News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Mudik Lebaran 2026

Tak Hanya Indonesia, Ini Daftar Negara yang Punya Tradisi Mudik

Penulis: Namira Yunia Lestanti
Editor: Yurika NendriNovianingsih
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ringkasan Berita:

  • Tradisi mudik saat Idul Fitri di Indonesia melibatkan sekitar 143,91 juta orang, memicu lonjakan transportasi dan kemacetan besar di berbagai jalur utama.
  • Tradisi serupa terjadi di banyak negara seperti China (Chunyun), India (Diwali, Holi), Korea Selatan (Seollal, Chuseok), hingga Malaysia (balik kampung).
  • Negara seperti Amerika Serikat, Vietnam, dan Turki juga mengalami lonjakan perjalanan besar saat hari raya, menyebabkan kepadatan ekstrem di jalan, bandara, dan transportasi umum.

TRIBUNNEWS.COM - Tradisi mudik atau pulang kampung menjelang Idul Fitri menjadi fenomena tahunan yang sangat melekat di Indonesia.

Di Indonesia, mudik identik dengan Idul Fitri. Tradisi ini tidak hanya soal perjalanan, tetapi juga menjadi momen mempererat hubungan keluarga, ziarah, hingga berbagi rezeki.

Arus mudik biasanya memicu lonjakan besar pada transportasi darat, laut, dan udara, serta kemacetan panjang di jalur utama.

Hal tersebut karena jutaan masyarakat berbondong-bondong kembali ke kampung halaman untuk merayakan Lebaran bersama keluarga.

Kementerian Perhubungan memperkirakan potensi pergerakan masyarakat pada Lebaran 2026 mencapai sekitar 143,91 juta orang atau 50,60 persen dari total populasi.

Meski sedikit menurun dibanding tahun sebelumnya, angka ini tetap menunjukkan bahwa mudik menjadi salah satu mobilitas terbesar di dunia.

Negara yang Punya Tradisi “Mudik” saat Hari Besar

Namun, tradisi serupa ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia.

Sejumlah negara di berbagai belahan dunia juga memiliki budaya “pulang kampung” dalam skala besar saat momen keagamaan atau festival penting.

Berikut daftar negara yang emiliki budaya “pulang kampung” dalam skala besar sebagaimana dikutip dari sejumlah sumber.

China

Melansir dari Global Komunika, China memiliki tradisi mudik dikenal dengan istilah Chunyun, yang terjadi saat Tahun Baru Imlek.

Periode ini disebut sebagai migrasi manusia terbesar di dunia, dengan ratusan juta orang melakukan perjalanan pulang kampung.

Chunyun berlangsung sekitar 40 hari, dan pemerintah meningkatkan kapasitas transportasi secara besar-besaran untuk mengakomodasi lonjakan penumpang.

Baca juga: Daftar Kecelakaan Kendaraan Akibat Jalan Berlubang saat Arus Mudik Lebaran 2026

India

Di India, tradisi pulang kampung terjadi saat festival besar seperti Diwali, Holi, dan Durga Puja.

Setiap perayaan memicu gelombang perjalanan besar karena masyarakat ingin berkumpul bersama keluarga.

Transportasi umum sering kali penuh, dan jalanan mengalami kemacetan parah selama periode tersebut.

Korea Selatan

Di Korea Selatan, tradisi mudik terjadi saat Seollal atau tahun Baru Imlek yang digelar akhir Januari atau awal Februari dan Chuseok atau festival panen pada bulan September atau Oktober.

Di momen tersebut biasanya masyarakat kembali ke kampung halaman untuk menghormati leluhur dan berkumpul bersama keluarga.

Periode ini dikenal dengan kemacetan ekstrem hingga menyebabkan lonjakan harga tiket transportasi.

Sama seperti Indonesia, di Malaysia tradisi ini dikenal sebagai balik kampung, yang terjadi menjelang Hari Raya Idul Fitri.

Jutaan warga meninggalkan kota besar seperti Kuala Lumpur menuju kampung halaman.

Meski memiliki kesamaan dengan tradisi mudik di Indonesia, skala balik kampung di Malaysia relatif lebih kecil seiring jumlah penduduk yang lebih sedikit.

Namun demikian, dampaknya terhadap mobilitas nasional tetap signifikan, terutama dalam hal kepadatan lalu lintas dan peningkatan kebutuhan transportasi.

Kondisi ini berdampak pada lonjakan volume kendaraan di jalan tol utama, terutama di jalur North-South Expressway, yang kerap mengalami kemacetan panjang.

Amerika Serikat

Di Amerika Serikat, peningkatan perjalanan terjadi saat periode libur besar seperti Thanksgiving, Natal, dan Tahun Baru.

Thanksgiving tercatat sebagai salah satu momen perjalanan tersibuk dalam setahun.

Jutaan warga melakukan perjalanan lintas negara bagian untuk berkumpul dan makan malam bersama keluarga, sebuah tradisi yang telah mengakar kuat dalam budaya Amerika.

Mayoritas perjalanan di Amerika Serikat dilakukan menggunakan mobil pribadi, mengingat luasnya jaringan jalan raya antar negara bagian.

Selain itu, transportasi udara juga mengalami lonjakan signifikan, dengan bandara-bandara utama dipadati penumpang.

Kondisi ini kerap memicu kemacetan panjang di jalan tol serta antrean di bandara, terutama menjelang puncak liburan.

Vietnam

Sementara itu, di Vietnam, fenomena serupa terjadi saat perayaan Tết Nguyên Đán atau Tahun Baru Imlek.

Momen ini menjadi periode migrasi terbesar dalam setahun, ketika jutaan pekerja di kota besar pulang ke kampung halaman.

Kota-kota seperti Hanoi dan Ho Chi Minh City mengalami eksodus besar-besaran yang menyebabkan penurunan aktivitas ekonomi sementara di pusat kota.

Tingginya permintaan perjalanan membuat tiket transportasi baik kereta, bus, maupun pesawat habis jauh hari sebelum perayaan.

Sistem transportasi nasional sering kali berada di bawah tekanan akibat lonjakan penumpang, bahkan tidak jarang terjadi kepadatan ekstrem di terminal dan stasiun.

Turki

Fenomena mudik juga terlihat di Turki, khususnya saat perayaan Ramazan Bayramı (Idul Fitri) dan Kurban Bayramı (Idul Adha).

Warga dari kota besar seperti Istanbul dan Ankara berbondong-bondong kembali ke daerah asal, baik desa maupun kota kecil.

Lonjakan perjalanan ini berdampak langsung pada kepadatan lalu lintas di jalan tol utama serta peningkatan jumlah penumpang di terminal bus dan bandara.

Kemacetan panjang menjadi pemandangan rutin setiap musim liburan, mendorong pemerintah setempat untuk menerapkan berbagai rekayasa lalu lintas guna mengurai kepadatan.

Secara umum, fenomena perjalanan massal ini menunjukkan kesamaan pola di berbagai negara meningkatnya mobilitas dalam waktu singkat, tekanan pada infrastruktur transportasi, serta kuatnya nilai budaya yang mendorong masyarakat untuk berkumpul bersama keluarga.

Tradisi ini tidak hanya menjadi bagian dari identitas budaya, tetapi juga mencerminkan pentingnya hubungan sosial di tengah kehidupan modern.

(Tribunnews.com / Namira)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini