Laporan wartawan Tribunsumsel.com, Slamet Teguh Rahayu
TRIBUNNEWS.COM, PALEMBANG - Puluhan kamera dengan berbagai jenis tampak di seputaran plataran Benteng Kuto Besak (BKB).
Berbagai macam lensa dengan berbagai ukuran, dari yang paling hingga yang terbesarpun menemani kamera milik para fotografer ini.
Berikut dengan tiang penyangga kamera, agar mereka tak lelah memegangi peralatannya yang cukup berat itu.
Bukan tanpa alasan hal ini semua dipersiapkan.
Para fotografer dari berbagai usia ini, baik dari dalam maupun luar negeri datang dan menyiapkan peralatan itu untuk mengabadikan momen Gerhana Matahari Total (GMT) yang melintasi langit kota Palembang.
Namun sayang, semua modal dan usaha yang telah disiapkan oleh para pencinta dunia foto ini tak terbayar lunas.
Pasalnya, GMT yang terjadi, tertutup oleh awan mendung dan asap, sehingga proses GMT tak terlalu indah untuk diabadikan.
Hal ini tentu membuat sedikit kecewa para fotografer. Apa yang terjadi tak sesuai dengan ekspektasi yang digembar-gemborkan selama ini.
Rasa kecewapun sedikit menghampiri Puja.
Perjuangannya menempuh perjalanan dari Muara Enim ke Palembang ternyata tak terlalu membuahkan hasil.
Hal itu karena selama proses terjadi GMT tersebut, ia tak terlalu mendapatkan angle yang memadai.
"Sedikit kecewa sih. Tapi namanya alam, tidak bisa diprediksi. Saya ini dari Muara Enim hari senin, dan di Palembang numpang nginep dirumah teman," ujarnya saat dibincangi Tribunsumsel, Rabu (9/3/2016).
Tak hanya itu perjuangan Puja ini. Untuk melihat keindahan yang belum tentu terulang lagi ini, iapun sudah datang ke pltaran BKB sejak pukul 03.00 dinihari.
Hal itu dimaksudkan agar ia memperoleh spot yang bagus untuk memfoto.
Baca tanpa iklan