiknya.

Ia berharap setiap muslim dapat menjalankan puasa dengan penuh kesungguhan sehingga mendapatkan keberkahan yang besar dari Allah.

“Semoga Allah memberikan kita kesehatan dan kemudahan sehingga kita dapat menyempurnakan puasa Ramadan,” ujarnya.

Ia juga berharap umat Islam dapat meraih malam yang sangat istimewa di bulan Ramadan, yaitu Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini