Medan-Siantar Tiga Jam
Berbeda perjalanan Medan-Siantar naik bus PO Intra, bus yang akrab saat mendengar Kota Pematangsiantar.
Editor:
Budi Prasetyo
Laporan Wartawan Tribun Medan/ Adol Frian Rumaijuk
TRIBUNNEWS.COM , PEMATANGSIANTAR - Menikmati perjalanan selama tiga jam tentunya hal yang biasa dilakukan kebanyakan orang. Berbeda perjalanan Medan-Siantar naik bus PO Intra, bus yang akrab saat mendengar Kota Pematangsiantar.
Banyak bus lain yang melayani perjalanan Medan-Siantar, termasuk taksi. Hanya saja, yang pas untuk kocek nampaknya, ya Intra.
Dari Terminal Bus Amplas Medan, bus berangkat rutin sejak pagi. Kali ini aku ambil bus yang berangkat pukul 09.00 wib. Penumpang hampir penuh dengan 30 sit. Ada yang berangkat bersama keluarga, ada yang sendirian, dan beberapa anak-anak.
"Kemana bang?" ujar kondekturnya. "Siantar," sahutku. Mereka melakukan pendataan sebelum bus meluncur. Untuk laporan ke loket terminal dan administrasi.
Beberapa sit terlihat masih kosong. Bus pun meluncur, dan kondektur berikutnya mulai dari sit paling depan jalan perlahan sambil menyapa satu persatu penumpang. Tentunya bukan say hello, nagih ongkos tentunya. Karena yang saya tumpangi ini kelas ekonomi. Kalau naik kelas bisnis (Patas, sebutan bagi bus yang menggunakan layanan AC), ongkos dibayar di loket saat ambil tiket. Harganya Rp 25 ribu tujuan Siantar. Sedangkan bus ekonomi, dikenakan tarif Rp 18 ribu.
Bus melaju terus, beberapa penumpang dinaikkan. "Siantar, Tebing...," sahut kondektur.
Yah, walau kelas ekonomi, posisi duduk sudah nyaman juga. AC alami dari teriknya matahari langsung masuk ke dalam bus. Kaca sisi kanan dan kiri bus transparan. Panas matahari akan langsung menerpa para penumpang. Tak usah kahwatir, tirai dalam bus disediakan. Tinggal tarik saja.
Suasana panas, membuat penumpang sedikit berkeringat. Namun terlihat santai dengan suguhan musik dangdut dan beberapa lagu daerah tapanuli yang bernuansa dangdut dan regae.
Seperti biasanya, Jalan Lintas Sumatera (jalinsum) sat hari Minggu, banyak angkutan bermuatan besar melintas. Termasuk truk yang mengangkut berbagai jenis barang. Bus yang kutumpangi terus melejit, satu jam perjalanan kursi telah terisi penumpang. Kami telah berada di Desa Sei Buluh, Deli Serdang. Kini pemandangan memasuki areal perkebunan Kelapa Sawit milik PTPN IV.
Setiap penumpang yang baru naik, mendapat giliran berhadapan dengan kondektur mengutip ongkos.
Tak lama, tiba di Sei Rampah, tanaman sawit berubah jadi bangunan rumah toko di sisi kakan-kiri jalan. "Siantar, Tebing, Simpang dua...," teriak sang kondektur. Kini musik yang diputar lagu tembang kenangan, Nike Ardila.
Saat asyik dengar musik, jika ada yang lapar jangan kahwatir. Sebelum Kota Tebing Tinggi, pedagang lemang khas Tebing Tinggi akan tiba dihadapan para penumpang. "Lemang, lemang, lemang, tiga sepuluh ribu," ujar pria mengenakan kaos kuning itu.
Para pedagang asongan yang menenteng keranjang ditangannya, nampaknya telah bekerjasama dengan pihak bus. Tanpa mengurangi kenyamanan penumpang, mereka seramah mungkin menawarkan lemang.
"Simpang Masjid, SMA 2. Geser, geser," ujar Kondektur saat akan tiba di Kota Tebing Tinggi. Suasana masih pemandangan kebun sawit. Durasi perjalanan sekitar 2 jam, tiba di kota yang terkenal dengan kue kacang Rajawali ini. "Geser, geser, Simpang Beo," ujarnya lagi.
Tak terasa, perjalanan telah berujung di Kota Pematangsiantar. Kami pun selamat sampai tujuan.(afr / tribun-medan.com)
Baca Juga :
- Siapkan Kamar Nomor 13 untuk Nasrul Madin 2 menit lalu
- Tgk Aiyub dan Seorang Pengikutnya Dibakar Hidup-hidup. 13 menit lalu
- Gerak Jalan Ilham Dikaji Panwaslu Bone 30 menit lalu