Laporan Wartawan Tribun Jogja, Wicaksono/Bramasto
TRIBUNNEWS.COM, YOGYAKARTA - Berkali-kali Maridi mengaku tidak mengalami kerugian apapun. Ia mengaku rela dagangannya diambil warga untuk dikonsumsi karena kelelahan usai kerja bakti. Apalagi, semuan barang-barang termasuk makanan-minuman seharga total Rp 30 ribu yang dimakan para tetangganya tersebut, tak lagi ia pikirkan.
"Ketika meninggalkan rumah dan toko untuk mengungsi sejak letusan pertama, 26 Oktober lalu, saya hanya memikirkan keselamatan keluarga," katanya.
Maridi bahkan mengaku tidak ingat lagi apa barang-barang yang tersisa di tokonya.
"Barang- barang berharga sudah saya bawa ke pengungsian, termasuk sapi. Seingat saya, yang tersisa di toko hanya minuman ringan dan makanan kecil," kata bapak dua orang anak tersebut.
Pria yang sebelum letusan Merapi berprofesi sebagai penggali pasir di Kali Gendol di Lereng Merapi itu juga mengaku tak tega ketika harus ikut menyaksikan rekonstruksi penjarahan di tokonya.
"Saya sebenarnya tidak mau ketika diminta ikut menyaksikan reka ulang. Wong saya tidak melihat kejadian itu, tidak pernah melapor, dan tidak merasa dirugikan. Pengambilan barang itu terlalu kecil kalau disebut sebagai penjarahan," katanya.
Alasannya itu manusiawi, terlebih satu di antara warga setempat yang dijadikan polisi sebagai tersangka, Hengky Gunarto, merupakan keponakannya.
"Lha keponakan saya dan warga lainnya kan kehausan setelah bekerja bakti. Memang, ketika saya tinggal mengungsi, rooling door toko saya kunci. Saya tak tahu bagimana warga membukanya," tambah Maridi yang sudah sembilan kali pindah lokasi pengungsian.
Pengungsi Merapi Dituduh Jarah Minuman Ringan
Aku tak Tega Saksikan Reka Ulang
Editor: Hasiolan Eko P Gultom
AA
Text Sizes
Medium
Large
Larger
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca tanpa iklan