News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Pasien DBD di RS Agoes Djam Membludak

Editor: Budi Prasetyo
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ilustrasi pasien pebderita DBD

TRIBUNNEWS.COM KETAPANG, -Pasien demam berdarah dengue (DBD)di Rumah sakit RSUD Agoes Djam Ketapang membludak. Sejumlah bangsal-bangsal anak yang tersedia di rumah sakit milik daerah tersebut sudah terisi penuh, bahkan ada satu kamar yang berisi hingga lima orang pasien.

Dari daftar di ruangan pasien Unit Pelayanan Farmasi ( UPF ) anak, RSUD Agoesdjam Ketapang, sebanyak 30 pasien DBD mendapat perawatan, 20 pasien dari Ketapang dan 10 berasal dari Kayong Utara.

"Memang banyak pasien anak-anak kena DBD, bahkan ada dari Kabupaten Kayong Utara (KKU) juga,’’ Kata salah satu perawat jaga singkat.

Sadikin (34), orang tua pasien DBD mengatakan, anaknya Shadiq, yang baru
berusia enam bulan sudah empat hari di opname di RSUD Agoesdjam Ketapang karena terserang DBD.

‘’Alhamdullilah kesehatan anak saya sekarang sudah mulai membaik. Hari sabtu
(10/11) (Kemarin Red) kata dokter anak saya sudah boleh pulang,’’ Kata Sadikin Sabtu (10/11) di di temuai di rumah sakit.

Sadikin mengatakan, pelayanan di RSUD Ketapang ini boleh dikatakan bagus, namun masalah air masih menjadi keluhan karena kran dalam kamar mandi di ruangan pasien sering macet.

“Pasien DBD anak-anak banyak masuk ke rumah sakit ini, bahkan kemarin pasien DBD sempat tidak kebagian kamar dan terpaksa berada dilorong luar kamar, sekarang ini sudah banyak yang pulang,’’ Ungkapnya.

Warga Desa Padu Banjar Kecamatan Simpang Hilir Kabupaten Kayong Utara ini mengungkapkan, ia jauh-jauh dari KKU membawa anaknya ke rumah sakit Ketapang ini agar cepat dapat penangganan medis karena di KKU belum ada rumah sakit. Sementara di KecamatanSimpang Hilir DBD mulai banyak menyerang anak-anak bahkan ada yang sampai meninggal dunia.

‘’ Di daerah saya kemarin saja, ada anak yang meninggal karena DBD. Karena tidak ada tindakan penanganan yang cepat, dan antisipsai dari pemda setempat untuk merespon penyakit DBD ini sangat lamban untuk melakukan pencegahan dini. Kita jadi kesal juga kalau seperti itu,’’ Katanya.

Hal yang sama juga diungkapkan Endang (35) ibu dari pasien bernama Riko (3,8 ) anaknya juga terserang DBD dan harus menjalani rawat inap di rumah sakit. Ia rela berdesakan dalam kamar pasien karena dalam satu kamar ada 5 pasien yang harus dirawat.

“Saya mengunakan Surat Keterangan Tanda Miskin (SKTM) agar biaya berobat anak saya bisa murah.Tapi masih juga agak mahal,’’ Kata Endang.

Direktur RSUD Agoesdjam Ketapang, Djoko Hartono saat dikonfirmasi tidak berada diruangnya.

‘’Bapak lagi tidak ada, dak tau kemana,’’ Kata salah satu stap.

Namun sebelumnya dia mengatakan, rumah sakit akan berusaha memberikan pelayanan yang maksimal kepada masyarakat. Kata dia sebisa mungkin pasien harus mendapatkan perawatan yang layak. "Kita akan tetap upayakan pelayanan yang baik. Tidak boleh ada pasien yang ditolak" katanya (Ali)

Puskesmas Harus Pro Aktif

Rustam Efendi (42) warga Kelurahan Kalinilam Kecamatan Delta Pawan meminta Puskesmas yang ada di Desa-Desa harus proaktif untuk memberikan penyuluhan terhadap penyakit DBD ini,sebab masih banyak masyarakat yang belum faham bagaimana cara untuk mencegah dan menangani demam berdarah.

‘’ Kita berharap puskesmas-puskesmas harus proaktif dan cepat tanggap masalah penyakit ini, jangan menunggu DBD ini mulai mewabah di lingkungan masyarakat dan menelan korban jiwa, baru bertindak,jika ada korban jiwa itu artinya sebuah kelalaian dari Dinas Kesehatan,’’ Kata Rustam Minggu (11/11/2012).

Rustam mengatakan, saat ini di Ketapang sering hujan, dimana penyebaran nyamuk demam berdarah
aedes aegypti populasinya semakin meningkat, karena air dari curah hujan tersebut bisa tergenang di mana saja, seperti batok kelapa, kolam-kolam kecil yang sudah tidak terawat maupun kaleng-kaleng bekas yang ada disekitar rumah.

‘’ Pemkab Ketapang jangan hanya bisa diam, jangan selalu beralasan tidak ada anggaran, sebelum banyak korban jiwa karena penyakit ini,sampai saat ini fogging- pun belum dilakukan,’’ katanya.( Ali ).

Baca   Juga  :

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini