TRIBUNNEWS.COM, SURABAYA - Polisi menduga sindikat perdagangan gadis yang dikendalikan Mami Merry merambah banyak kota. Incarannya gadis-gadis muda yang masih lugu.
Polisi menduga jaringan perdagangan gadis untuk prostitusi yang dikomandani Ny Merry tidak saja bercokol di Surabaya. Jaringan ini terbentang luas di berbagai kota di Tanah Air.
Tengara ini dari temuan polisi yang melakukan operasi penyelamatan Mita, gadis Surabaya yang tersekap satu setengah bulan di mess atau lebih tepat disebut tempat karantina milik Ny Merry.
Dalam operasi pembebasan itu, polisi mendapati empat perempuan muda lainnya asal Medan dan Subang.
Bersama Mita mereka disekap di ruko tiga lantai di perumahan kawasan Sukajadi.
”Satu perempuan yang berasal dari Medan ternyata masih di bawah umur. Usianya baru 14 tahun,” ujar Kanit PPA Satreskrim Polrestabes Surabaya AKP Sherly.
Bersama Mita, empat gadis luar Surabaya itu ikut dibebaskan. Keempatnya sudah dipulangkan ke daerah asal.
Dari informasi yang digali AKP Sherly, jaringan Mami Merry tersebar dari Medan, Surabaya, Bandung, Jakarta sampai kota-kota kecil di Jawa Barat.
Polisi menduga, di setiap kota itu Mami Merry menanam orang-orang kepercayaan dengan sistem komisi.
Incaran utamanya perempuan-perempuan lugu yang umumnya tinggal di kampung-kampung.
Di Surabaya misalnya, Mami Merry mempercayai tersangka Mak Tik. Dia sendiri membantah dituduh sebagai jaringan Mami Merry.
”Sampai saat ini, tersangka mengaku baru sekali menyediakan perempuan muda untuk dipekerjakan di bisnis Merry. Namun kami masih menyelidiki kemungkinan lain. Kami juga terus mendalami kasus ini terkait jaringan Mami Merry lainnya di Surabaya,” ujar Sherly lagi.
Hanya saja, polisi gagal menangkap satu pun para pelaku perdagangan manusia di Batam ini.
Mami Merry dan dua anaknya, yakni Sulin dan Edi, berhasil kabur. Edi mengelabui polisi yang menggerebek mess.
Dia keluar dari pintu belakang yang tidak diantisipasi polisi saat masuk ke mess.
Baca tanpa iklan