News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Pilkada Surabaya

Inilah Cerita di Balik Drama Menghilangnya Calon Wakil Wali Kota Surabaya Saat Mendaftar

Editor: Sugiyarto
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Dhimam Abror Djuraid

TRIBUNNEWS.COM, SURABAYA - Dalam sejarah hidup dan karir politiknya, inilah catatan yang tak bisa dilupakan oleh Dhimam Abror Djuraid.

Mantan jurnalis, mantan Ketua PWI Jatim dan kini menjadi Ketua Harian KONI Jatim yang gagal menjadi calon wali kota Surabaya dari gabungan Demokrat-PAN.

Kepada Surya, Abror merasakan bahwa semua tak terduga dan di luar nalarnya.

Bahkan, dirinya rela disebut orang yang plonga-plongo saat mendaftar sebagai calon wali kota tanpa ada pasangannya, Haries Purwoko, Ketua P3I dan Ketua Pemuda Pancasila Surabaya.

Abror sendirian selama dua jam menanti kembalinya Haries. Namun tetap saja kabur dari pencalonan wali kota.

"Situasinya lebih rumit dari yang diperkirakan. Saya berusaha menelpon Pak Haries, HP tak bisa dihubungi. Betapa paniknya saya waktu itu," kenang Abror.

Mantan Pimpred Surya dan Jawa Pos ini mengisahkan detik-detik menegangkan saat hilang kontak dengan Haries.

Apalagi pasangannya dalam pencalonan Pilwali itu lenyap begitu saja dari proses pendaftaran di KPU Surabaya.

"Sedianya, kami berangkat bersama dari Grahadi," kata Abror.

Namun, HP Haries tak aktif. Saat itu waktu sudah pukul 13.00. Saat itu Abror harus bertemu Sekjen sekaligus Ketua DPD Demokrat Jatim, Soekarwo.

Pertemuan itu disarankan DPP melalui Hinca Panjaitan. Pukul 08.00, Abror ditelpon langsung Hinca.

Namun Abror yang menemui Pakde Karwo tak bersama Haries. Sampai akhirnya harus melibatkan La Nyalla Mataliti, bosnya Haries untuk menghubunginya.

Sampai akhirnya pukul 15.30, Abror-Haries bertemu di KPU untuk mendaftar. Abror belum berpikir bahwa akan terjadi insiden di luar nalar. Haries tak segera duduk tengan di samping Abror.

Haries malah sibuk menelepon dan menerima telepon. Tiba-tiba, Haries pamit ke toilet.

Namun tak kembali dan malah kabur dari pendaftaran. "Tak akan saya lupakan dalam sejarah hidup ini. Tak ada yang menduga akan berakhir seperti ini," ucap Abror.

Saat ditanya, kenapa Haries memilih kabur, Abror belum menemukan jawabannya. Hanya Haries yang tahu persis.

Abror pun sampai saat ini belum menemukan keterangan kenapa pasangannya memilih kabur.

Apakah kaitannya dengan Pacitan? Calon Demokrat menjadi calon tunggal. PDIP, Golkar, dan Hanura yang menyandera Demokrat.

Sebaliknya, PDIP di Surabaya calon tunggal. Demokrat dan partai non-PDI ganti menyandera?

"Saya pun memilih meninggalkan KPU dan pamitan sama Ketua KPU Robiyan. Saya memilih pulang dan istirahat total di rumah. HP tak matikan," kata Abror.

Pascagagalnya pencalonan itu, Abror pun menghubungi Pakde Karwo kembali. Abror mengaku kembali komunikasi dengan Pakde Karwo.

Abror menyampaikan bahwa akan tetap berkomitmen maju dalam Pilwali 2017 jika didukung Pakde Karwo.

Saat ini, Abror menunggu keputusan KPU. Namun Abror akan pasrah kepada partai.

Sebagai calon, Abror kecewa dengan kinerja koalisi Majapahit. Sejumlah partai tak mengeluarkan rekom, sepeti Gerindra dan PKS.

"Sekarang saya akan lanjutkan kembali dengan tugas dan rutinitas saya. Tugas yang satu tuntas, lanjutkan tugas yang lain," kata Abror.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda

Berita Populer

Berita Terkini