TRIBUNNEWS.COM,SUMENEP- Aksi penolakan terhadap keberadaan ekplorasi dan eksploitasi minyak dan gas (migas) PT Energy Mineral Langgeng (EML) di Desa Tanjung, Kecamatan Seronggi, Sumenep, Jumat (6/7/2012) berlangsung anarkhis.
Massa yang berjumlah sekitar 500 orang itu merusak sejumlah fasilitas pengeboran PT EML, mulai sejumlah papan kegiatan PT EML lalu membakarnya, bahkan merusak dan menggulingkan bus angkutan pegawai dan truk serta sebuah ambulans milik PT EML.
Aksi massa yang sebagian besar kaum perempuan dan ibu-ibu desa setempat, memulai aksinya pas sesudah sholat Jumat dengan berjalan kaki menuju lokasi pengeboran. Massa datang ke lokasi pengeboran karena terdengar kabar bahwa eksplorasi migas itu sudah beroperasi lagi setelah sebelumnya sempat dihentikan warga dan menolak ada eksplorasi migas di daerahnya.
Namun aksi massa yang hanya datang ingin mengetahui secara langsung apakah pengeboran itu dilanjutkan, dikabarkan dihadang masuk oleh petugas security EML. Bahkan akhirnya sempat bersitegang antara kedua belah pihak, lalu kemudian membuat amarah warga yang datang ke lokasi tersebut. Hingga akhirnya massa brutal dan tanpa di komando masuk ke areal pengeboran.
Massa lalu mengamuk terhadap ada saja yang ditemui di areal pengeboran. Petugas keamanan PT EML dan pekerja pengeboran tidak berkutik dan hanya terpaku ketika melihat sejumlah fasilitan PT EML dirusak massa. Termasuk ketika sebuah bus angkutan pegawai yang diparkir di sebelah kiri pintu masuk lokasi pengeboran digulingkan beramai-ramai.
Tidak hanya itu saja, sebuah truk yang biasa digunakan untuk mengangkut material pengeboran pun tidak luput dari sasaran. Dalam hitungan menit mobil roda 6 itu pun dijungkalkan. Sasaran berikutnya, sebuah ambulans yang diparkir di areal penginapan pekerja PT EML pun dirusak. Kaca depan sebelah kanan dihancurkan bahkan sudah sempat mau digulingkan juga.
Untung saja sebelum aksi massa berlanjut, puluhan petugas kepolisian dan aparat dari Kodim 0827 Sumenep tiba ke lokasi dan berhasil menghalau massa. Dan dalam hitungan menit lokasi pengeboran yang sebelumnya diduduki oleh pengunjukrasa barhasil dikuasai petugas keamanan.
"Awalnya kami tidak bermaksud berbuat begitu, karena kami hanya ingin mengetahui apakah janji mereka kepada kami untuk tidak melanjutkan operasinya karena kami menolak eksplorasi migas di daerah kami. Tetapi kami malah ditanggapi dengan sikap tidak bersahabat petugas EML," papar Suhartatik korlap aksi kepada wartawan.
Pihaknya bersama warga setempat tetap tidak akan pernah menerima atau mengizinkan eksplorasi migas di daerahnya. Karena masyarakat tidak mau dampak eksplorasi migas seperti yang terjadi di beberapa daerah di Jawa Timur seperti kasus lumpur Lapindo akan terjadi di Sumenep.
"Sampai kiamatpun kami akan tetap menolak eksplorasi migas di desa kami. Dan jika terus dilanjutkan, jangan salahkan kami bilamana kami berbuat menurut kami juga," ancam Suhartatik.
Sementara itu, Kapolres Sumenep, AKBP Dirin yang tiba di lokasi beberapa saat setelah kejadian itu langsung memerintahkan anggotanya untuk mengamankan lokasi pengeboran. Bahkan pihaknya telah memerintahkan pasukan untuk berjaga 24 jam di sekitar lokasi pengeboran PT EML.
"Untuk kasus pengrusakannya, kami akan selidiki terlebih dahulu dan menginventarisir barang-barang yang dirusak massa. Baru setelah itu akan kami tindaklanjuti dengan upaya hukum," papar Dirin.
Kapolres berharap massa tidak berbuat anarkhis lagi, dan bilamana ada hal yang perlu disampaikan agar dilakukan dengan jalur yang tepat yakni dengan unjukrasa damai. Karena bilamana berbuat anarkhis, pihaknya akan bertindak tegas terhadap siapapun pelakunya.
Baca tanpa iklan