Laporan Wartawan Tribun Timur, Ilham
TRIBUNNEWS.COM, PANGKEP - Merintih sembari berdoa meratapi kampung halaman yang penuh kisah pilu. Itulah jawaban puluhan warga Desa Mangilu Kecamatan Bungoro Kabupaten Pangkep saat ditanya wartawan Tribun Timur terkait kerusakan infrastruktur jalan, jembatan, dan debu yang tak hentinya beterbangan menyelimuti kampung mereka.
Puluhan warga Mangilu tersebut saat mengikuti pelatihan menulis citizen report ala Tribun Timur yang diselenggarakan mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) reguler Universitas Hasanuddin (Unhas) di Kantor Pustu Desa Mangilu, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, Kamis (5/4/2012).
"Terus terang dek, kami sudah hampir delapan tahun menderita hantaman debu seperti ini dek. Belum lagi jalan rusak, sumber air berkurang. Perusahaan Tonasa mestinya memperhatikan penderitaan 4000 warga desa Mangilu, mobil angkutan raksasa PT Semen Tonasa 24 jam lalu lalang di sini menyemburkan debu yang membuat kita sesak napas, jalanan juga rusak,"kata Sekretaris Desa Mangilu Muddatsir kepada Tribun Timur sambil menepih debu di kepalanya.
"Begini, Tonasa mengabaikan penderitaan warga. Setidaknya, perusahaan Tonasa punya tanggungjawab sosial kepada warga tapi itu semua tidak pernah ada. Lingkungan kami rusak, tiap hari kami makan debu. Perlu diketahui, 80 persen bahan semen Perusahan Tonasa berasal dari desa Mangilu ini," Muddatsir menambahkan.
Menurut Muddatsir, warga Mangilu hanya mengandalkan bantuan dana PNPM untuk membenahi desa mereka walaupun tidak mencukupi. PNPM hadir memberi pipa saluran air perkampungan tersebut.
Warga Desa Mangilu hanya mengandalkan sumber mata air yang jaraknya 1 km dari habitat mereka. Sebelum PNPM hadir membangun pipa air, mereka kebanyakan memikul air dari area sumber mata air tersebut.
Menggali sumur di desa sumber bahan semen utama PT Semen Tonasa tersebut merupakan hal yang sulit. Pasalnya warga dituntut alam menggali tanah bebatuan sedalam 50 meter untuk menemukan tetes air. "Perusahaan Tonasa tidak bisa diharap dan hanya merusak lingkungan. Untung ada pipa saluran air dan mesin pompa dari PNPM tapi itu pun belum cukup bagi warga," ujar Muddatsir.
Pemandangan desa Mangilu benar-benar pilu dan keruh akibat debu serta jalanan rusak. Dua masa bagi lingkungan Mangilu. Becek berlumpur dikala hujan dan debu tebal jika tak hujan.
Warga berjalan menyisir kampung mereka mengenakan penutup hidung. Anak-anak kecil kebanyakan terlihat menggaruk-garuk badan mereka karena gatal. Rumah-rumah warga pu tak luput dari selimut debu. Ngilu rasanya berkunjung di kampung itu.
Baca tanpa iklan