Ditambahkan Sugeng, selama 2011, serangan tikus di Tulungagung lebih hebat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Ini karena cuaca pada 2010 nyaris tanpa musim panas. Lingkungan lembap dan basah memicu tikus untuk terus berkembang biak. Kondisi ini didukung dengan melimpahnya air yang membuat petani terus menanam padi sepanjang tahun. Akibatnya siklus reproduksi tikus tidak pernah terputus.
Masih menurut Sugeng, dari sekitar 50.000 hektare tanaman padi di Tulungagung, sebanyak 160 hektare di antaranya sudah diserang tikus dan 12 hektare lainnya puso alias gagal panen.
Namun, papar Sugeng, serangan tikus belum melumpuhkan produksi padi di kota marmer, karena areal yang terserang tersebar di 15 (dari 19) kecamatan. Setiap hektare tanaman padi, rata-rata menghasilkan 6,1 ton gabah. Sehingga secara tahun ini Tulungagung masih bisa menghasilkan sekitar 304.024 ton gabah.
Baca tanpa iklan