Laporan Wartawan Tribun Kaltim, Syaiful Syafar
TRIBUNNEWS.COM, BALIKPAPAN - Belum adanya kepastian Pemerintah Indonesia mengenai status pengelolaan Blok Mahakam pasca tahun 2017 mendatang membuat pihak Total E&P Indonesia (TEPI) prihatin. Sejumlah rencana untuk mengimplementasi proyek baru dan menjalani sumur baru akhirnya menjadi tertahan karena ketidakpastian perpanjang kontrak TEPI di Blok tersebut.
"Perusahaan ini berjalan dengan baik dan bertekad untuk meneruskan semua kegiatan operasinya, sosial dan societal. Tetapi saat ini kami berada di titik balik," demikian dikemukakan Presiden Director & General Manager TEPI Elizabeth Proust, belum lama ini di Senipah, Kutai Kartanegara.
Elizabeth menganggap, status Blok Mahakam kian meruncing karena sudah disusupi kepentingan politik yang tidak menguntungkan industri minyak dan gas di Indonesia. Ia bahkan menolak jika keberadaan TEPI disebut sebagai perusahaan asing.
"Kami prihatin menghadapi debat politik tentang pihak asing versus nasional. Ini perusahaan Indonesia dan multinasional, bukan asing! Saya sedih mendengar kata asing. Tim TEPI kami adalah warga Indonesia dan mengabdi kepada Negara," tegasnya.
Menurut Elizabeth, minyak dan gas adalah usaha bisnis dunia, namun nilai-nilai TEPI selalu sejalan dengan semangat Indonesia, yakni mengedepankan prinsip kejujuran, saling mendukung, rendah hati dan ramah tamah.
Dia mencatat, ada 3.700 warga Indonesia yang bekerja di perusahaan tersebut. Jumlah itu ditambah dengan 125 pegawai multinasional, 107 pegawai Indonesia yang berada di luar negeri dan 20.000 karyawan yang bekerja setiap hari di instalasi TEPI.
Baca juga:
Baca tanpa iklan