News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tambang Besi LKT Cemari Kebun Warga

Editor: Hendra Gunawan
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

TRIBUNNEWS.COM, BLANGPIDIE - Meskipun baru sebatas pekerjaan pembukaan badan jalan dalam kawasan areal tambang,  kegiatan PT Leuser Karya Tambang (LKT), perusahaan pertambangan bijih besi dalam kawasan pengunungan Alue Beringen, Gampong Pantee Rakyat, Kecamatan Babahrot, Aceh Barat Daya (Abdya), mulai berdampak terhadap kerugian mayarakat dan kerusakan lingkungan.

Endapan lumpur yang diseret arus banjir dari lokasi, mulai menggenangi belasan hektare areal padi sawah yang baru ditanam, tanaman coklat (kakao) dan kelapa sawit milik warga setempat.
 
Keuchik Gampong Pantee Rakyat, Asbar Has kepada Serambi, Jumat (17/2) menjelaskan, endapan lumpur yang menggenangi areal tanaman padi sawah, coklat dan kakao tersebut terjadi dalam peristiwa banjir, Rabu (15/2/2012) malam.

Lumpur warna kuning tersebut berasal dari lokasi areal perusahaan tambang PT LKT, kemudian diseret arus melalui anak sungai, Alue Beringen yang sudah dangkal. Lalu, merayap ke dalam areal tanaman padi dan tanaman perkebunan masyarakat yang berada di bawah areal lokasi areal tambang.
 
Areal tanaman padi sawah yang terkena endapan lumpur tersebut, menurut Keuchik Asbar Has, terutama kawasan Dusun Alue Beringen dan Dusun Lhok Meukek, dengan luas sekitar 10 hektar, kemudian tanaman kakao dan kelapa sawit. Belum lagi areal sawah dan perkebunan milik warga Dusun Genang Jaya, Gampong/Desa  Persiapan Rukon Dame, tetangga Gampong Pantee Rakyat.
 
Areal tanaman padi, kakao dan kelapa sawit yang mulai menerima endapan lumpur yang diserat arus Alue Beringen, menurut Keuchik Pantee Rakyat, Asbar Has, sudah ditinjau ke lokasi, Jumat (17/2/2012 ) kemarin.

Petani atau masyarakat pemilik tanaman menuntut ganti rugi kepada manajemen perusahaan PT LKT. Masyarakat juga meminta tanggungjawab pihak perusahaan atas kerusakan lingkungan sebagai dampak kegiatan usaha pertambangan di atas pengunungan Alue Beringen.
 
Dalam hal ini, kata Keuchik Asbar Has, pihak LKT harus menggali saluran pencucian, sehingga luapan anak sungai Alue Beringen yang membawa lumpur sewaktu hujan mengguyur, tidak merap kemana-mana. Pasalnya, Alue Beringen sangat rawan banjir.  

“Dalam hal ini, atas permintaan pihak perusahaan, kita (aparatur desa/gampong) sudah melakukan rapat dengan masyarakat pemilik lahan yang tergena galian saluran cucian. Dalam rapat tersebut, masyarakat minta ganti rugi lahan Rp 10.000/meter,” ungkap Keuchik Asbar Has.
 
Keuchik Pantee Rakyat menambahkan, saluran cucian sangat dibutuhkan sebagai antisipasi dampak kerugian sangat besar terhadap masyarakat setempat.

“Saat ini, kegiatan PT LKT, baru sebatas pembuatan badan jalan dalam kawasan areal tambang, tapi sudah berdampak terhadap kerugian masyarakat dan kerusakan lingkungan. Apalagi, bila sudah dimulai eksplorasi, dikhawatirkan akan terjadi dampak sangat besar,” demikian Keuchik Pantee Rakyat, Asbar Has.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini