News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Limpasan Lahar Merapi Bahayakan Warga

Editor: Hendra Gunawan
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Dusun Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, bekas kediaman Mbah Marijan terhampar di sisi Kali Kuning. Sudah mulai banyak rumah berdiri kembali di dusun yang hancur disapu awan panas.

Laporan Reporter Tribun Jogja, M. Fatoni dan Victor Mahrizal

TRIBUNNEWS.COM, YOGYA - Saat ini limpasan dari Gunung Merapi belum terasa berbahaya, dan lebih berefek positif bagi masyarakat sekitar, terutama para penambang pasir karena kualitas material yang terkandung dalam limpasan tersebut sangat bagus.  Namun sebenarnya limpasan gunung berapi tersebut menyimpan potensi bahaya besar.

Terlebih, saat musim hujan, khususnya ketika curah hujan yang sangat tinggi di puncak Merapi, potensi bahaya tersebut kian besar. Hal itu menuntut kewaspadaan tinggi bagi masyarakat yang berada di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Merapi.

Peneliti lahar dari Fakultas Geografi dan Pusat Studi Bencana (PSBA) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Danang Sri Hadmoko, memaparkan, limpasan yang ada di sungai yang berhulu di Merapi merupakan lahar. Limpasan tersebut berbeda dari limpasan sungai-sungai biasa.

Danang Sri Hadmoko memaparkan, limpasan yang ada di sungai yang berhulu di Merapi merupakan lahar. Limpasan tersebut tentunya berbeda dari limpasan di sungai-sungai biasa. "Kalau yang biasa kan limpasan hanya berupa air atau ada campuran lumpur. Tapi untuk yang dari Merapi, limpasan itu adalah lahar yang berisi pasir, batu, dan campuran sedimen lainnya," terangnya kepada Tribun Jogja, Senin (30/7/2012).

Dengan kata lain, lanjut Danang, limpasan dari sungai yang berhulu di Merapi itu juga memiliki potensi merusak tinggi. Hal itu dikarenakan kandungan material yang hanyut bersama limpasan tersebut.

Menurut Danang, lahar memiliki daya rusak tinggi yang dapat menghancurkan bangunan apapun yang dilewati. Terlebih, bila konsentrasi lahar tersebut tinggi, misalnya dengan adanya batuan dan material lain yang cukup besar.  "Apabila konsentrasi lahar tinggi, biasanya ada batuan yang rolling (memutar, Red) atau juga floating (mengambang, Red), bahkan ada juga yang hingga melompat keluar jalur yang dilalui. Ini yang berbahaya," tegasnya.

Limpasan seperti ini biasanya terjadi saat awal musim hujan, namun bukan berarti hujan pertama. Menurut Danang, hujan pertama dan kedua pada musim penghujan biasanya baru dalam tahap menggerus material-material yang ada di Merapi.  "Biasanya pada ketiga, keempat atau kelima sudah mulai ada pergerakan aliran lahar ini," tandasnya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini