News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Warga Keluhkan Pembangunan Akses Jalan Dua ke Kawasan Teknopolis

Penulis: Teuku Muhammad Guci Syaifudin
Editor: Y Gustaman
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Truk tronton menurunkan tanah di lokasi pengurukan tanah di wilayah RW 1 Kelurahan Rancanumpang, Kecamatan Gedebage, Kota Bandung, Jawa Barat, Minggu (10/4/2016). Warga memprotes kegiatan pengurukan akses jalan 2 menuju kawasan pembangunan kota modern berlabel teknopolis lantaran berdampak buruk bagi warga dan pengguna jalan. TRIBUN JABAR/TEUKU MUH GUCI S

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Teuku Muh Guci S

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Warga Kelurahan Rancanumpang, Gedebage, Kota Bandung, memprotes pengurukan akses jalan 2 menuju kawasan pembangunan kota modern berlabel teknopolis.

Sebab pengurukan yang dimulai Rabu (6/4/2016) itu berdampak buruk bagi warga dan pengguna jalan, karena banyak truk tronton berbadan besar membawa tanah masuk keluar lokasi.

"Truk-truk itu lewatnya Jalan Gedebage Selatan yang sekarang sudah mulai hidup karena banyak warga yang menggunakan jalan itu. Makanya yang tadinya di lokasi itu sepi, sekarang sering macet," ujar Jajang Gempur (35), warga setempat, Minggu (10/4/2016).

Pengembang kawasan teknopolis tidak memberikan tanda peringatan terhadap pengguna jalan. Truk tronton tersebut kerap membawa lumpur, akibatnya banyak tanah kering menempel di permukaan jalan menuju kawasan proyek tersebut.

"Kalau hujan pasti jalan jadi licin. Kalau kering jadi debu sehingga mengganggu kesehatan warga sekitar. Mereka tidak memperhatikan hal ini. Dua warga kami sudah jatuh akibat jalannya licin karena lumpur yang menempel di ruas jalan," ujar Jajang.

Warga lain, Dadang Sudirman, mengatakan ketebalan lumpur yang berserakan di ruas jalan yang dilewati truk bisa mencapai dua sentimeter. Lebih parah jika terjadi hujan.

"Sebetulnya sempat kami hentikan karena mereka tidak ada pemberitahuan soal pengurukan. Akhirnya mereka melakukan pertemuan dengan pengurus RT dan RW. Namun upaya mereka mengatasi lumpur dan lalu lintas kurang maksimal. Mereka hanya menaruh tiga orang untuk pengaturan lalu lintas dan membersihkan lumpur," ujar Dadang.

Warga hanya mengizinkan pengurukan tanah hingga 10 hari ke depan. Untuk berikutnya warga meminta pengembang tidak harus memerhatikan lingkungan sebelum melakukan pengurukan lagi.

"Atas dasar kemanusiaan warga sekitar mengizinkan pengembang melakukan pengerjaan mencapai 8000 meter kubik. Tapi informasinya mereka akan melakukan pengurukan lagi dengan melibatkan lima perusahaan sub kontraktor. Bayangkan kalau satu kontraktor punya 30 sampai 50 truk, pasti arus lalu lintas sibuk dan kotornya lokasi proyek," ujar Dadang.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini