"Nggak ada jalan lain selain di sini. Jembatan ini akses utama kami. Sampai malam ada saja yang lewat di sini nggak pernah berhenti. Hanya bisa jalan kaki, kendaraan tidak bisa lewat. Anak-anak sekolah banyak lewat sini mulai SD sampai SMA, nggak ada sekolah soalnya di dalam," katanya.
Tidak sedikit menurutnya warga yang terjatuh saat melintasinya.
Mengingat jembatan sangat curam akibat patah dan bergetar ketika dilintasi.
Terlebih ketika harus menahan beban yang lebih berat.
"Banyak juga yang jatuh, sampai ada yang patah tangan dan kakinya. Karena curam sekali, miring dan goyang kalau dilewati. Apalagi kalau bawa beban berat orangnya kadang kurang seimbang jadi jatuh," ungkapnya.
Usia jembatan itu menurutnya sudah lebih dari 20 tahun dan dibangun dari dana swadaya masyarakat.
Patah belasan tahun lalu ketika air Sungai Buleleng di bawahnya meluap dengan derasnya.
Sejak saat itu sampai kini tidak ada perbaikan yang dilakukan.
Sebulan lalu, warga swadaya dan terkumpul uang Rp 12,5 juta untuk membangun jembatan baru di sampingnya.
Namun baru membangun satu pondasi, pembangunan itu tidak dilanjutkan karena ketiadaan biaya.
"Baru dua minggu sudah macet pembangunan karena kami nggak ada biaya lagi. Inginnya ada bantuan biar bisa ada jembatan baru dan bisa dilewati kendaraan," ucapnya.
Baca tanpa iklan